Benjang merupakan seni tradisi yang berasal dari Tatar Sunda, yang terdiri dari Benjang Helaran, Benjang Topeng, dan Benjang Gulat. Pada awalnya seni Benjang dimulai dari Benjang Gulat. Benjang Helaran kemudian digelar untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa akan dilaksanakan Benjang Gulat. Namun, karena terdapat kekosongan waktu antara Benjang Helaran dengan Benjang Gulat, digelarlah Topeng Benjang.
Topeng Benjang terdiri dari 4 karakter, yaitu Putri, Emban (menyon), Satria, dan Rahwana. Karakter pada topeng ini mewakili setiap sifat dari manusia, seperti Putri yang memiliki sifat baik hati, Emban yang memiliki karakter lucu dan dapat menghibur, Satria yang memiliki karakter gagah berani, dan Rahwana yang memiliki sifat antagonis. Pada awalnya Topeng Benjang dimainkan oleh satu orang laki-laki yang memainkan semua karakter. Seiring berjalannya waktu, Topeng Benjang dapat dibawakan oleh perempuan, dan keempat karakter Topeng Benjang pun dapat dibawakan oleh orang yang berbeda-beda, meski masih ada yang membawakan 4 karkater langsung oleh satu orang.
Pada Benjang yang dibawakan oleh satu orang, penampil akan mengenakan kostum dengan ditumpuk, dan aksesoris di kepala tidak menggunakan sanggul, hanya ditutup oleh kain agar mempermudah dalam pergantian karakter. Apabila dibawakan oleh orang yang berbeda, warna kostum lebih diperhatikan dan disesuaikan dengan karakter masing-masing, seperti Putri menggunakan kostum putih, Emban dengan warna merah, Satria lebih dominan dengan warna hijau, dan Rahwana menggunakan warna merah.
Pergeseran juga terjadi pada durasi tarian. Dulu, dulu tarian ini berlangsung selama sekitar 2 jam, dimana pergantian setiap karakter Topeng Benjang dilakukan 25 menit sekali. Saat ini, Topeng Benjang pada setiap karakternya memiliki durasi sekitar 3-4 menit.
Topeng Benjang memiliki ciri khas. Dalam gerakannya terdapat senggolan, angin-angin, dan ada yang disebut dengan mincid benjang. Pada karakter Satria dan Rahwana terdapat gerakan pencak silat yang dimaksudkan untuk memberitahu bahwa setelah Topeng Benjang terdapat Benjang Gulat. Pada karakter Emban pun terdapat gerakan pencak silat, namun dibuat main-main karena karakter dari Emban sendiri memanguntuk menghibur. Ciri khas lain dari tari Topeng Benjang adalah tangan yang selalu mengepal hampir di setiap gerak tarinya. Bentuk kepalan tangan dalam tari Topeng Benjang merupakan wujud kekuatan atau keperkasaan seorang pria.
Sumber: http://www.unpad.ac.id/2016/12/lises-unpad-lakukan-dokumentasi-budaya-topeng-benjang-ujungberung/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...