Wangsalan adalah budaya Jawa dalam bertutur kata sehari-hari di kalangan orang-orang Jawa. Wangsalan yaitu perkataan yang berupa teka-teki (cangkriman) yang akar jawabannya tidak diutarakan secara jelas, namun sudah terdapat pada kata kunci yang disampaikan sebelumnya. Wangsalan sering digunakan sebagai jembatan bermain kosa kata untuk menguji seberapa jauh pemahaman orang terhadap kosa kata dalam bahasa Jawa.
Wangsalan memiliki berbagai macam jenis berdasarkan bentuk penuturannya. Yang pertama adalah wangsalan lamba, yaitu wangsalan yang akar jawabannya hanya satu saja. Kalimat teka-tekinya berupa satu kalimat yang terdiri dari frasa dan klausa. Frasa yang berada di awal merupakan kata kuncinya, sedangkan klausanya merupakan akar jawaban (teka-teki). Contohnya adalah “Balung klapa, ethok-ethok ora ngert”i. Jawaban dari wangsalan tersebut adalah bathok. Bathok adalah kata lain dari balung klapa, sedangkan ethok-ethok menjadi akar dari jawabannya.
Selain itu, terdapat wangsalan rangkap (camboran), yaitu wangsalan yang akar jawabannya lebih dari satu. Kalimat wangsalan terdiri dari dua kalimat yang terdiri dari wangsalan dan akar jawabannya. Contohnya adalah “Pandom wektu, dalan toya aneng wana. Ora jamane, manungsa tali agama” yang jawabannya adalah jam dan kali.
Kemudian terdapat wangsalan memet, yaitu wangsalan yang jawabannya dicari dengan cara membedah makna kata yang dimaksud sebanyak dua kali. Contohnya adalah “Uler kambang, yen trima alon-alonan.” Uler kambang artinya lintah. Suku kata -tah pada pada kata lintah dianggap sebagai maksud dari kata alon-alonan (satitahe), jadi artinya, jika melakukan sesuatu hendaknya tidak perlu memaksakan diri, atau bahasa jawanya nggaya.
Selanjutnya adalah wangsalan padinan, yaitu wangsalan yang bersifat komunikatif dengan menganggap orang yang diajak bicara telah memahami maksudnya. Sehingga, wangsalan jenis ini ada yang tidak terdapat akar jawabannya. Contohnya adalah “Kowe kuwi wiwit mau ngembang kacang. Dikongkon malah ngembang duren” yang jawabannya adalah sungut.
Terakhir, terdapat wangsalan sinawung ing tembang. Wangsalan jenis ini dinilai unik karena menggunakan tembang (lagu) dalam penyampaiannya. Contohnya adalah sebagai berikut:
Dhandhanggula
Ayam cemeng ingkang mubal putih,
simbok nganten mleroka sadhela,
kinarya tulak brangtane,
linjo digawe krupuk,
simbok nganten pipinya ramping,
gebyog malang neng dalan,
sarenteg wong ayu,
klabang cilik sinandhung mobyar,
mobyar warna ketemu pisan kaping kalih,
kudu ngajak saben dina.
#OSKMITB2018
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...