Beksan Guntur segara merupakan salah satu Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang masih hidup hingga sekarang. Tarian in merupakan karya dari Sri Sultan Hamengkubuana I sekitar tahun 1700an. Beliau yang merupakan seorang militer dan pencinta seni menggunakan media seni tari sebagia sarana latihan kedisiplinan untuk para prajurit Kraton. Karakter pada Beksan Guntur Segara sangat menggambarkan karakter yang kuat, disiplin dan lugas. Beksan Guntur sega menceritakan kisah Raden Joyoseno dari kerajaan Jenggala dalam misinya membuktikan diri bahwa dia adalah pangeran kerajaan Jenggala. Akhirnya Joyoseno harus membuktikan dir dengan bertarung dengan pangeran Jenggala yang lain bernama Raden Guntur Segara. Pertarungan terjadi namun kedua pihak tidak ada yang menang ataupun kalah dan akhirnya Raden Joyoseno diakui sebagai pangeran Jenggala. Yang menjadi ciri khas dari tarian ini adalah ragam gerak yang disebut "Kambeng" dimana ragam tersebut merupakan bentuk gerakan...
Tari Klana Topeng Alus adalah tari tunggal putra yang merupakan salah satu jenis tari Klasik gaya Yogyakarta. Sesuai namanya tarian ini menggunakan topeng sebagai properti utama. Karater yang ditampilkan adalah tokoh Raden Panji Gunungsari, diambil dari cerita Panji atau Wayang Gedog. Karekter yang ditunjukan merupakan tokoh pangeran yang halus dan gerakanya hati-hati namun sesekali dinamis. dikisahkan dalam tarian ini yaitu Raden Panji Gunungsari yang sedang jatuh cinta kepada Putri Ragil Kuning. Sesuai dengan karakter tari topeng gaya Yogyakarta ada gerakan menjadi ciri khas yaitu ogek lambung dan Nyepak Wiron. M eski terkesan agak kasar namun dua gerakan itu yang membedalkan tari topeng dengan tari klasik gaya Yogyakarta yang lainnya. Kostum yang dipakai adalah: 1. Irah-irahan tekes 2. Kulitan: Sumping, Kelat bahu, kalung 3. Celana Panji 4. Kain Jarik parang gendreh 5. sampur cindhe dan sampur nglana 6. ker...
Pada tanggal2 Oktober 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menyelenggarakan acara ‘Seminar dan Festival Budaya Saman 2018’. Bertemakan "Saman dalam Spektrum Pengetahuan” dengan pembicara Dr. Sal Mugiyanto ( Pakar Petunjukan Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta), H. Ali Husin. SH ( Ketua DPRK Gayo Lues), Dr.Nyak Ina Raseuki (Etnomusikologi, Program Pasca Sarjana IKJ), Aminnulah, M.Ak ( Pengajar Saman, Duta Saman Institue Jakarta), Dr. Rajab Bahry ( Pakar Saman, Prodi bahasa Indonesia, FKIP Unsiyah, Aceh, Dr. Lono Simatupang ( Antropolog, pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Budaya, UGM Yogyakarta), H. Muhammad Amru, MSP ( Bupati Gayo Lues) dan Mukhsin Putra Hafid, M.A ( Peneliti Saman, Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, FKIP Unisyah, Aceh. Seminar kali ini ditujukan untuk melestarikan tari Saman yang berasal dari Kabupaten Gayo dan ternyata saya baru tahu kalau tari Saman itu hanya di tarikan...
Topeng Sidhakrya atau Topeng Dalem Sidhakarya adalah sebuah pertunjukan tari topeng sakral yang selalu ditampilkan di akhir suatu Yadnya atau upacara keagamaan Hindu. Arti kata Sidhakarya sendiri berarti "karya yang terjadi" atau karya/upacara/harapan yang dilaksanakan dapat sukses. Itulah sebabnya tarian ini selalu jadi penutup upacara sebagai pelunas upacara yang diadakan. Dalam pementasan Topeng Sidhakarya, penari akan melantunkan mantra-mantra dan wejangan. Selain itu penari akan melemparkan beras ke arah 4 mata angin dan yang hadir di upacara tersebut. Hal itu dilakukan sebagai ungkap syukur kepada Tuhan dan memberi berkah pada yang menyaksikan. Karakter Topeng Dalem Sidhakarya sendiri merupakan figur dari seorang Resi bernama Brahmana Keling yang berasal dari Jawa. Beliau datang ke Bali untuk menemui Raja Waturenggong yang sebenarnya merupakan saudaraBrahmana Keling sendiri. Namun melihat fisik yang jelek dan pakaian lusuh, Brahmana Keling ditolak dan tidak diakui oeh Raja...
Tarian tradisional ini merupakan tari pergaulan dan sangat identik dengan kaum muda-mudi. Tarian yang juga sering dipentaskan di Minahasa Sulawesi Utara ini sering dijadikan media untuk mencari pasangan hidup. Oleh sebab itu, Tari Lenso (selendang) sering dipentaskan di keramaian seperti acara penikahan atau tahun baru. Jumlah penarinya biasanya berjumlah 6 sampai 10 orang. Musik pengiringnya antara lain tambur minahasa, suling, kolintang, dan tetengkoren. Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/wp-content/uploads/images/source/rudisandjaya/5-Medley-Tari-Lenso.jpg http://belindomag.nl/id/seni-budaya/5-tarian-khas-maluku
Tarian Mejeng Besuko ini merupakan salah satu tarian yang berasal dari Sumatera Selatan, Dimana seperti yang kita tahu dalam halnya tarian pastilah memiliki beberapa makna yang tidak jauh berbeda dari provinsinya masing-masing, begitu juga dengan halnya tarian yang berasal dari provinsi ini sendiri, pasti tidak ada perbedaan menjauh dari beberapa falsafat yang ada pada provinsi ini sendiri sehingga kita tahu sendiri terciptalah sebuah tarian yang ada pada zaman sekarang ini dan sangat erat hubungannya dengan masa pada zaman yang dahulu kala mengenai tarian-tarian ini sendiri dengan asal dari daerahnya. Tarian ini merupakan tarian salah satu tradisional dari Sumatera Selatan. Dimana tarian ini menggambarkan kebahagiaan para remaja dalam suatu pertemuan ataupun perjodohan yang biasanya dilakukan. Dalam tarian ini sendiri pun dapat kita lihat dengan saksama dan juga jelas bahwa gerakan yang gemulai yang menggambarkan suasana senda gurau para remaja dalam mengikat ketertarikan lawan...
Huda-Huda merupakan tarian yang diperlihatkan hanya di saat upacara kematian bagi orang yang telah lanjut usia di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Tujuannya adalah untuk menghibur keluarga serta sebagai hiburan bagi para pelayat.Namun dalam perkembangan tarian ini, pada awalnya hanya digunakan oleh pihak keluarga kerajaan. Tetapi kemudian berkembang dan dipakai pula oleh masyarakat Simalungan dari berbagai kelas sosial. Tarian ini munculnya ketika anak tunggal dari sebuah keluarga kerajaan wafat. Seorang permaisuri yang merupakan ibu dari anak tersebut sangat mengalami kesedihan yang berkelanjutan. Kesedihan ini berlanjut hingga sang permasuri tidak rela anaknya dimakamkan. Semakin lama, perasaan sang permaisuri tidak pernah berubah dan tetap saja murung. Akhirnya berita ini pun sampai juga di telinga masyarakat kerajaan tersebut. Untuk dapat membuat permasuri gembira, masyarakat pun terus memikirkan berbagai cara agar dapat menghibur sang permaisuri dan tidak terus menerus...
Tari Kondan merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kalimantan Barat. Tarian ini adalah tari pergaulan yang diiringi oleh pantun dan musik tradisional masyarakat Dayak Kabupaten sanggau Kapuas. Tari Kondan bertujuan sebagai ucapan kebahagiaan terhadap tamu yang berkunjung dan bermalam di daerahnya dengan melakukan tarian bersama dan berbalas pantun. Tarian ini biasanya sering digunakan dalam beberapa acara seperti pernikahan, acara adat istiadat ataupun acara keagamaan serta ritual. Sumber: http://berita.baca.co.id/16258805?origin=relative&pageId=6ae97211-acf7-46d4-8114-701eaff9f31a&PageIndex=2
Jeppeng begitu orang Bugis menyebutnya. Tarian ini masih bisa kita jumpai di Pare-Pare 10 tahun yang lalu, yang ditarikan oleh anak anak, dan mendapat aplaus yang meriah ketika ditampilkan di Festival Zapin Nusantara II di Johor Bahru Malaysia tahun 2008. Seiring dengan waktu penari jeppeng khas masyarakat Bugis semakin susah untuk di temukan. Padahal beberapa tahun lalu sempat masuk Musium Rekor Indonesia dengan Penari Jeppeng terbanyak. Tahun lalu ketika Festival Zapin di Riau hanya di hadiri oleh dua orang Penari. Semoga kedepannya tarian ini tetap bertahan dan menjadi kebanggaan masyarakat Pare-Pare.