Upacara bersih desa merupakan salah satu warisan budaya lokal yang perlu dilestarikan, dan masyarakat desa di lereng Gunung Bromo ini telah membuktikannya. Hal tersebut memang perlu, sehingga masyarakat tetap dapat menangkap semangat kebersamaan dan gotong-royong, serta rasa peduli dengan budaya sendiri tanpa harus mengorbankan keyakinan yang mereka anut.
Lokasi Tradisi Bersih Desa
Desa Pusungmalang termasuk wilayah Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, terletak di lereng Gunung Penanjakan salah satu anak Gunung Bromo. Dari kota Pasuruan menuju ke desa tersebut akan melewati beberapa desa antara lain, desa Gondangwetan, desa Pasrepan, desa Puspo dan kemudian naik menelusuri bukit-bukit yang ber kelok-kelok dan terjal kurang lebih selama dua jam perjalanan, barulah sampai ke Desa Pusungmalang ini.
Desa Pusungmalang terdiri atas lima Dusun yaitu: Dusun Mangu, Wonogriyo, Kenongo, Jagungsromo, dan Dusun Pusungmalang. Tim Balai Arkeologi Yogyakarta sudah empat tahap (satu tahap penelitian dalam satu tahun) mengadakan penelitian dan berhasil mengidentifikasi sebuah tinggalan arkeologi berbentuk punden berundak dari masa Hindu yang dinamakan Candi Sanggar, dan letaknya di Dusun Wonogriyo.
Tradisi Bersih Desa
Masyarakat desa Pusungmalang mempunyai sebuah tradisi yaitu upacara bersih desa yang dialkukan secara turun-temurun, setiap dua tahun sekali. Pada tahun 2009 ini, upacara tersebut diselenggarakan pada tanggal 17 Juli bertepatan dengan hari Jumat Legi menurut kalender Jawa, karena memang upacara ini harus ditepatkan dengan hari Jumat Legi tersebut.
Upacara dilakukan oleh ke lima dusun di atas, dipusatkan di dusun Wonogriyo karena puncak acara diadakan di Candi Sanggar, dan kebetulan Kepala Desa bertempat tinggal di dusun ini pula.
Sedangkan dana untuk penyelenggaraan acara tersebut ditanggung bersama-sama oleh seluruh masyarakat desa Pusungmalang. Setiap keluarga menyumbang sesuai dengan jumlah yang sudah ditentukan, dan akan dicatat oleh panitia.
Selain itu, dana juga diambil dari kas desa, dan sumbangan para donatur, sebagai imbalannya mereka dipersilahkan duduk di ruang balai desa dan disuguhi makanan dan minuman (bir, juga disuguhkan dalam hidangan ini). Juga mereka berhak meminta tembang yang dinyanyikan sinden, maupun menrai dengan para tayub.
Jalannya Upacara
Upacara dimulai sejak pagi hari hingga tengah malam, diawali dengan arak-arakan mengunjungi 8 punden yang ada di desa Pusungmalang tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa di wilayah Kecamatan Puspo setiap desa, mempunyai minimal satu punden, sedangkan Pusungmalang mempunyai delapan punden yang tersebar di lima dusun wilayahnya.
Punden, menurut kepercayaan masyarakat adalah tempat tinggal atau tempat bersemayamnya roh-roh leluhur yang disebut danyang. Oleh sebab itu pada waktu-waktu tertentu mereka harus melakukan upacara untuk menghormati para danyang tersebut, agar mereka selalu menjaga seluruh masyarakat desanya, supaya terhindar dari mala-petaka dan gangguan roh-roh jahat. Sedangkan delapan punden yang didatangi tersebut terletak antara lain di:
1. Setran atau kuburan desa.
2. Perempatan desa yang menghubungkan ke lima dusun.
3. Jambu, di bawah pohon besar (entah mengapa dinamakan Jambu, padahal di situ tidak ditemukan pohon jambu!).
4. Kali Kenongo = sumber mata air yang terletak di utara desa.
5. Candi Sanggar = puncak acara diadakan di halaman candi ini.
6. Halaman bangunan Sekolah Dasar Pusungmalang.
7. Kali Sumberrejo = sumber mata air yang terletak di sebelah selatan desa.
8. Pertigaan desa = salah satu jalan menuju ke atas ke arah Tengger.
Pelaku upacara terdiri atas: Kepala Desa, sesepuh desa, dukun, perantara, pesinden/tayub, dan rombongan penabuh gamelan (musik tradisionil) yang masing-masing mempunyai tugas sendiri.
Kepala Desa : secara administratif harus disertakan
Sesepuh desa: orang-orang yang dianggap berjasa terhadap desa misalnya mantan pejabat desa.
Dukun: bertugas untuk memimpin doa-doa di setiap punden sebelum upacara dimulai, dengan mempersembahkan sesaji yang berupa tujuh macam unsur (bunga-bungaan, hasil bumi dan sebagainya0 sambil membakar kemenyan dan sabut kelapa. Mereka melantunkan mantra-mantra dalam bahasa Jawa kuna. Demikian pula diulang sesudah upacara berakhir di punden tersebut.
Perantara: yaitu seorang sesepuh desa yang mempunyai kelebihan dapat berkomunikasi dengan para danyang di punden-punden tersebut. Dengan mata batinnya, perantara akan menyampaikan kepada para pesinden, tembang apa yang harus dinyanyikan, jadi perantara ini memegang peranan penting untuk memulai dan mengakhiri upacara di setiap punden. Tentu saja tidak selalu sama, tergantung dari para danyang yang bersemayam di sana.
Sinden/Tayub: berjumlah tiga orang wanita, bertugas untuk menyanyikan tembang-tembang yang diminta oleh danyang melalui perantara. Mereka menyanyi (nembang)bersama-sama dengan Kepala Desa dan Perantara tadi.
Rom bongan penabuh gamelan tentu saja bertugas membawa seperangkat gamelan untuk mengiringi tembang-tembang yang dinyanyikan para sinden.
Upacara tersebut dilakukan berturut-turut pada ke delapan punden, dan tepat tengah hari berada di atas bukit lokasi Candi Sanggar berada. Di tempat ini upacara lebih lama dan tembang yang dinyanyikan lebih banyak. Tembang harus dimulai dengan gending eling-eling sebagai lagu pembuka (Jawa = kulonuwun) kepada danyang yang tinggal di punden tersebut.
Kemudian diteruskan dengan tembang-tembang lain sesuai permintaan danyang melalui perantara tadi. Selanjutnya tembang akan diakhiri dengan gending undur-undur yang berarti mohon pamit kepada danyang, dan menandakan upacara di punden itu sudah selesai yang akan dilanjutkan ke punden-punden berikutnya.
Sebagai penutup upacara, Kepala Desa secara simbolis memberi uang sebagai upah kepada para sinden, kemudian para peserta dipersilahkan minum-minum. Sebenarnya minuman berupa tuak yang akan membuat mereka mabuk, dan hal ini merupakan satu rangkaian dengan jalannya upacara, tetapi sekarang minuman yang memabukkan itu dilarangoleh pemerintah, sehingga diganti dengan air putih bahkan minuman masa kini yaitu Sprite!!!
Setelah upacara ke delapan punden selesai, dilanjutkan dengan iringan-iringan ancak-ancak (semacam Gunungan Sekaten dari kraton Yogyakarta dan Surakarta) yang dibuat oleh ke lima dusun wilayah Desa Pusungmalang. Setiap dusun menyumbang ancak-ancak sesuai dengan kemampuannya, dan tahun 2009 ini terkumpul 18 ancak-ancak.
Ancak-ancak tersebut dikumpulkan di halaman Balai desa yang terletak di dusun Wonogriyo sebagai pusat upacara. Ancak-ancak dibuat dari anyaman bambu, di atasnya ditancapkan hasil bumi mentah maupun yang sudah diolah menjadi makanan, hewan (ayam dan itik), dan dihiasi dengan kertas-kertas dan balon-balon aneka warna agar menarik, hal ini tergantung dari kreatifitas pembuatnya.
Sesudah ancak-ancak terkumpul, dukun melaksanakan tugasnya lagi dengan membaca doa-doa dan mantra-mantra. Selanjutnya masyarakat memperebutkan ancak-ancak tersebut, dan apa yang berhasil didapat akan mereka simpan di rumah masing-masing sebagai syarat agar keluarganya mendapat berkah dari upacara bersih desa tersebut. Malam harinya diteruskan dengan acara kesenian yang berlangsung hingga tengah malam.
Penutup
Upacara bersih desa ada kaitannya dengan acara simbolis mempersembahkan sesaji dalam bentuk hasil bumi kepada arwah para leluhur yang disebut danyang. Tujuannya adalah agar para danyang bersedia menjaga seluruh masyarakat di wilayah desa tersebut, supaya terhindar dari segala mala-petaka dan gangguan roh-roh jahat.
Sesaji dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas segala ciptaanNya, dengan harapan akan kembali kepada masyarakat berupa kemakmuran dan kesejahteraan hidunya.
Upacara bersih desa merupakan salah satu warisan budaya lokal yang perlu dilestarikan, dan masyarakat desa di lereng Gunung Bromo ini telah membuktikannya. Hal tersebut memang perlu, sehingga masyarakat tetap dapat menangkap semangat kebersamaan dan gotong-royong, serta rasa peduli dengan budaya sendiri tanpa harus mengorbankan keyakinan yang mereka anut.
Sumber :http://www.wacana.co/2010/01/tradisi-bersih-desa-di-lereng-gunung-bromo/
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...
Sumber daya air merupakan sebuah unsur esensial dalam mendukung keberlangsungan kehidupan di bumi. Ketersediaan air dengan kualitas baik dan jumlah yang cukup menjadi faktor utama keseimbangan ekosistem serta kesejahteraan manusia. Namun, pada era modern saat ini, dunia menghadapi krisis air yang semakin mengkhawatirkan (Sari et al., 2024). Berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh berbagai faktor global seperti pemanasan, degradasi lingkungan, dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah strategis dalam pengelolaan air dengan memperhatikan berbagai faktor yang tidak hanya teknis, tetapi juga memperhatikan sosial dan budaya masyarakat. Salah satu langkah yang relevan adalah konservasi air berbasis kearifan lokal. Langkah strategis ini memprioritaskan nilai-nilai budaya masyarakat sebagai dasar dalam menjaga sumber daya air. Salah satu wilayah yang mengimplementasikan konservasi berbasis kearifan lokal yaitu Goa Ngerong di kecamatan Rengel,...