Ritual
Ritual
Ritual Adat Nusa Tenggara Timur Sumba Barat
Upacara Tarik Batu Sumba Barat
- 26 Desember 2018

Di Sumba Barat, persiapan upacara tarik batu dilakukan lebih rumit dan memerlukan persiapan matang karena obyek yang ditarik adalah batu kubur yang berukuran besar dan sangat berat. Di lokasi asal batu, beberapa tukang kayu yang dalam istilah lokal disebut monipelu membuat kuda-kuda (tenan) berupa dua gelondong kayu bulat utuh yang ukurannya disesuaikan dengan batu yang akan ditarik.

Kedua ujung kayu disatukan dan dibentuk menyerupai kepala kuda. Walaupun tenan berbentuk kepala kuda, namun secara simbolis tenan melambangkan perahu sebagai kendaraan yang akan membawa kubur batu. Bahan kayu yang digunakan terbuat dari kayu kameti yang bersifat lentur dan tidak mudah patah.

Di atas tenan diberi kerangka kayu berbentuk empat persegi panjang mengelilingi batu, sebagai tempat pegangan paaung watu dan untuk meletakkan paji dan bendera. Paji adalah bentangan kain berwarna putih, sedangkan bendera (regi khobu) berupa kain-kain tenun motif asli Sumba yang merupakan sumbangan dari para kerabat.

Paji dan bendera memiliki makna untuk ”memayungi” kubur agar selalu dingin dan teduh. Di Sumba, sesaat sebelum acara tarik batu dimulai, pemimpin proses tarik batu (paaung watu), memberikan santan kelapa (way malala) yang dipercikkan ke batu, sebagai simbol penyucian batu agar batu lebih mudah untuk ditarik. Di atas batu juga disiapkan gong (katala) dan beduk (laba) sebagai alat musik untuk memberikan semangat kepada para penarik batu.

Saat penarikan batu, sebagai alas digunakan balok-balok kayu bulat yang disebut kalang sebagai landasan yang berfungsi sebagai roda. Kayu-kayu bulat dengan diameter bervariasi tapi memiliki panjang rata-rata empat meter diletakkan di sepanjang jalan yang akan dilalui batu.

Alas kayu itu tidak harus menutupi seluruh jalan, karena kayu yang telah dilalui akan diambil dan dipasang kembali di depan hingga batu mencapai tempat pendirian kubur.

Tali untuk menarik batu umumnya terdiri dari 10 buah dengan tiga jenis bahan yakni tali plastik (tambang), tali dari sulur pohon tuba (tuwa) dan rotan (uwi). Masing-masing tali ditarik oleh 50-100 orang, sehingga total penarik batu setidaknya melibatkan ratusan orang.

Apabila dihitung dengan orang-orang lain yang bergantian menarik, setidaknya sebuah upacara tarik batu besar diikuti oleh seribu orang. Masing-masing tali memiliki fungsi, tali yang berada di ujung luar sebelah kanan atau kiri berfungsi sebagai kemudi untuk mengatur arah batu, sementara tali lain berfungsi untuk menarik batu.

Peran paaung watu sangat dominan, karena bertugas mengatur jalannya upacara sambil senantiasa meneriakkan kata hutaya (semangat) setiap saat. Terkadang untuk membangkitkan tenaga, dia meneriakkan kata sindiran seperti mangumammi (perempuan kamu!), yang dijawab spontan oleh massa, sambil mengerahkan segenap tenaga untuk menarik batu, dengan teriakan munima (kami laki-laki!).

Paaung watu adalah sang pemimpin dan salah satu peletak sukses dalam upacara tarik batu, oleh karenanya, dia harus memiliki kemampuan untuk mengatur dan memberi semangat kepada massa penarik batu yang jumlahnya ribuan.

Di sepanjang jalan yang dilalui tersedia kendaraan yang membawa air minum kemasan maupun air minum yang berasal dari mata air. Secara berkala mereka juga disiram air untuk menghindari dehidrasi, karena panas matahari di daerah Sumba Barat sangat terik.

Dalam perjalanan menuju rumah si pemilik batu, tidak selamanya tarik batu berjalan lancar. Terkadang massa tidak dapat selalu diarahkan sehingga arah batu menjadi melenceng bahkan tidak jarang batu bisa miring atau terbalik.

Belum lagi halangan lain berupa rusaknya tenan atau kayu-kayu kalang karena tidak kuat menahan beban batu. Jika halangan tersebut dirasa sangat mengganggu sehingga tidak bisa dilanjutkan, maka acara tarik batu akan ditunda pada hari lain. Hal ini sangat merepotkan karena sulit sekali mengumpulkan ratusan atau ribuan orang dalam hari yang sama.

Jika perjalanan tarik batu lancar, sebuah kubur batu berbobot 12 ton dapat ditarik seribu orang dalam waktu tujuh jam, dalam jarak 2,2 kilometer. Setelah batu kubur berada di depan rumah si pemilik, acara selanjutnya menerima secara resmi sumbangan hewan-hewan dari para kerabat yang umumnya berupa kerbau dan babi.

Jika kerbau dan babi yang disumbangkan berjenis kelamin jantan, maka para penerima tamu akan membunyikan alat musik secara bertalu-talu. Sebaliknya jika hewan yang disumbangkan berjenis kelamin betina, alat musik tidak dibunyikan.

Setelah dilakukan pencatatan terhadap semua sumbangan yang diterima, acara berikutnya adalah kelar lima, yakni pembagian daging hewan kepada seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menarik batu. Secara harfiah kelar lima memiliki makna : membersihkan tangan yang luka karena menarik batu.

Acara kelar lima diadakan oleh keluarga sebagai ungkapan terima kasih kepada setiap orang yang telah terlibat secara aktif pada acara tarik batu. Berbeda dengan daerah lain, pemotongan hewan di Sumba dilakukan dengan cara ditikam dengan tombak dan kemudian tombaknya dilepaskan. Dari leher binatang tersebut akan menetes darah sampai binatang tersebut tergelepar mati kekurangan darah.

Pemilik acara juga wajib menyediakan makanan untuk segenap penarik batu dan tamu-tamu yang hadir menyaksikan acara tarik batu. Menu utama adalah nasi dan daging babi atau kerbau. Setelah acara tarik batu selesai, belum berarti ritual persiapan kubur selesai. Pada umumnya, saat ditarik, kubur batu belum diberi lubang jenazah dan belum dipasang kaki-kaki kubur jika batu kubur berbentuk watu pawesi.

Lubang jenazah baru akan dibuat beberapa bulan setelah acara tarik batu selesai. Biasanya pada saat itu sekaligus didirikan kaki-kaki batu untuk menyangga kubur utama. Pekerjaan selanjutnya adalah memberikan hiasan berupa menhir (kaduwatu) dan memahat pola hias sesuai yang dikehendaki.

Bagi orang Sumba, menyiapkan kubur batu sebagai tempat peristirahatan terakhir merupakan satu kebutuhan. Sungguh merupakan satu kebahagiaan yang sempurna, jika pada saat hidupnya, orang Sumba melihat secara langsung persiapan dan pembuatan makam sebagai tempat istirahat abadinya kelak.

Sebuah kubur batu yang megah dipercaya menjadi semacam kendaraan yang akan mengantar si mati ke dunia yang kekal. Melihat sebuah kubur yang kelak akan dipakai sebagai tempat jenazahnya, mendatangkan rasa nyaman dan prestise tersendiri, terlebih jika kubur tersebut terbuat dari monolith besar yang untuk menarik dan membuatnya menjadi kubur memerlukan biaya yang sangat besar.

Tradisi dari Sebuah Status Sosial

Walaupun sampai sekarang belum ada pertanggalan absolut pasti tentang kapan budaya megalitik mulai hadir di Tana Toraja dan Sumba Barat, namun dalam konteks budaya prasejarah, kubur-kubur batu tersebut merupakan kubur dari budaya megalitik muda, yang berkembang pesat di Indonesia sejak menjelang tarikh Masehi.

Eksistensinya jelas merupakan tradisi tersendiri dari sebuah tata cara penguburan dari masa prasejarah, khususnya pada masa perundagian. Ciri-ciri budaya megalitik yang berintikan pemujaan kepada arwah leluhur (ancestor worship) itu tidak hanya terlihat dari pendirian dan pemakaian kubur-kubur batu, tetapi juga dapat dilihat dalam keseharian mereka.

Rambu solok dan marapu yang masih dianut sebagian besar orang Toraja dan Sumba saat ini, merupakan kepercayaan asli yang bertumpu pada pemujaan arwah nenek moyang, meyakini roh-roh leluhur sebagai penghubung antara mereka yang masih hidup dengan Sang Pencipta. Inilah inti dari pendirian kubur-kubur batu tersebut.

Pada masyarakat yang mengagungkan para leluhur, upacara kematian menduduki tempat yang istimewa. Mereka tidak segan mendedikasikan harta benda yang dimiliki untuk memuliakan arwah leluhur. Memotong banyak hewan kurban seperti kerbau dan babi hutan, telah menjadi sesuatu yang esensi, yang diyakini akan memperlancar perjalanan arwah ke alam baka.

Di Tana Toraja, ketentuan adat menyatakan bahwa tidak semua orang berhak mendirikan simbuang, kecuali kaum bangsawan, yang dilakukan pada saat upacara kematian tingkat rapasan sapurandanan, yaitu upacara kematian tingkat tertinggi. Upacara ini mensyaratkan memotong sekurang-kurangnya 24 ekor kerbau, satu ekor di antaranya harus dipotong menjelang acara tarik batu.

Sehingga terkadang terdapat sebuah ironi, misalnya keluarga bangsawan, namun apabila secara ekonomi dia tidak kaya, maka hanya sanggup menyelenggarakan upacara penguburan yang sederhana. Pendirian menhir simbuang di Tana Toraja yang merupakan bagian dari rangkaian upacara rambu solok adalah sebuah contoh refleksi dari almarhum, dimana menhir tersebut diberi nama sesuai nama pemiliknya.

Menhir simbuang adalah wakil si mati di dunia, sehingga si mati seakan-akan tetap berada di tengah-tengah kerabat, ketika arwahnya telah abadi di alam baka. Dari fungsi praktis untuk mengikat hewan kurban, akhirnya menhir simbuang menjelma menjadi simbol status sosial bagi pendirinya.

Upacara tarik batu, baik di Tana Toraja maupun Sumba merupakan refleksi status sosial si mati, karena memakan biaya yang amat besar. Hanya keluarga bangsawan dan memiliki kekayaan materi berlebih yang mampu menyelenggarakan upacara tersebut. Selain itu, penyelenggara acara hampir pasti merupakan tokoh yang disegani di daerahnya, sehingga dapat dengan mudah mengumpulkan ratusan bahkan ribuan orang untuk terlibat dalam acara tarik batu. Terdapat dua sisi yang cukup signifikan dalam setiap upacara tarik batu tersebut.

Selain sebagai status sosial sang penyelenggara, upacara tersebut juga merupakan “dharma” warga setempat dalam dedikasi mereka kepada arwah leluhur. Setiap anggota masyarakat, tanpa ada paksaan, akan bekerja bersama-sama dalam mendirikan bangunan megalitik.

Rasa solidaritas adalah inti dari upacara tarik batu ini, karena mereka beranggapan bahwa dengan cara seperti ini akan diperoleh ketentraman dan kesuburan yang dilimpahkan oleh nenek moyangnya (Atmosudiro, 1981). Oleh karena itu, upacara tarik batu identik dengan biaya upacara yang sangat besar, yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang kaya dengan status sosial tinggi. Semakin raya upacara ini dilaksanakan, semakin tinggi pula status sosial yang akan didapat sang penyelenggara.

sumbe r: http://www.wacana.co/2016/08/upacara-tarik-batu-di-tana-toraja-dan-sumba-barat/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Konsep Ikan Keramat Sebagai Konservasi Lokal Air Bersih Kawasan Goa Ngerong Tuban
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sumber daya air merupakan sebuah unsur esensial dalam mendukung keberlangsungan kehidupan di bumi. Ketersediaan air dengan kualitas baik dan jumlah yang cukup menjadi faktor utama keseimbangan ekosistem serta kesejahteraan manusia. Namun, pada era modern saat ini, dunia menghadapi krisis air yang semakin mengkhawatirkan (Sari et al., 2024). Berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh berbagai faktor global seperti pemanasan, degradasi lingkungan, dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah strategis dalam pengelolaan air dengan memperhatikan berbagai faktor yang tidak hanya teknis, tetapi juga memperhatikan sosial dan budaya masyarakat. Salah satu langkah yang relevan adalah konservasi air berbasis kearifan lokal. Langkah strategis ini memprioritaskan nilai-nilai budaya masyarakat sebagai dasar dalam menjaga sumber daya air. Salah satu wilayah yang mengimplementasikan konservasi berbasis kearifan lokal yaitu Goa Ngerong di kecamatan Rengel,...

avatar
Muhammad Rofiul Alim