Timbang Kepala Kebo adalah tradisi (prosesi adat turun temurun) masyarakat Pangkalan Balai yang biasanya dilakukan oleh Orangtua yang melakukan nazar (suatu janji yang diwajibkan dilaksanakan apabila suatu tujuannya tercapai).
Tak banyak yang tahu tentang adat Timbang Kepala Kebo ini. Masyarakat sekarang, terutama di Pangkalan Balai perlu diberi informasi memadai secara terus -menerus yang agar prosesi adat ini terus tetap dilestarikan.
Dalam konteks yang lain, biasanya Timbang Kepala Kebo dilakukan pada saat salah seorang masyarakat ingin meminta diberi keturunan kepada Allah dan berjanji akan melakukan adat Timbang Kepala Kebo jika keinginannya tercapai (nazar).
Nazar ini dalam adat Pangkalan Balai lebih di kenal dengan istilah sangi. Sangi biasanya dilakukan pada saat anak yang lahir setelah bernazar melakukan khitan bagi anak laki-laki dan dapat pula dilakukan berupa syukuran bagi anak laki-laki maupun perempuan.
Selain itu dapat pula dilakukan ketika khitanan maupun syukuran. Banyak pula yang melakukannya ketika sang anak menikah, yang biasanya hal ini dilakukan oleh orangtua yang khawatir sang anak tidak mendapatkan jodoh. Lalu orangtua bernazar jika anaknya menikah, orangtua tadi akan melakukan Timbang Kepala Kebo.
Timbang Kepala Kebo ini sudah sangat jarang dilakukan dan perlahan-lahan sudah mulai dilupakan oleh masyarakat Pangkalan Balai. Hingga kini tradisi ini bisa dihitung dalam setahun dapat dilihat rata-rata hanya dua kali.
Namun pada kesempatan kali ini pada Minggu, 18 Maret 2018, LamanQu.com bisa menyaksikan kembali tradisi adat Pangkalan Balai yang mulai punah dalam acara syukuran khitanan Raffa Adzim Attahir (6 tahun) putera dari pasangan Noviyanti dan Firmansyah yang juga didampingi oleh sepupunya Muhammad Alfarizi Sulthan avarras (6 tahun) putera dari pasangan Anna Rosdiana, S. Kom dan Alvero Friko, Amd.
Dan ini merupakan bentuk nyata dari masih dilestarikannya adat kebudayaan sekitar, meski adat ini tak banyak dijalankan.
Acara ini diselenggarakan di Jln. Merdeka Lorong Mbah Bejo, Kelurahan Talang Gelumbang, Banyuasin, pada pukul 09.00 WIB hingga selesai. Hadir dalam acara
Timbang Kepala Kebo, antara lain Pemangku Adat Pangkalan Balai, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar.
Tata cara adat Pangkalan Balai ini terbilang unik dan menarik. Untuk khitanan, salah satu keunikannya diawali arak-arakan menggunakan joli, ada ayunan dan dacing
timbangan yang dihiasi buah-buahan lokal. Juga ada 9 (sembilan) kain yang dibentangkan sepanjang jalan menuju ayunan dan sudah pasti ada kepala kerbau yang
digantungkan di atas kepala di bagian atas ayunan.
Karena acara ini lebih menjurus ke khitanan maka pantun-pantun atau syair-syair, yang dilantunkan bertema pendidikan anak-anak. Umumnnya dalam Timbang Kepala Kebo dimulai dengan syair Selendang Delima, dilanjutkan syair Serambe, membacakan pantun-pantun adat berisi nasihat. Pembaca pantun saling bersambutan terdiri dari dua orang sekaligus sebagai pembawa acara, yaitu Affanul Z. Kheir dan Kusma.
Adapun mengenai makna-makna dari bahan-bahan yang disediakan, Sekretaris Sanggar Seni Beremben Besi Kusma mengatakan, “Ada beberapa hal di dacing timbangan ini. Ada yang namanya perabe-perabe (istilah Pangkalan Balai). Perabe-perabe ini adalah bahan-bahan hasil bumi dan ini mengandung filosofi sebagai wujud syukur pada limbangan bahan hasil bumi Pangkalan Balai. Bahan-bahan hasil bumi itu ditempelkan di setiap detail dacing timbangan ini.”ujarnya.
Kusma melanjutkan, “kemudian begitu anak ini menuju dacing timbangan, nanti akan ada titian kain panjang sembilan lembar, itu menandakan filosofinya, anak ini
selama sembilan bulan dalam kandungan ibunya, jadi ini merupakan simbol kain ini di bentangkan sebanyak sembilan lembar.”jelasnya.
Dengan kembalinya tradisi yang mulai terlupakan ini, diharapkan Pemerintah Kabupaten Banyuasin dan Dinas terkait agar tetap terus melestarikan kebudayaan yang
ada. Generasi penerus perlu terus diajarkan dan dimotivasi tentang betapa pentingnya budaya lokal mereka.
Sumber : https://www.lamanqu.com/2018/03/18/timbang-kepala-kebo-tradisi-banyuasin-yang-mulai-dilupakan/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...