TAMBAIG berasal dari akar kata “Waig” yang artinya “air”, Tambaig arti harafiahnya adalah “makhluk air”. Gambar dibawah ini merupakan batu yang oleh masyarakat Dusun memanggilnya sebagai “Tosung Tambaig” yang bermakna “Lesung Tambaig”. Lesung itu dipercayai milik bangsa roh ghaib yang dipanggil Tambaig. Dari ukuran Lesung itu, kita dapat mengetahui bahwa roh-roh yang dipanggil Tambaig ini makhluk yang besar. Kononya, lesung batu ini berkeramat dan dapat membuat alam menjadi kacau bilau sekiranya ada yang berbuat tidak baik di tempat lesung itu berada, misalnya kencing diatas batu itu.
Dalam kepercayaan kaum Dusunic, Tambaig merupakan satu bangsa makhluk halus yang berkuasa diair, entah itu disungai, saluran air, tasik, etc. Nama panggilan lain untuk bangsa roh halus ini adalah “Salasak”. Ada juga roh halus yang masuk bangsa “Tambaig” iaitu roh yang dipanggil “Pulos.” Roh ini roh yang dihormati terutama oleh para petani, kerana dia akan memperkuatkan empangan untuk saliran air sawah (Konolian/Torogison). Makhluk halus ini juga dipercayai menghuni “Kolungkud” iaitu, dunia di bawah bumi.
Didalam perlanggaran moral, seperti Zinah, yang akan menghukum manusia, salah satunya adalah para roh ghaib ini. Roh ini termasuk golongan bangsa roh yang negative, maka Kinorohingan (Tuhan) selalunya akan membiarkan bangsa roh jenis ini untuk menghukum manusia. Untuk menenangkan kembali kemarahan Kinorohingan dan para roh-roh ghaib yang menghuni alam semesta, para Bobolian selalunya akan “berdeal” dengan Tambaig dan Ompuan. Jikalau Tambaig tinggal didalam air dan di “Kolungkud (dunia bawah bumi),” Ompuan adalah bangsa roh (dewa-dewi) yang tinggal dilangit tingkat kedua, yang oleh kaum Dusun menyebut langit tingkat kedua dengan nama “Lungkuwon.”
Ketika perbuatan yang tidak beretika dilakukan, misalnya perzinah, maka Kinorohingan akan menarik perlindungannya kepada bangsa manusia dan membiarkan alam menjadi “alasu (panas).” Alasu dalam pengertian ini bukanlah panas dalam arti harafiah, tapi panas dalam bentuk negative seperti bencana alam, wabah penyakit, peperangan, dan sebagainya. karena, ketika itu roh-roh jahat berkuasa melakukan huru hara setelah Kinorohingan menarik perlindungannya dari Pomogunan (dunia). Maka, Bobolian selalunya akan melakukan ritual “Sogit” yang bererti “menyejukkan” atau memadamkan kemarahan Kinorohingan dan roh-roh bawahan Kinorohingan. Dalam Ritual ini akan dikorbankan babi, dan Bobolian akan berkomunikasi dengan Tambaig dan Ompuan.
Ritual “Sogit” ini selalunya dilaksanakan ditepi sungai, kerana, roh yang dilantik Kinorohingan untuk menyejukkan alam adalah “Tambaig” roh-roh yang berkuasa diair. Setelah Bobolian selesai berkomunikasi dengan Tambaig dan mempersembahkan korban yang berupa babi, maka Tambaig akan menurunkan hujan ghaib untuk menyejukkan pomogunan (dunia), sehingga segala wabah maupun bencana alam berhenti. Daging babi ini akan dipotong-potong kecil, ditusukkan dibambu dan diletakkan disetiap rumah disuatu kampung dimana ada perlanggaran moral, sehingga Kinorohingan berhenti menghukum penduduk dikampung itu. Rumah yang tidak diletakkan daging tusuk itu akan terkena tulah. Inilah kepercayaan tradisional kaum Dusun pada zaman dahulu kala.
Suatu kisah yang menarik mengenai Tambaig ada dalam legenda Dayak Rungus. Menurut legenda Dayak Rungus, pada zaman Raja Syarif Usman , yang merupakan Sultan bagi kawasan teluk Marudu di Utara Sabah, Sultan ini telah memohon bantuan kaum Rungus untuk meminta meriam daripada Tambaig. Syarif Osman dikatakan memiliki tiga meriam untuk menentang British, iaitu, meriam yang bernama Sorio, Puasdandan dan Putut Karabau. Meriam yang bernama “Sorio” Syarif Osman dapat dari Tambaig, makhluk penguasa air kepercayaan kaum Dusunic, setelah mengorbankan 10 orang manusia untuk Tambaig. Menurut kepercayaan, meriam Sorio akan berfungsi dengan sendirinya menembak musuh tanpa perlu dikendalikan manusia, dengan syarat, meriam ini yang pertama harus ditembakkan
Namun dalam peperangan menentang British, Syarif Osman kalah setelah terlupa syarat dari Tambaig. Abang ipar Syarif Osman yang bernama “Pompugan” telah menembakkan terlebih dahulu meriam “Puasdandan” dan diikuti oleh meriam yang bernama “Putut karabau.” Hasilnya, tembakkan meriam tidak mengena kapal British, semantara tembakan meriam British megenai Kapal Syarif Osman hingga rusak berat. Syarif Osman mencoba menembakkan meriam Sorio, tapi sudah terlambat, meriam ini meledak dan darah terhambur daripada meriam ini. Dalam peperangan itu, Syarif Osman telah kalah dan telah terbunuh setelah British mengejarnya. Kesultanan Marudu pun musnah dalam serangan yang dipimpin oleh Cochran dan James Brooke.
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2016/07/04/tambaig-roh-yang-berkuasa-di-air-siapakah-mereka-dan-apa-peranan-mereka-diduni-ini-menurut-keyakinan-dayak-kadazandusun/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...