Ritual
Ritual
Ritual dan Tradisi Kalimantan Timur Kutai, Kalimantan Timur
Tarsulan Kutai
- 23 Februari 2017
Tarsulan Seni Budaya Suku Kutai
Tarsulan adalah salah satu seni budya suku Kutai yang sampai sekarang masih ada di dalam masyarakatnya. Kalau dilihat dari tujuan digelarnya; tarsulan ini ada dua macam, yaitu: Tarsulan Berkhatam Al Quran dan Tarsulan PerkawinanTarsulan Berkhatam/Betamat Al Quranberkaitan dengan tardisi agama, khususnya agama  Islam. Sedangkan Tarsulan Perkawinanberkaitan dengan tradisi adat perkawinan suku Kutai.
 
Tradisi tarsulan diawali masuknya agama Islam di daerah Kerajaan Kutai Ing Kertanegara. Seperti kita ketahui agama Islam berasal dari Arab yang masuk ke Nusantara ini melalui para pedagang Gujarat. Maka tidaklah mengherankan bersama masuknya agama Islam, masuk pula seni sastranya yang di antaranya bentuk ’syair’. Dari bentuk syair inilah yang menimbulkan keinginan dari salah seorang bangsawan Kutai untuk menciptakan seni sastra yang dapat dikaitkan dengan adat budaya suku Kutai tersebut. Maka sesuai ’nafas’ Islamnya lahirlah Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran dan dilanjutkan dengan Tarsulan Perkawinan.
 
Oleh sebab itu tidak heran kalau ada anggapan bahwa seni budaya tarsulan adalah seni budaya milik kaum bangsawan kerajaan Kutai bukan milik masyarakat umum. Namun ternyata tarsulan ini juga memasyarakat dalam suku Kutai, khususnya Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran.
Menurut hasil penelitian; dahulunya tuturan Tarsulan tersebut disampaikan oleh Penerasul dengan cara menghafal. Tetapi dalam perkembangannya karena Penerasul merasa sulit untuk menghafal, maka mereka menggunakan bentuk tertulis (naskah). Dengan demikian pada masa sekarang ini orang yang beterasul diistilahkan dengan membaca terasul atau pembacaan terasul. Walaupun begitu di daerah pedalaman (di sekitar Danau Jempang) masih ada Penerasul yang menyampaikannya dengan menghafal. Penerasul tersebut mengatakan bahwa Beliau belajar ’Berterasul’ tersebut dengan cara dilisankan (pewarisannya secara lisan).
 
Cara pembacaan tarsulan sebenarnya dasarnya adalah seperti membaca syair karena di dalam masyarakat kita juga ada mengenal pembacaan syair. Sedangkan kata syair sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu; syurr yang artinya berdendang atau bertembang. Ada assumsi pembacaan tarsul ini seperti membaca syair karena memang bentuk penulisan tarsul adalah bentuk syair. Apalagi lahirnya tarsulan ini dilatari seperti saya jelaskan di atas. Hanya saja pengembangan pembacaan tarsulan ini sesuai dengan apresiasi masyarakat pembacanya. Sehingga masing-masing pembaca (pembaca di daerah lain) agak berbeda. Perbedaan ini di dalam sastra lisan merupakan variasi yang wajar. Kalau dikatakan yang mana yang benar, maka semua ‘lagu’ pembacaan itu benar karena itu merupakan hasil apresiasi seni. Tetapi sebagai ‘alat ukurnya’ dapat kita gunakan dasar ‘nafas membaca syair’.
 
 Orang yang menyampaikan/penutur Tarsulan disebut Penerasul atau Tukang Terasul. Untuk Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran biasanya hanya terdiri satu orang saja. Jenis kelamin Penerasul tergantung pada jenis kelamin yang berkhatam Al Quran. Berbeda dengan Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran, Tarsulan Perkawinan; Penerasulnya harus berpasangan. Penerasul laki-laki mewakili mempelai laki-laki, dan Penerasul perempuan mewakili mempelai wanita.

1. Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran
bendera.jpgTarsulan Berkhatam/Batamat Al Quran biasanya digelar oleh masyarakat Kutai apabila ada putra-putri mereka yang akan berkhatam Al Quran. Kelengkapan tradisi ini sebenarnya sama dengan kelengkapan berkhatam Al Quran pada suku Banjar ataupun suku Kutai sendiri yang berkhatam Al Quran tanpa menggelar Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran, yaitu: Ajuran yang ditancapkan pada tambaan pulut (nasi ketan yang dipadatkan dan dibentuk seperti gunung) serta payung kembang (payung yang dibuat dari bungan melati dan mawar).
  
Tata cara tradisi berterasul ini, yaitu: sebelum para santri memulai membaca Al Quran, maka Penerasul memulainya dengan membacakan tarsul. Fungsi pembacaan tarsulan pada acara berkhatam Al Quran ini adalah sebagai pengantar awal untuk pembacaan Al Quran. Berikut salah satu versi TarsulanBerkhatam/Betamat Al Quran:
 
Assalamualaikum saya ucapkan                       
Kepada hadirin hadirat sekalian                                         
Inilah tarsul saya bacakan                                 
Siapa sudi tulung dengarkan                                             
 
Ada suatu kayon namanya                                
Di atas nasi ditajukannya                                   
Seekor burung dari puncaknya                                         
Menanggung tarsul dengan pantunnya                             
 
Betamat Quran tamat bacaan                                           
Dengan anugrah karunia Tuhan                                        
Ajaran agama jangan ditinggalkan                     
Di akhirat nanti kita dapatkan
                                           
Membaca Quran besar pahalanya                    
Kepada pendengar rahmat baginya                  
Jika mengaku akan hambanya                                         
Di sisi Tuhan akan tempatnya                                           
 
Bentuk Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran pada kutipan di atas terlihat sekali bentuknya adalah bentuk syair. Hal ini dibuktikan dari rima setiap bait, yaitu: a-a-a-a dan keempat lariknya semuanya isi. Kemudian dari segi isi merupakan nasihat agama. Kalau Syair bentuk puisi lama dalam sastra biasanya isinya adalah hikayat atau cerita. Misalnya; Syair Siti Jubaidah atau Syair Nabi Bercukur dan sebagainya. Tetapi pada tarsulan ini isinya murni berupa nasihat agama atau informasi kemasyarakatan.
 

2. Tarsulan Perkawinan
Tarsulan Perkawinan biasanya disampaikan oleh dua orang penerasul, yaitu penerasul laki-laki dan penerasul wanita. Penerasul laki-laki mewakili mempelai laki-laki dan penerasul wanita mewakili mempelai wanita. Kedua penerasul tersebut dalam beterasul saling berbalas pantun atau bersahut-sahutan.
Pembacaan tarsulan diawali dengan duduknya kedua mempelai di pelaminan. Setelah kedua mempelai duduk di pelaminan, maka kedua penerasul duduk/berdiri di tempat yang sudah disediakan di depan pelaminan. Kemudian mulailah pembacaan tarsulan perkawinan tersebut.
Tarasulan+1.jpgKelengkapan dalam kegiatan pembacaan Tarsulan Perkawinan ini adalah; dua buah Astakhonaatau Astagona (perubahan ini dimungkinkan karena adanya pengaruh pelafalan penuturnya).Astakhona jumlahnya sepasang, yaitu: Astakhona mempelai laki-laki dan Astakhona mempelai wanita). Astakhona terdiri dari; tambaan pulut (nasi ketan yang dipadatkan) di atas talam kuningan yang dihiasi dengan dadar telur dibuat berbagai bentuk (sekaligus sebagai hiasan). Di tengah-tengah tambaan pulut tersebut dipancang isi batang pisang yang dihiasi dengan bunga-bunga dari kertas (disebut Kayon)dan di sekitarnya ditancapkan bendera-bendera kertas kecil (seperti ajuran). Kemudian di puncak Kayon tersebut bertengger seekor burung merpati yang terbuat dari kayu atau kertas dan di ujung paruhnya tergantung ’naskah Tarsulan Perkawinan’.Berikut contoh tuturan Tarsulan Perkawinan:
 
 
Pria     : Dengan nama Allah kami ucapkan,                   Wanita : Ada suatu kayon namanya,       
                              menghadap hadirin serta undangan.                                   di atas nasi ditajukannya.
                              Terima kaseh kami hidangkan,                                            Seekor burung dengan dari puncaknya,
                              di hadapan hadirin kami kumandangkan.                            menanggong terasul dengan pantunnya.
 
                 Pria     : Assalamualaikum wahai adinda,                            Wanita: Alaikum salam jawab Adinda,
                              Sambutlah salam dari Kakanda.                                          silahkan masuk wahai Kakanda.
                              Kakanda datang bukan bercanda,                                       Menyilah duduk bersama Adinda,
                              besarlah hajat di dalam dada.                                              apakah hajat di dalam dada?
 
                 Pria    : Cabe semat di dalamnya padi,                               Wanita:  Wahai Kakanda muda taruna
                             simpanlah gunting di dalam cawan.                                      Adinda miskin lagi pun hina.
                             Besarlah hajat di dalam hati,                                                 Sungguh besar hati belum sempurna,
                             ingin menyunting bunga di awan.                                          tiada orang tiada berguna.
 
Bentuk Tarsulan Perkawinan pada kutipan di atas terlihat sekali bentuknya adalah bentuk syair dan pantun. Hal ini dibuktikan dari rima setiap bait ada yang terdiri  a-a-a-a dan ada pula yang berima a-b-a-b. Pada keempat lariknya ada yang semuanya terdiri isi namun ada pula yang terdiri dari sampiran dan isi (sesuai ciri-ciri pantun). Kemudian dari segi isi terasa sekali muatan karakter budaya masyarakat suku Kutai.
 
B.     Perkembangan Seni Tarsulan
Sebagai bagian dari seni sudah tentu seni Tarsulan ini berkembang sesuai apresiasi dari kolektifnya yang  didasari akan fungsi di dalam masyarakatnya. Kalau secara teradisional seni tarsulan ini dapat dibedakan seperti tersebut di atas tadi, yaitu: Tarsulan Berkhatam Al Quran dan Tarsulan Perkawinan. Tetapi dalam perkembangannya seni tarsulan ini diapresiasi dan berkembang dalam kolektifnya berdasarkan tujuan dan isinya.
Berdasarkan tujuan penyampaian dan isi tarsulan tersebut, maka dibedakanlah tarsulan dari aspek tujuan dan temanya. Ada tarsulan yang untuk pelaksanaan Erau, Sunatan, Lamaran ataupun acara ulang tahun anak-anak dan lain-lain. Namun ada pula yang bertema politik misalnya, menjadi sarana kompanye politik; tarsulan yang bertema sosial untuk sarana propaganda sosial maupun kritik sosial dan lain sebagainya.
Pada masa sekarang ini tarsulan berdasarkan tema inilah yang marak menjadi objek lomba-lomba yang dilaksanakan masyarakatnya. Sedangkan Tarsulan Berkhatam Al Quran dan Tarsulan Perkawinan jarang sekali digelar karena untuk pergelaran tarsulan teradisional ini memerlukan beberapa kelengkapan tertentu. Misalnya; Tarsulan Berkhatam Al Quran  kelengkapannya adalah “Tambaan Nasi Ketan, Ajuran dan Payung Kembang”. Begitu pula dengan Tarsulan Perkawinan kelengkapan utamanya adalah sepasang “Astakhona”. Semua kelengkapan ini memerlukan pembiayaan yang cukup besar. Selain itu sulit sekali sekarang ini untuk mendapatkan penerasul, terutama penerasul yang berpasangan untuk Tarsulan Perkawinan. Kedua hal inilah paling tidak faktor penyebab “enggannya” masyarakat suku Kutai melaksanakan kegiatan seni tarsulan ini.
Sebagai seni teradisional diharapkan apresiasi masyarakatnya dan pemerintah berkembang ke arah yang positif. Upaya peningkatan apresiasi masyarakat seperti cara seminar yang dilaksanakan hari ini sangat besar pengaruhnya. Diharapkan pengaruh ini semakin berkembang di masa akan datang agar seni tarsulan dapat lestari sampai ke generasi berikutnya.
 
C.     Teks Tarsulan Berkhatam Al Quran
Berikut salah satu teks tarsulan yang saya temukan pada saat saya melakukan penelitian karena sebenarnya ada beberapa teks tarsulan yang lain. Ada kecendrungan bagi penerasul yang memiliki kemampuan mengarang tarsul biasanya dia akan selalu mengarang tarsul yang akan dibacanya sesuai dengan tujuan pagelaran tarsulan tersebut.
 
  TARSULAN BERKHATAM AL QURAN
 
Assalamualaikum saya ucapkan                       
Kepada hadirin hadirat sekalian                                         
Inilah tarsul saya bacakan                                 
Siapa sudi tulung dengarkan                                             
 
Ada suatu kayon namanya                                
Di atas nasi ditajukannya                                   
Seekor burung dari puncaknya                                         
Menanggung tarsul dengan pantunnya                             
 
Betamat Quran tamat bacaan                                           
Dengan anugrah karunia Tuhan                                        
Ajaran agama jangan ditinggalkan                     
Di akhirat nanti kita dapatkan
                                           
Membaca Quran besar pahalanya                    
Kepada pendengar rahmat baginya                  
Jika mengaku akan hambanya                                         
Di sisi Tuhan akan tempatnya                                           
 
Pengikut rasul junjungan kita                                             
Agama Islam sudahlah nyata                            
Kita menyembah Tuhan semesta                      
Tuhan pencipta alam semesta                                          
 
Ajaklah kawan serta kerabat
Jangan membawa hati yang murtad                 
Tuntutlah ilmu jangan terlambat
Pintunya terbuka untuk bertobat
 
Dengan karunia Yang Maha Esa
Mengerjakan larangan tentu berdosa                
Janganlah suka berputus asa
Di akhirat nanti mendapat siksa
 
Larangan itu bukanlah satu
Barang yang jahat sudahlah tentu
Janganlah lupa setiap waktu
Mohon kepada Tuhan yang satu
 
Wahailah kawan sanak saudara
Kepada Tuhan kita mengabdi
Dunia ini hanya sementara
Akhirat nanti kekal abadi
 
Janganlah malu kita belajar
Janganlah angkuh ataupun sombong
Jikalau sudah di Yaumil Maksyar
Kepada siapa meminta tulung
 
Ya Allah Khaliqul mabat
Di dal   am hadis sudah tersurat
Mulut terkunci dapat tersumbat
Seluruh badan menjadi berat
 
Jika ajal sudahlah datang
Siapa bisa akan melarang
Sakit seluruh sendi dan tulang
Seperti tertusuk sebilah pedang
 
Dari dulu hingga sekarang
Amal ibadah janganlah kurang
Harus jauhi barang terlarang
Hilanglah gelap terbitlah terang
 
Amal ibadah kita kerjakan
Barang larangan kita tinggalkan
Ajaran agama kita tingkatkan
Kepada Tuhan kita memohon ampunan
 
Tamatlah surat tamatlah larangan
Di atas kertas saya goreskan
Pada hadirin serta undangan
Jika bersalah mohon maafkan
 
 
 
Sumber bahan:
Arifin, Syaiful. 1995. Terasul Betamat Suku Kutai Ditinjau dari Bentuk Puisi Lama (Penelitian). Samarinda: Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP unmul
Arifin, Syaiful. 1997. Tarsulan Perkawinan Suku Kutai Ditinjau dari Bentuk Puisi Lama (Penelitian). Samarinda: Lembaga Penelitian Universitas Mulawarman
(http://senibudayakutai.blogspot.co.id)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu