Dahulu daerah Merauke memiliki sebuah tifa dan terompet bambu. Kelebihan kedua benda tadi adalah bila sekali saja orang menyentuh dengan kaki, tifa dan bambu itu berbunyi denga sendirinya. Tetapi bila orang memegangnya, tifa dan bambu berhenti berbunyi.
Konon ada suatu keluarga mempunyai seorang anak yang bernama Beorpit. Apabila terdengar bunyi tifa dan terompet bambu itu Beorpit bergembira sekali. Oleh sebab itu pada suatu hari ia mengajak ayahnya untuk pergi dan mencari alat yang dibunyikan itu. Tetapi sang ayah menolak permintaan anaknya. Karena permintaannya ditolak, Beorpit menangis terus menerus setiap hari. Lama kelamaan tangisnya reda, namun karena dorongan keinginannya maka timbullah suatu rencana di benaknya.
Setelah menjadi besar, Beorpit meminta lagi kepada ayahnya agar membuat sebuah perahu baginya. Kali ini ayahnya bersedia lalu mengerjakan sebuah perahu. Beberapa hari lamanya ayahnya tekun dalam menyelesaikan perahu itu.
Sehari sesudah perahu dikerjakan ia pun berangkatlah. Seorangpun tak ada yang mengikutinya, karena tidak diketahui ke mana ia hendak pergi dan apa maksudnya bepergian. Mereka merasa khawatir dan takut, kalau ia mendapat bahaya di perjalanan. Baik orang tua, sanak saudara bahkan seluruh penduduk kampung turut menangis atas kepergiannya. Namun ia berpegang teguh pada pendiriannya dan tetap berangkat dengan hati yang tenang. Dia mengayuh perahunya menuju muara kali. Dari muara kali kemudian Beorpit menyeberangi laut dan akhirnya tibalah ia di Merauke.
Setiba di Merauke hari sudah gelap. Malam itu semua penduduk kampung sedang asyik menyanyi dan menari di JE (rumah adat). Karena asyiknya, mereka tidak menyadari, bahwa ada orang dari tempat lain sedang mengintai.
Dalam suasana ramai itu tanpa diketahui, Beorpit menyusup masuk ke dalam JE dan ikut menari di sudut kiri. Karena sudah kecapaian, merekapun tertidur di dalam JE. Sementara itu Beorpit juga mencari tempat yang aman serta berdekatan dengan tifa dan bambu ajaib.
Sementara pura-pura tidur ia membaca mantranya, sehingga mempengaruhi orang-orang yang tertidur itu tidak dapat bergerak. Dalam kesempatan itu ia membunuh semua orang yang tertidur di dalam JE. Sesudah itu Beorpit mengambil kepala orang-orang tadi beserta tifa dan bambu ajaib, lalu segera meninggalkan rumah itu. Kemudian ia kembali lagi dengan perahu ke kampungnya sendiri.
Setiba di kampung, penduduk menyambutnya dengan meriah sekali. Sebagai tanda penghormatan, ia dipikul orang kampung dari perahu dan dielu-elukan, mulai dari perahu sampai ke JE, tifa dan bambu ajaibpun dibawa serta.
Setiba di JE mereka masuk dan mengelilingi Beorpit. Karena melihat banyak orang berkerumun dan mendesaknya untuk mendengar kedua benda ajaib itu, maka ia pun segera menyentuh tifa dan bambu ajaib dengan kedua kakinya. Detik itu juga kedua benda tadi berbunyilah serentak dengan nyaringnya. Orang yang mendengarnya tidak dapat menahan diri lagi, lalu merekapun ikut menyanyi dan menari dengan asyiknya.
Bagaimana dengan suasana orang-orang di Merauke, setelah Beorpit meninggalkan mereka?
Menurut kebiasaan, setiap pagi ibu-ibu membawa makanan kepada suami-suaminya yang bermalam di JE. Ketika memasuki JE mereka melihat bahwa semua orang-orang yang berada di JE sudah mati. Suatu hal yang sangat mengejutkan mereka ialah bahwa orang-orang itu tidak berkepala lagi. Kejadian ini tersiar ke seluruh kampung sehingga menyebabkan sebagian penduduk menjadi takut, sedangkan yang lain menangisi saudara-saudara mereka yang sudah dipotong kepalanya. Keadaan alam di sekitarnya turut berubah menjadi gelap.
Sementara itu terdengarlah dari jauh bunyi tifa dan bambu ajaib di daerah Emari. Mendengar bunyi itu penduduk kampung menangis tersedu-sedu. Perasaan sedih menimbulkan kemarahan penduduk, karena mereka kehilangan saudara-saudaranya beserta dengan kedua benda ajaib itu. Rupanya di antara penduduk ada seorang yang memberanikan diri dan bermaksud untuk membalas dendam. Konon orang itu juga bernama Beorpit. Ia segera berangkat ke tempat, di mana terdengar bunyi tifa dan bambu ajaib itu. Beberapa hari lamanya ia mengarungi laut dan sungai, akhirnya tibalah pada tempat tujuannya. Ketika mendekati kampung Emari hari sudah gelap. Keadaan di sekitar kampung sepi, karena semua penduduk kampung sedang asyik menyanyi dan menari di JE. Karena lelah mereka tertidur dengan nyenyaknya.
Sesudah mengamati keadaan maka Beorpit Merauke mulai melaksanakan rencana pembalasannya, sama seperti apa yang tela dilakukan Beorpit dari Asmat.
Selesai melaksanakan niatnya, ia kembali ke Merauke dengan membawa kedua benda ajaib itu.
Keesokan hari sebagian orang yang berada di rumah-rumah terkejut, karena mendengar berita bahwa orang-orang yang bermalam di JE sudah dibunuh. Kejadian ini menimbulkan kesedihan pula bagi seluruh warga kampung. Ketika itu juga keadaan di sekitar kampung pun tiba-tiba menjadi gelap.
Sementara itu di Merauke terdengar pula, bunyi tifa dan bambu seperti sedia kala. Karena peristiwa yang dialami ini menyebabkan kematian saudara-saudaranya maka Beorpit Asmat berniat lagi untuk mengadakan pembalasan. Oleh sebab itu ia pergi lagi ke Merauke dan setibanya di sana melakukan lagi hal yang sama seperti pertama kali. Ternyata ia berhasil dalam melaksanakan niatnya. Sesudah ia kemabli kekampung Emari, Semua orang bergembira atas keberhasilannya.
Kini kedua benda ajaib itu berada di tangan mereka. Menurut firasatnya pasti ada pembalasan lagi untuk merebut kedua benda tersebut. Oleh sebab itu untuk memepertahankan kedua benda ajaib itu, orang-orang Asmat mengatur siasat. Ketika hari telah malam, mereka membagi tugas untuk menjaga keamanan. Ada yang menjaga di tepi sungai, ada pula yang di bawah kolong JE dan yang lainnya manjaga di tangga masuk.
Memang dugaan mereka tepat. Ternyata Beorpit dari Merauke yang dating hendak mengadakan pembalasan lagi. Tetapi nasibnya sangat malang, karena ia ditangkap kemudian dipancung kepalanya di dalam JE.
Orang-orang Merauke lama menunggu utusannya, namun ia tak kunjung kembali. Karena terlalu lama menunggu mereka mengirim seorang lagi, namun nasibnya juga malang seperti Beorpit.
Akibat peristiwa ini orang-orang Asmat mengungsi ke kali Ayip. Karena mnurut menurut mereka tempat lama tidak menjamin keamanan hidupnya. Setelah berada di tempat baru mereka tinggal dalam keadaan aman dan tentram. Tifa dan bambu ajaibpun dibawa serta dan telah menjadi milik pusakanya.
Referensi:
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...