Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat / Legenda Bali Bali
Terjadinya Selat Bali
- 13 Februari 2019

Manik Angkeran adalah putra seorang Brahmana bernama Sidhimantra. Mereka tinggal di Kerajaan Daha, Bali. Waktu itu, Pulau Bali belum terpisah dengan Pulau Jawa. Manik Angkeran adalah anak yang cerdas. Sayangnya, dia mudah dipengaruhi oleh teman-temannya. Dia suka sekali menyabung ayam. Padahal, sudah berulang kali Sidhimantra menasihatinya.

 

Mereka tinggal di Kerajaan Daha, Bali. Waktu itu, Pulau Bali belum terpisah dengan Pulau Jawa. Manik Angkeran adalah anak yang cerdas. Sayangnya, dia mudah dipengaruhi oleh teman-temannya. Dia suka sekali menyabung ayam. Padahal, sudah berulang kali Sidhimantra menasihatinya. Semakin lama, ayamnya semakin sering kalah. Uang Manik Angkeran pun ludes. Dia bahkan harus berhutang untuk membayar kekalahannya. Namun, dia tak pernah kapok. Dia masih ingin terus menyabung ayam.

 

”Anakku, kau tak akan pernah bisa kaya dari menyabung ayam. Berhentilah selagi belum terlambat,” nasihat Sidhimantra. Namun, Manik Angkeran tak peduli. Lama kelamaan, harta ayahnya juga ludes dipakainya untuk membayar hutang. Sekarang, Sidhimantra tak punya uang lagi. Suatu hari, Manik dikejar-kejar orang yang menagih

hutangnya. ”Ayah, tolonglah aku! Mereka akan mencelakaiku jika aku tak membayar hutangku!”

 

Sidhimantra gelisah. Dia sudah tak memiliki harta, tetapi dia juga tak mau anaknya celaka. Sidhimantra lalu mendapat petunjuk lewat mimpinya, untuk meminta pertolongan pada Naga Besukih di Gunung Agung.

 

Sesampainya di Gunung Agung, Sidhimantra membunyikan genta seperti petunjuk dalam mimpinya. Naga Besukih yang mendengarnya pun keluar. Sidhimantra memandang takjub! Ekor Naga Besukih penuh dengan emas dan permata! ”Siapakah kau? Apa maksudmu datang kemari?” tanya Naga Besukih. Sidhimantra lalu menjelaskan maksud kedatangannya. Dia hendak meminta sedikit harta Naga Besukih untuk membayar hutang Manik Angkeran.

 

Sidhimantra lalu menjelaskan maksud kedatangannya. Dia hendak meminta sedikit harta Naga Besukih untuk membayar hutang Manik Angkeran. Naga Besukih setuju, lalu dia mulai menggoyangkan ekornya. Beberapa emas dan permata pun rontok dari ekornya itu. Dia lalu memberikannya pada Sidhimantra. Sayangnya, Manik Angkeran tidak membayar hutangnya. Dia malah menggunakan harta itu untuk kembali menyabung ayam. Akhirnya, harta itu ludes lagi dan dia berhutang lagi.

 

Karena tak bisa lagi meminta pada ayahnya, dia lalu mencari tahu dari mana ayahnya mendapat harta. ”Ayahmu telah menemui Naga Besukih untuk meminta harta,” kata seseorang. Manik Angkeran meniru tindakan ayahnya. Naga Besukih pun muncul di hadapannya. Mendengar penuturan Manik, Naga Besukih sedikit kesal. Namun, dia tetap bersedia memberikan hartanya.

 

Saat dia menggoyangkan ekornya, Manik Angkeran silau melihat betapa banyaknya emas dan permata yang menempel di sana. Dia lalu mengambil pedang dan berusaha memotong ekor Naga Besukih. Namun, Naga Besukih berhasil melawannya dan membalas serangan itu dengan api dari mulutnya. Manik Angkeran tak bisa mengelak, dia tersambar api dan tubuhnya menjadi abu. Saat itulah Sidhimantra muncul. ”Wahai Naga Besukih, sudikah kau menghidupkan putraku lagi? Berilah dia kesempatan untuk memperbaiki dirinya,” mohon Sidhimantra.

 

Naga Besukih menghela napas. ”Baiklah. Aku akan menghidupkannya, tapi dia tak boleh pulang denganmu. Dia harus tinggal di sini dan menjadi muridku. Aku akan mendidiknya menjadi orang yang baik dan berilmu.” Sidhimantra setuju. Manik Angkeran pun hidup kembali. Untuk mencegah Manik Angkeran pulang bersamanya, Sidhimantra mengeluarkan tongkatnya dan membuat garis yang memisahkan dirinya dengan anaknya. Dari garis itu tiba-tiba keluar air yang tambah lama bertambah deras. Gunung Agung pun terpisah dari sekitarnya. Genangan air itulah yang kemudian dikenal dengan Selat Bali yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Jawa.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
KrediOne
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.

avatar
Admin2026
Gambar Entri
Berikut Cara Mengembalikan Dana PT Tri Usaha Berkat
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.

avatar
Admin99
Gambar Entri
PT Tri Usaha Berkat
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.

avatar
Admin99
Gambar Entri
Cara Mengembalikan Dana Masuk PT Tri Usaha Berkat
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.

avatar
Admin99
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker