Dalem Joyodipuran terletak di jalan Brigjen Katamso 139 Yogyakarta. Dalem Jayadipuran merupakan sebuah bangunan rumah Jawa klasik yang berbentuk limasan. Pada mulanya rumah ini bernama Dalem Dipowimolo sesuai dengan pemiliknya, KRT. Dipowimolo. Setelah KRT. Dipowimolo meninggal bangunan rumah ini oleh Sri Sultan HB VII, kemudian dihadiahkan kepada menantunya yang bernama KRT Yosodipuro yang dikenal sebagai seniman serba bisa. Sejak bangunan ini dihadiahkan kepada KRT Yosodipura, maka kemudian rumah ini dikenal dengan nama Dalem Yosodipuran. Setelah berulang kali terjadi pergantian kepemilikan dan penghuni akhirnya sebagai pemilik terakhir bangunan beserta tanah Dalem Yosodipuran adalah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang difungsikan sebagai Kantor BPSNT Yogyakarta. Peranan Dalem Yosodipuran : 29 Mei - 3 Juni 1919 sebagai tempat kongres Jong Java 23 - 27 Mei 1923 kongres Jong Java II 22 - 25 Desember 1928 Kongres Perempuan Indonesia
Klebun merupakan rumah tradisional yang ditempati oleh pamong desa di Kabupaten Pamekasan. Kompleks rumah ini terletak di perbukitan yang penuh dengan tanaman jeruk. Bangunan yang berada di dalam kompleks ini ada langgar, kamar mandi, dapur, tempat cuci, kantor, pendopo, rumah tinggal lenglin, lumbung, rumah tinggal anak, tempat memandikan anak, pelatara. Tipologi rumah klebun atap yang dipakai adalah pigun dan dindingnya bata putih. Adapun bentuk pintu pada bangunan tersebut pintu depan terbuka dan belakang tertutup. Dari susunan ruangan di tribun depan berupa campuran dari belerang yang tertutup dengan satu pintu. Fungsi tiap-tiap ruangan teras depan (emperan) untuk menerima tamu atau tempat duduk tamu dan teras belakang untuk tempat tidur. Dalam ruangan ada 4 tiang utama penyangga atap rumah yang berbentuk pigura. Apabila keluarga ini anaknya sudah kawin, maka didirikan rumah disamping timur yang tdk berdampit. Kemudian belakang rumah berjejer ada dapur, lumbung, langgar dan kamar...
Bagi masyarakat Gowa Barugaya memiliki arti "milik kita". Lebih jelasnya Barugaya merupakan salah satu bangunan yang digunakan sebagai tempat bersosialisasi, berinteraksi antara satu penduduk Gowa dengan penduduk lainnya. Di Jawa, Barugaya dapat diartikan sebagai Pendopo, atau lebih luas lagi dapat pula disebut sebagai Balai Desa. Karena rumah ini difungsikan sebagai ruang sosialisasi dan berkumpul, Barugaya memiliki bentuk, luas dan lebar bangunan yang lebih besar dari pada rumah adat Gowa pada umumnya, selain kediaman raja tentunya. Barugaya memiliki tiga gelombang dalam sibalaja, yang menandakan bahwa bangunan tersebut tersedia untuk semua kalangan, terlebih rakyat biasa (lihat rumah adat). Namun demikian, dalam Barugaya juga sangat lekat dengan simbol-simbol kekuasaan raja, seperti terdapat adanya bala'babenteng (kain merah) yang senantiasa diikatkan pada setiap tiang penyangga bangunan. Bala'babenteng adalah semacam simbol dalam arsitektur rumah adat Gowa, yang menandak...
https://www.si.edu/object/ruins-low-jonggrau-siva-hindu-god-destruction-reproduction-temple-complex-central-temple-man-costume:siris_arc_63830?page=8&edan_q=indonesian&destination=/search/collection-images&searchResults=1&id=siris_arc_63830
https://www.si.edu/object/ruins-chandi-siva-hindu-temple-complex-9th-century-ad-central-shrine-stone-chapel-1896:siris_arc_63818?page=8&edan_q=indonesian&destination=/search/collection-images&searchResults=1&id=siris_arc_63818
https://www.si.edu/object/ruins-borobudur-buddhist-monument-9th-century-ad-fallen-head-buddha-under-corbelled-arch-central:siris_arc_63808?page=8&edan_q=indonesian&destination=/search/collection-images&searchResults=1&id=siris_arc_63808
Kubur Nggerang terletak di Desa Ndoso Kecamatan Ndoso Kabupaten Manggarai Barat. Kubur ini merupakan peristirahatan terakhir bagi Wela Loe. Menurut penuturan masyarakat lokal, Wela Loe adalah seorang gadis di daerahnya. Kecantikannya tidak tertandingi oleh siapa pun. Dia menjadi primadona dan menjadi rebutan raja Todo dan raja Bima untuk dijadikan permaisuri. Kedua Raja tersebut tidak ada yang mau mengalah, dan jalan tengah yang diambil adalah menghabisi nyawa Wela Loe. Kulit perutnya diambil untuk dijadikan gendang yang disebut Gendang Loke Nggerang dan sampai saat ini gendang tersebut masih tersimpan baik di Rumah Adat Todo di Kecamatan Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai. Saat ini kuburan Nggerang sudah dibangun pelindung berupa rumah permanen. https://wisata.manggaraibaratkab.go.id/listing/kubur-tua-nggerang/
Rumah adat Pacar Pu’u adalah salah satu rumah adat orang manggarai yang masih eksis. Tak jauh dari rumah adat ini terdapat sebuah goa yang dulunya dijadikan benteng perang dengan nama Benteng Tinggil, dimana masih terdapat beberapa senjata kuno peninggalan masa perang dan salah satu pahlawan lokal Manggarai yang berasal dari daerah ini sangat terkenal menentang penjajahan bernama Macang Pacar, kini namanya diabadikan sebagai nama kecamatan untuk mengenang sekaligus sebagai penghargaan atas jasahnya dalam menentang penjajahan. https://wisata.manggaraibaratkab.go.id/listing/rumah-adat-pacar-puu/
Rumah Kaki Seribu adalah rumah adat asli dari penduduk Suku Arfak yang menetap di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Rumah adat tersebut dijuluki demikian karena menggunakan banyak tiang penyangga di bawahnya, sehingga jika dilihat memiliki banyak kaki seperti hewan kaki seribu.