Tradisi tumpengan dalam orang sunda begitu sudah menjadi sebuah keharusan ketika mendapatkan nikmat kehidupan dari Tuhan YME, dalam tradisi sunda ini tumpengan biasanya didahului oleh hamin, hamin merupakan ibadah membaca surat – surat dan doa – doa dipimpin oleh ustad atau orang yang dituakan dengan tujuan ucap syukur atas nikmat yang diberikan.Atau dengan kata lain hamin merupakan seremonial dari tumpengan , tumpengan merupakan syukuran makan bersamadengan tujuan tertentu dan biasanya disediakan nasi tumpeng dengan lauk – lauk nya dan disimbolkan dalam sebuah “nyiru” berbentuk limas dengan bagian atas yang runcing.
Hamin ini dapat ditemui dalam silaturahmi,halal bihalal saat lebaran,syukuran atas kenaikan pangkat, syukuran atas pembangunan rumah / rumah baru, hamin merupakan perwujudan dari syukur nikmat yang dilaksanakn orang – orang yang mampu melksanakanya, biasanya diiringi dengan nazar terlebih dahulu, tradisi tumpengan ini menjadi unik diteliti karena mengandung nilai kesakralan dalam dimensi religiusitas manusia disisi lain juga mengandung kearifan lokal kebudayaan sunda selain itu tradisi hamin pula juga secara kasat mata telah membuat hubungan sosial yang intim antar pelaku yang terlibt karena hamin ini dilaksanakan oleh seluruh keluarga besar dan juga tetangga serta para kerabat.
Emile durheim dengan teori stuktural fungsionalism melihat bahwa masyarakat itu sebuah stuktur yang saling berfungsi satu lainya dengan lain halnya,emile durheim melihat tiga fungsi utama agama: sebagai perekat sosial, sebagai kontrol sosial, sebagai pemberi makna dan tujuan. Fokus penelitian ini melihat fenomena hamin dan tumpengan sebagai sarana untuk perekat sosial .
Pembahasan
Daerah jawabarat rata – rata dihuni oleh orang sunda,dikenal daerah parahiyangan dengan pembagian wilayah ke-sundaanya dilihat dari variasi logat kebahasaanya dibagi 3 wilayah bantenan,priyangan,cirebonan, jawabarat sendiri berpenduduk kurang lebih....... dengan agama mayoritas islam.
Agama agama di jawa barat
Agama
Penduduk
Islam
± 19.344.622
Kong hu tju
150.000
Kristen protestan
65.000
Budha
43.128
Katolik
24.072
Hindu
2.500
Kepercayaan lain
55.205
(data diperoleh dalam buku manusia dan kebudayaan di indonesia BAKOPDA 1965 )
Kelurahan kujangsari secara administratif memang masuk dalam wilayah kota bandung tetapi di bagian derah kelurahan ini tepatnya kecamatan bandung kidul masih banyak dihuni masyarakat asli daerah tempat tinggalnya sehingga proses sosialisasi sehari hari tidak jauh dengan apa yang nenek moyangnya dahuu lakukan, masih dapat dijumpai dari jaman dahulu hingga sekarang tradisi tradisi yang kental sunda nya juga dalam hal agama islam nya.
Hamin dan tumpengan merupakan hasil akulturasi dari budaya sunda dengan islam yang menghasilkan seremonial hamin, seremonial ini diisi dengan doa – doa / tawasulan, yang diakhiri dengan makan bersama / botram, tradisi islam pun begitu terasa ketika lantunan doa dipanjatkan tetapi dalam prosesi ini dapat dilihat proses adaptasi budaya yang bisa diterima oleh orang sunda.
Dahulu tradisi hamin dan tumpengan ini sering dilakukan, misalnya studi kasus pada keluarga besar H.Halim Satori (alm), keluarga ini dahulu mengandalkan tradisi ini sebagai usaha mempererat hubungan,hamin merupakan seremonial syukuran atas pencapaian maupun memperingati hari besar (biasanya muludan ) di keluarga halim saatori ini dahulu tradisi tumpeng masih disertai dengan sajen, sajen ini terdiri atas rujak rujakan baik rujak buah,rujak pisang serta kelapa yang saat prosesi haminya ini disertakan bersamaan dengan tumpeng.
Sajen ini dahulu memang dibuat untuk seserahan kepada karuhun yang biasanya setelah beres tumpengan akan disimpan didalam goah2 , seremonial hamin ini dilaksanakan dengan lantunan doa doa untuk mendoakan karuhun yang telah meninggal dunia,mendoakan sesama yang masih berusaha di dunia, tumpeng sendiri pun dibuat oleh anak – anak nya yang telah berkeluarga msing masing berdatangan ke rumah orang tuanya membawa tumpeng,dan lauknya, dapat terlihat disini bahwa tradisi ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong royong.
Zaman sekarang hamin dan tumpengan masih dilaksanakan namun ada perubahan di setiap prosesi pelaksanaan nya seperti haminnya sendiri saat ini sudah tidak ada sesajen lagi karena keluarga keluarga sudah tidak ada goah dirumahnya telah digantikan dengan teknologi yang lebih canggih seperti lemari dan kulkas, tumpengan juga terdapat perubahan, dahulu tumpengan dibuat bersama dan dimakan bersama saling icip makanan sekarang tumpeng disediakan oleh yang punya hajatnya namun masih dapat dilihat upaya botramnya3 saat idul fitri maupun idul adha.
__________________________________________________________________
Goah2 : tempat menyimpan makanan oleh orang sunda saat perayan perayan besar seperti muludan,lebaran dan hajatan.
Seperti hipotesis Emile Durheim tentang totemisme,funsi sosial yang esensial dari religi ialah hal menciptakan, memaksakan, mempertahankan solidaritas kelompok, dikaitkan dengan hipotesis tersbut maka tradisi hamin dan tumpengan ini juga dapat dilihat sebagai perekat solidaritas kelompok. Dalam teori stuktural fungsionalisme emile durheim,dilihat bahwa masyarakat merupakan sekumpulan stuktur stuktur yang masing stuktur tersebut layknya organ tubuh saling berfungsi satu sama lain, masyarakat dengan agama dapat menumbuhkan solidaritas sosial.
Solidaritas sosial ini merupakan suatu keadaan yang didasarkan pada adanya perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai -nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dari hubungan bersama akan melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka sehingga dapat dikatakan fakta sosial, fakta sosial ini tanpa disadari bersifat memaksa untuk dapat menjaga solidaritas dan mepererat hubungan.
Silih asah silih asih silih asuh salah satu cerminan solidaritas sosial orang sunda, Silih asah jika diartikan memiliki arti mempertajam . Silih asah,mempunyai makna saling bertukar ilmu, satu sama lain mengajarkan apa yang dia ketahui dan kuasai. Silih asuh merupakan kata yang seluruhnya diserap melalui bahasa Indonesia dengan yang sama pula tentunya. Silih asuh ini artinya saling mengasuh, mengayomi, mebimbing satu sama lainnya. Menjaga agar tetap pada jalan yang diyakininya benar secara tradisi, hukum, dan paling utama adalah agama sebagai dasar aqidah. Silih asih yang memiliki arti yaitu “kasih”. Silih asih berarti salih mengasihi, saling mencintai satu sama lainnya. Memberi perhatian, afeksi, dan kasih sayang. Satu sama lain menunjukan kepeduliannya, memberikan apa yang dibutuhkan dengan tulus.
Tradisi hamin dan tumpengan merupakan perwujudah slogan silih asih dan silih asuh, karena didalam tradisi tersebut dapat dilihat hamin dan tumpengan yang dilaksanakan sebagai perwujudan asih, saling mengasihi, kasih antara saudara sekandung, kasih antara kita dan tetangga, kasih antara anak dan orang tua. Silih asuh berarti membingbing generasi satu dengan generasi lanjutan yang nantnya akan tetap melaksanakan tradisi ini juga menularkan nilai dan norma yang dikandung.
Kesimpulan
Tradisi hamin dan tumpengan merupakan seremonial yang dapat membangkitkan rasa solidaritas orang sunda, masyarakat sebagi suatu stuktur yang dianalogikan dalam organ tubuh yang dimana stukur tersebut saling berhubungan maka dari itu perlu ada hubungan antar organ agar terjadi sebuah sistem yang sempurna, maka tumpengan dan hamin satu dari sekian banyak tradisi yang akan dan dapat memperat hubungan pada orang – orang dimasyarakat.
Slogan semboyan silih asuh silih asih silih asah tersebut terkandung dalam setiap sosialisasi di masyarakat sunda, orang Sunda yang sangat patuh terhadapa kebudayaan melalui slogan tersebut melebur yang berawal dari sebuah ucapan semata kepada penyataan sikap dan etika dari masyarakat tersebut.
Funsi sosial yang esensial dari religi ialah hal menciptakan, memaksakan, mempertahankan solidaritas kelompok, tradisi hamin dan tumpengan inilah yang merupakan perwujudan dari akulturasi dari budaya orang sunda setempat dan pengaruh islam, dan dapat diterima dan dilaksanakan sebagai sosialisasi dan mewujudkan solidaritas sosial tersebut.
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...