TRADISI KEPEMIMPINAN DI DESA ADAT TAJEN,
KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN, BALI
Desa Tajen adalah desa yang berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Indonesia. Penduduk Desa Tajen berjumlah 2.921 jiwa terdiri dari 1.421 laki-laki dan 1.500 perempuan (Data tahun 2016). Ada dua sistem pemerintahan yang terdapat di Desa Tajen seperti umumnya desa-desa di Bali yaitu Desa Dinas Tajen dan Desa Adat Tajen. Desa Dinas Tajen merupakan perwakilan pemerintah Indonesia di Desa Tajen yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa dan dipilih secara demokratis setiap 5 tahun sekali. Sedangkan Desa Adat Tajen dipimpin oleh seorang Bendesa Adat yang hanya boleh dipilih dari keluarga yang mendirikan Desa Tajen pertama kali dan kepemimpinannya dapat berlangsung seumur hidup kecuali yang bersangkutan mengundurkan diri. Tugas Bendesa Adat Desa Tajen umumnya berkaitan dengan urusan suka dan duka masyarakat Desa Tajen seperti upacara persembahyangan, pernikahan, kematian, dan kegiatan lainnya berkaitan dengan adat dan budaya yang ada di Desa Tajen.
Tradisi pemilihan Bendesa Adat Desa Tajen sangat berkaitan dengan sejarah penaklukan Pulau Bali oleh Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada selaku Panglima Perang Tertinggi dan salah satu Wakil Panglima Perang yang bernama Arya Kenceng yang mendapat daerah kekuasaan di Tabanan dan Badung. Pusat pemerintahannya terletak di Pucangan / Buahan, Tabanan lengkap dengan taman sari di sebelah tenggara istana. Beliau memerintah dengan bijaksana sehingga keadaan daerah Tabanan menjadi aman sentosa. Arya Kenceng telah mengambil isteri puteri keturunan brahmana yang bertempat tinggal di Ketepeng Renges yaitu suatu daerah di Pasuruan yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Dari perkawinannya tersebut maka lahirlah dua orang putera yang bernama Sri Megada Prabu / Dewa Raka dan Sri Megada Nata / Dewa Made. Dalam kehidupannya Sri Megada Prabu / Dewa Raka tidak berminat dengan keduniawian dan membangun pesraman di Kubon Tingguh serta mengangkat lima (5) orang anak asuh ( Putra Upon-Upon ) yaitu Ki Bendesa Beng, Ki Guliang di Rejasa, Ki Telabah di Tuakilang, Ki Bendesa di Tajen, dan Ki Tegehen di Buahan.
Pemilihan lokasi untuk bermukim di Desa Tajen diawali dengan adanya cahaya/api terang (teja) yang terlihat dari kejauhan dan ternyata setelah didekati berasal dari pohon beringin. Adanya kejadian tersebut membuat Ki Bendesa (Tajen) dan pengikutnya memutuskan menetap dengan pusat pemukinan berada di bawah pohon beringan bagian selatan dengan dilengkapi tempat pemujaan (pelinggih) yang disebut Pura Puncak Batur sebagai penghormatan kepada luluhur yang merupakan keturunan Arya Kenceng. Dalam perkembangannya pohon beringin yang menghasilkan cahaya/api terang (teja) tersebut di sebut sebagai Taru Agung (Pohon Agung) dan desa tempat bermukim di sebut Desa Tajen.
Untuk menghormati peristiwa tersebut maka masyarakat meyakini bahwa yang berhak memimpin Desa Adat Tajen adalah keluarga (keturunan) dari Ki Bendesa Tajen yang menempati rumah di sebut Jro Gede Tajen. Dan sampai saat ini tradisi tersebut tidak pernah dilanggar karena masyarakat percaya akan akibat yang tidak baik jika tradisi dihilangkan. Dan untuk Desa Dinas Tajen (sesuai dengan UU Pemerintahan Dalam Negeri ) masih diijinkan untuk mengambil orang yang bukan keluarga (keturunan) Ki Bendesa Tajen. Untuk mengingatkan hal tersebut maka dibuatkan prasasti yang di tempatkan di depan rumah Ki Bendesa Tajen.
Sumber: Babad Arya Tabanan, Kantor Dokumentasi Budaya Bali, Propinsi Daerah Tingkat I Bali, Denpasar, 1997
#OSKMITB2018
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...