Bahan-bahan : 250 gram Tempe 150 gram gula pasir 1 sdt margarin 1 sdt sprinkles untuk topping (optional) Cara Membuat: Potong2 tempe dgn ukuran kecil menyerupai biji kacang, lalu goreng hingga caring, sisihkan Buat karamel di teflon/wajan; dengan mencampurkan sedikit margarin, diaduk2 hingga gula mencair seluruhnya, hati2 gosong. Kemudian pindahkan teflon/wajan dari kompor agar karamel tidak gosong, masukkan tempe goreng aduk cepat hingga rata Lalu cetak Ting-Ting dalam cetakan es batu, (Jika tidak ada, bisa diratakan dalam loyang yang beralaskan dan pisang, jika kering batu dipotong-potong sesuai selera), lalu taburi sprinkles sebagai topping, biarkan hingga dingin dan mengeras Jika sudah dingin, keluarkan dari cetakan dengan cara dihentak2 kan pelan2 ke wadah/nampan/ataupun tempat rata lainnya. Selamat mencoba sumber: https://cookpad.com/id/resep/16290699-ting-ting-tempe?ref=search&search_term=tengteng
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
Panduan Praktis Memahami dan Memainkan Angklung Jawa Barat Angklung merupakan alat musik tradisional multitonal yang menjadi identitas budaya Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda (Sumber 1, 6, 7). Terbuat dari bambu, instrumen ini menghasilkan bunyi yang khas melalui getaran dan telah menjadi simbol kebudayaan Indonesia yang dikenal hingga mancanegara (Sumber 3, 5). Keunikan angklung terletak pada konsep "multitonal" atau bernada ganda, di mana satu instrumen menghasilkan dua nada berbeda secara bersamaan ketika digoyangkan (Sumber 7). Sebagai alat musik yang berkembang di Bumi Priangan (Sumber 2), angklung memiliki sejarah panjang sejak zaman dahulu dan awalnya sering digunakan dalam berbagai upacara adat serta pertanian (Sumber 3). Berbeda dengan instrumen tiup atau petik, angklung dimainkan dengan cara digetarkan sehingga memerlukan teknik khusus dalam penggunaannya, baik secara individu maupun dalam format orkestra yang melibatkan banyak pemain (Sumber 6). Karakt...
Sasando: Senar yang Menyusun Jaring Waktu di Rote Bagaimana mungkin sebuah instrumen yang tampak rapuh—hanya segeumpal daun lontar yang mengelilingi bilah kayu—mampu menghasilkan getaran suara yang menembus batas antara dunia materi dan spiritual? Di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sasando hadir sebagai jawaban atas pertanyaan retoris tersebut, bukan sekadar sebagai alat musik, melainkan sebagai medium dialog antara leluhur dan generasi kini. Dalam bentuknya yang organik, terkandung sebuah sistem filosofis tentang hubungan manusia dengan alam, di mana setiap senar yang direntangkan bukan hanya menghasilkan nada, tetapi juga menyimpan narasi sejarah peradaban maritim di ujung timur Indonesia. Arsitektur Akustik dari Alam Keunikan sasando tidak terletak pada kompleksitas teknis semata, melainkan pada kesederhanaan yang sarat filosofi. Instrumen ini terdiri dari bilah kayu melengkung yang dililiti daun lontar kering, menciptakan bentuk yang mirip dengan kipas terbalik atau seten...
Angklung Jawa Barat Angklung merupakan instrumen musik tradisional yang secara spesifik berasal dari Jawa Barat dan telah menjadi simbol identitas budaya masyarakat Sunda. Instrumen ini dibuat dari tabung-tabung bambu yang dirakit pada sebuah rangka bambu, menciptakan karakteristik bunyi yang unik dan khas ketika dimainkan (Sumber 4). Keberadaannya dalam sejarah budaya Nusantara telah mencakup rentang waktu yang sangat panjang, dengan bukti penggunaan yang dapat ditelusuri kembali ke periode abad ke-12 hingga abad ke-16 Masehi, menunjukkan kedalaman akar historis instrumen ini dalam kehidupan masyarakat Sunda (Sumber 2). Asal-Usul Asal-usul angklung secara geografis dan kultural terletak di wilayah Jawa Barat, Indonesia, yang menjadi pusat utama penyebaran dan pengembangan instrumen tradisional ini (Sumber 2, Sumber 4). Berdasarkan catatan historis yang tersedia, tradisi penggunaan angklung dalam masyarakat Sunda telah berlangsung sejak periode abad ke-12 hingga ke-16 Masehi, me...
Sasando: Nada Abad ke-7 Rote Bergema di Basel Identitas dan Asal-Usul Sasando merupakan alat musik tradisional berdawai dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yang dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari [S1], [S2]. Alat musik ini memiliki keunikan identitas linguistik, dikenal dengan nama "Sasandu" dalam bahasa lokal Rote, sementara dalam bahasa Kupang disebut "Sasando" [S1]. Penamaan ganda ini mencerminkan penyebaran dan adaptasi budaya instrumen tersebut di wilayah pesisir dan kepulauan sekitar Rote. Akar sejarah Sasando sangat tua, tertanam kuat dalam tradisi lisan masyarakat Rote. Eksistensinya ditelusuri telah digunakan di kalangan masyarakat setempat sejak abad ke-7 [S1], [S5]. Narasi asal-usulnya yang paling kuat bersumber dari cerita rakyat mengenai seorang pemuda bernama Sangguana yang terdampar di Pulau Ndana dan menciptakan alat musik ini untuk memikat hati seorang putri raja [S1], [S4]. Legenda ini bukan sekadar dongeng, tetapi menjadi doku...
Sasando: Kisah Cinta di Balik Melodi Nusa Rote Identitas dan Asal-Usul Sasando merupakan alat musik tradisional berdawai yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) [S1][S4][S5]. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari-jari tangan, menghasilkan melodi yang khas [S1]. Keberadaannya sebagai ikon budaya NTT tidak hanya bertahan di tengah arus modernisasi, tetapi juga memiliki daya pikat magis yang sulit ditandingi oleh instrumen modern [S3]. Sejarah Sasando berakar kuat pada tradisi lisan masyarakat Rote. Sumber paling kuat mengenai asal-usulnya merujuk pada legenda Sangguana, seorang pemuda yang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta kepada putri seorang raja [S1]. Kisah ini menjadi fondasi naratif yang menjelaskan kelahiran alat musik tersebut dalam konteks budaya setempat. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap detail kronologis pasti mengenai periode historis kemunculan Sasando di luar kerangka legenda tersebut. Keunikan Sasando tidak...
Calung: Alat musik purwarupa jenis idiofon yang terbuat dari bambu Identitas dan Asal-Usul Calung adalah alat musik tradisional Indonesia yang termasuk dalam kategori idiofon, terbuat dari bambu, dan memiliki dua bentuk utama yaitu calung rantay dan calung jinjing [C1], [C4]. Alat musik ini berasal dari daerah Sunda, khususnya Jawa Barat, dan diperkirakan memiliki akar sejarah yang dalam di wilayah tersebut [C10]. Meskipun asal-usul pastinya tidak sepenuhnya jelas, beberapa sumber menyebutkan bahwa calung merupakan prototipe dari alat musik angklung [C11], [C5]. Bahan utama pembuatan calung adalah bambu, dengan jenis yang umum digunakan adalah awi wulung (bambu hitam) untuk nada kecil dan awi bitung (bambu betung) untuk nada besar. Terdapat juga penggunaan awi temen (bambu ater) yang berwarna putih dalam beberapa variasi [C2], [C3]. Setiap bilah bambu disusun secara berurutan dengan ukuran berbeda, sehingga menghasilkan nada yang bervariasi ketika dipukul [C12]. Hal ini menunjuk...
Sasando: Nada Abad ke-7 Rote yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Sasando adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Alat musik ini dikenal sebagai instrumen petik yang dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari-jari tangan. Sejarah Sasando dapat ditelusuri hingga abad ke-7, menjadikannya salah satu warisan budaya yang kaya dan berharga bagi masyarakat Rote [C1][C2]. Sasando memiliki bentuk yang sederhana, menyerupai tabung panjang yang terbuat dari bambu, dengan senar yang direntangkan di atasnya, serta dilengkapi dengan wadah anyaman daun lontar [C3][C4]. Keunikan Sasando terletak pada cara pembuatannya dan suara yang dihasilkan. Penyangga di tengah tabung memberikan nada yang berbeda pada setiap petikan dawai, menciptakan melodi yang lembut dan khas [C5]. Selain itu, bentuknya yang menyerupai alat musik petik lainnya, seperti gitar dan kecapi, memberikan identitas tersendiri bagi Sasando dalam konteks musik tradisional Ind...