Sesenggak merupakan karya lisan atau yang dikenal juga dengan pribahasa yang dimiliki oleh suku Sasak, Lombok. Suku sasak biasanya menggunakan sesengggak sasak sebagai bentuk penyampaian atau mengekspresikan hal-hal penting dengan cara yang baik. Contoh dari sesenggak sasak: Buaq ate kembang mate "Buah hati kembang mata" Alus-alus tain jaran "Ramah dalam bersikap namun ada maksud lain dalam hatinya" Beriuk tinjal ngumbang surak "Bergotong royong untuk kepentingan bersama". sumber: http://murdiah-lombok.blogspot.com/
Mpa'a Kabanca atau Mpa'a Kabhanca adalah tradisi unik di Bima yang melibatkan atraksi di atas kuda yang dulunya berkembang di wilayah Timur Bima (Sape-Lambu). Dalam tradisi ini, peserta saling mengejek dengan cara saling memperlihatkan kemampuan dan kemahiran mereka dalam mengendalikan kuda sambil melakukan berbagai atraksi; memancing lawan. Setelah beberapa saat, dilanjutkan dengan usaha saling menjatuhkan lawan dari kudanya dengan bantuan fisik langsung maupun menggunakan bantuan tongkat tombak. Umumnya, sasaran yang boleh disentuh menggunakan tongkat tombak hanya di wilayah di bawah leher hingga ke pinggang, atau yang terlindungi oleh pakaian pelindung khusus yang terbuat dari kulit dan atau baju jirah yang terbuat dari rantai besi kecil yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi baju jirah. Namun di beberapa kasus tertentu, jika ada kesepakatan yang lebih ekstrim di antara kedua pihak, maka keduanya sama-sama tidak akan menggunakan alat pelindung, juga lokasi sasaran bisa ke sel...
MAKA merupakan salah satu tradisi sakral dalam budaya Bima. Tradisi ini berupa ikrar kesetiaan kepada raja/sultan atau pemimpin, sebagai wujud bahwa ia bersumpah akan melindungi, mengharumkan dan menjaga kehormatan Dou Labo Dana Mbojo (bangsa dan tanah air). Gerakan utamanya adalah mengacungkan keris yang terhunus ke udara sambil mengucapkan sumpah kesetiaan. Berikut adalah teks inti sumpah prajurit Bima: "Tas Rumae… Wadu si ma tapa, wadu di mambi’a. Sura wa’ura londo parenta Sara." "Yang mulia tuanku...Jika batu yang menghadang, batu yang akan pecah, jika perintah pemerintah (atasan) telah dikeluarkan (diturunkan)." Tradisi MAKA dalam Budaya Bima dilakukan dalam dua momen: Saat seorang anak laki-laki selesai menjalani upacara Compo Sampari (ritual upacara kedewasaan anak laki-laki Bima), disebut juga MPISI (untuk membedakannya dengan MAKA; sumpah prajurit) sebagai simbol bahwa ia siap membela tanah air di berbagai bidang yang digelutinya. Seharusnya dilaku...