Ari-ari atau plasenta yang biasanya di daerah Bali lainnya akan dikubur dihalaman pekarangan rumah, namun di Desa Bayung Gede, plasenta tersebut digantungkan disatu tempat khusus. Hal ini diyakini untuk tetap menjaga kesucian Ibu Pertiwi (tanah), sehingga sangat dihindari untuk mengubur Ari-ari (plasenta) tersebut. Bukti sembah bakti kepada Ibu Pertiwi oleh Masyarakat Bayung Gede ditunjukan dengan menjaga pekarangan dari menanam hal yang dianggap kotor agar tidak leteh (mengotori halaman). Sebagai desa Bali Aga, Desa Bayung Gede dengan tradisi ini juga diyakini karena memang merupakan warisan budaya dari leluhur sebelumnya yang memang memiliki aturan Uluapad dan tidak terkena pengaruh orang-orang Majapahit pada masa lalu. Selain dari nilai Budaya, ternyata keberadaan Ari-ari megantung memberikan nilai ekonomi bagi Desa Bayung Gede yang menjadi desa wisata. https://twitter.com/BudayaIraga
Di Bali tidak semua desa menggelar tradisi atau ritual tersebut, namun demikian Mepeed tentunya bukan sesuatu hal baru lagi. Semeton bisa menyaksikan Tradisi Mepeed di Sukawati tentunya harus pada waktu yang tepat karena ritual tersebut hanya digelar setiap 6 bulan sekali, dan dalam rangkaian pujawali atau piodalan di Pura Dalem Gede Sukawati yang jatuh setiap Anggara Kliwon, wuku Tambir (kalender Bali). Menurut penduduk setempat yang sudah pernah terlibat dalam Tradisi Mepeed, pada saat berlangsungnya tradisi ini mereka selalu merasakan kegembiraan karena menurut mereka Tradisi Mepeed ini merupakan bentuk sujud bhakti kepada Hyang Widhi atas segala sesuatu yang diberikan beliau kepada Desa Sukawati dan untuk mempertahankan busana adat bali dengan pakem Desa Sukawati. Selain itu dalam rangkaian upacara pujawali Pura Dalem Gede Sukawati, tradisi Mepeed ini bertujuan untuk nunas toya (air suci) ke Beji Cengengan untuk digunakan pada saat berlangsungnya pujawali. https://twitter.c...
Monuni merupakan suatu bentuk rangkaian ritual adat menempatkan seorang bayi dalam buaian atau ayunan. Tradisi ini dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Buol, yang hingga saat ini masih terus dipertahankan. Maksud dan tujuan pelaksanaan adat Monuni yaitu sebagai bentuk harapan kepada sang anak agar mendapatkan kehidupan yang baik dan dijauhkan dari setiap masalah serta marabahaya. Secara khusus, harapan upacara ini dilaksanakan untuk menghindari hal-hal buruk seperti penyakit.
Upacara adat moduai merupakan upacara yang dilaksanakan dalam rangka penyambutan tamu yang dilakukan oleh serombongan penjemput tamu yang terdiri atas pemuka-pemuka masyarakat dan ketua adat serta seorang putri yang dilengkapi dengan perlengkapan adat. Tamu disambut oleh rombongan adat penjemput dengan menyerahkan dauda-bitu untuk dipegang oleh tamu sambil dipayungi dengan payung adat. Kemudian tamu diajak berjalan perlahan-lahan serta disambut dengan cakalele yang dalam bahasa Tolitoli disebut maragai, dan diiringi dengan pukulan kulintang masarama sampai ke depan pintu gerbang istana (gedung/tempat pertemuan). Setelah itu seluruh rombongan beserta penjemput dan iringan maragai berhenti di depan tangga upacara adat yang disebut ondandiapala. Di sini para tamu dihambur dengan beras kuning disertai dengan kata-kata penyambutan tertentu dalam bahasa Tolitoli. https://twitter.com/yakubudaya
Mandura merupakan tradisi masyarakat Kampung Baru, Kota Palu, yang sudah secara turun temurun dilaksanakan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sepekan setelah 1 Syawal. Mandura sendiri merupakan makanan khas suku kaili yang terbuat dari beras ketan dengan tiga warna yaitu hitam, putih dan merah, dibungkus daun pisang, kemudian dimasak. Dalam tradisi ini, masyarakat akan menyiapkan ratusan mandura untuk disusun membentuk piramida. Selain itu juga diberi tandu untuk dapat diangkat dan diarak. Mandura yang sudah disusun membentuk piramida itu kemudian diarak beramai-ramai. https://twitter.com/yakubudaya
Tradisi ini berbeda dengan silaturahmi yang diadakan di daerah-daerah lain di Indonesia. Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah adanya penjadwalan baik yang mengunjungi maupun yang dikunjungi selama lebaran. https://twitter.com/yakubudaya
Ndengu-ndengu merupakan tradisi masyarakat Bungku yang hanya bisa dijumpai ketika Bulan Ramadhan tiba Ndengu-ndengu sendiri adalah sebuah menara yang umumnya berukuran kira-kira 2×3 meter, dengan ketinggian mulai dari 5 meter sampai ada yang 20 meter dengan pondasi dasar berupa batang bambu. Biasanya dibangun di halaman masjid ataupun di belakang pemukiman penduduk. Di dalam bangunan ndengu-ndengu, berbagai instrumen alat musik seperti gendang, gong, gamelan, bambu dll telah dipersiapkan. Hal ini sendiri sesuai dengan gungsi ndengu-ndengu yaitu membangunkan masyarakat sekitar ketika waktu sahur tiba. https://twitter.com/yakubudaya
Pompaura dalam Bahasa Indonesia artinya mengembalikan. Sedangkan Posunu artinya menggeser, menyingkirkan, atau membersihkan. Dan Rumpu artinya kotoran. Secara harfiah Pompaura Posunu Rumpu bisa diartikan menyingkirkan atau membersihkan kotoran dan mengembalikan kepada pemilik-Nya. https://twitter.com/yakubudaya
Sando Ngapang merupakan upacara tradisional masyarakat dampelas yang biasanya dilakukan setahun sekali, dengan tujuan untuk berdamai dengan segala kesialan, nasib buruk, dan memberikan keselamatan dalam menjalani hidup.