Khanduri Apam atau masyarakat Aceh juga sering menyebutkan ‘Toet Apam’ adalah salah satu kegiatan tahunan yang berkembang dalam masyarakat Aceh. Tradisi tersebut diadakan masyarakat pada bulan ketujuh atau orang Aceh menyebutnya dengan ‘Beuleun Apam’.
Apam merupakan penganan trandisional yang tidak asing di wilayah Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie. Apam atau kata lain disebut serabi, sering dibuat secara khusus di bulan Rajab, di mana pada bulan ini masyarakat sering melaksanakan kenduri apam sebelum ramadhan tiba.
Memang sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh yang tak dapat dipisahkan dalam bulan Rajab yaitu toet apam (red. memasak apam). Biasanya kegiatan ini dikerjakan oleh kaum ibu-ibu di kampung masing masing, atau dilakukan berkelompok ataupun sendirian di rumah mereka.
Begitu juga dengan warga Gampong Pukat Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Minggu (25/3/2018), di bawah tenda dihalaman meunasah kaum ibu terlihat serius menyiapkan adonan tepung untuk dimasak menjadi apam, sementara di bagian lainnya, para lelaki muda terlihat sibuk mengkukur kelapa untuk dijadikan kuah tuhe untuk disantap bersama kue apam.
Kuah tuhe atau kolak Aceh adalah kuah santan manis yang dimasak secara bersamaan dengan campuran ketela, pisang dan nangka.
Tak lama kemudian, dengan bahan bakar daun kelapa yang sudah mengering, dari atas tungku yang terbuat dari batu bata yang disusun sedemikan rupa tersebut, kaum ibu-ibu itu sudah memasak ratusan Apam yang siap dihidangkan.
Jika anda mencicipi makanan ini anda akan meraka sensasi yang luar biasa dengan rasanya yang khas dan dicampur dengan kuahnya yang bikin anda ketagihan, pada umumnya orang Aceh sangat menyukai makanan ini khususnya masyarakat Pidie.
Geuchik Gampong Pukat, Zainuddin Alba, S.Ag yang merupakan inisiator pelaksanaan Khanduri Toet Apam secara masal didesanya, ia ingin tradisi Toet Apam pada bulan Rakjab di kampungnya tidak hilang termakan arus zaman.
“Masyarakat Pidie khususnya setiap bulan Rakjab mengadakan khanduri Toet Apam, ini merupaka tradisi yang di amanahkan nenek moyang kita untuk terus dilestarikan, jadi kami sebagai orang tua di Gampong Pukat ini juga harus mewariskan tradisi ini kepada generasi selanjutnya.” Kata Zainuddin.
Zainuddin mengaku, demi melastarikan adat istiadat dan budaya Aceh dalam Khanduti Toet Apam tersebut pihak Gampong menangung semua biaya yang dikeluarkan.
Sumber: https://kliksatu.co.id/2018/03/25/tradisi-toet-apam-masih-dilestarikan-di-gampong-pukat-pidie/
#SBJ
Hubungi Contact Center CIMB Niaga 0818515000 Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga Anda
Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga, Hubungi layanan CIMB Niaga di 0818515000 lalu sampaikan pengajuan Anda untuk menutup kartu kredit dan ikuti instruksi petugas.
Hubungi Contact Center CIMB Niaga 0818515000 Untuk mengajukan penutupan kartu kredit CIMB Niaga Anda
Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga, Hubungi layanan CIMB Niaga di 0818515000 lalu sampaikan pengajuan Anda untuk menutup kartu kredit dan ikuti instruksi petugas.
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.