Blitar - Bagaimana rasanya soto dicampur pecel? Menurut sebagian orang, memakan soto pecel tak ubahnya makan pecel namun ada kuahnya. Selain itu lebih nyaman di lidah, karena gurih santan kuah soto bisa melumerkan pedasnya sambal pecel.
Menu soto pecel ini hanya bisa ditemukan ada di warung pecel Lambe Ndower di Kanigoro Kabupaten Blitar. Seperti halnya sajian soto lainnya, seporsi nasi pecel ditambah irisan daging ayam, daun seledri dan kubis serta kecambah mentah lalu disiram kuah kuning santan soto, maka jadilah soto pecel.
Ternyata asal muasal menu ini adalah dari permintaan pembeli pecel yang minta disiram kuah soto.
"Soto pecel sudah ada sejak buyut saya jualan di Lodoyo sana. Dulu memang jualan dua menu, soto sama pecel. Terus langganannya orang tua-tua. Kalau makan pecel minta kuahnya soto biar seger katanya," ujar pemilik warung Lambe Ndower, Sulistiani pada detikcom, Selasa (3/4/2018).
Akhirnya, menu soto pecel tetap diteruskan Sulis yang mewarisi bumbu tradisional buyutnya. Tak satupun komposisi bumbu yang diubah Sulis, hingga menghasilkan kuah soto yang mengundang selera.
"Kalau bumbu soto, saya nggak berani coba-coba. Sudah pakemnya, gak boleh diganti, tapi itu rahasia dapur buyut saya," kata Sulis sambil tertawa.
Sulis mengaku hanya mengganti daging ayamnya saja. Jika dulunya memakai daging ayam kampung, saat ini ia lebih sering menggunakan daging ayam broiler. Selain daging ayam kampung yang makin susah dicari, daging ayam broiler dinilai lebih murah.
Satu di antara pelanggan soto pecel adalah Yudi (45). Walaupun usianya belum tergolong manula, tapi lelaki yang berprofesi sebagai polisi ini mengaku sangat suka soto pecel.
"Saya awalnya penasaran sama orang yang beli soto pecel. Gek piye rasanya (gimana rasanya) pecel kok dicampur soto. Opo yo enak (apa ya enak). Setelah saya pesen sendiri, weehh... ternyata memang enak. Jadi ya terasa pecel ya terasa soto, yang jelas seger," aku Yudi yang datang bersama dua putrinya.
Ingin mencoba? Seporsi soto pecel di warung ini dihargai Rp 10 ribu. Lauknya lengkap, mulai dari tempe goreng, dadar jagung, hingga rempeyek. Ini belum termasuk bonus suwiran daging ayam lho.
Sumber:
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3950284/soto-pecel-alternatif-menu-pecel-di-blitar
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara