Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Situs Prasejarah Jawa Barat Tasikmalaya
Situs Sodonghilir ( Syeikh Tubagus Anggariji )
- 17 Februari 2015

Lokasi khas ziarah Sodonghilir (Seikh Tubagus Anggariji)  dan gua Daha berlokasi di Desa Cikalong Kecamatan Sodonghilir. Berjarak sekitar 50 km dari  pusat kota Tasikmalaya.  Luas area sekitar 2 Ha, Seikh Tubagus Anggariji berasal dari Banten. Beliau adalah murid Seikh Abdul Muchyi Pamijahan yang menyebarkan agama islam di wilayah Jawa Barat Selatan. Dalam menyebarkan agama Islam, dalam menyebarkan agama Islam selain berkeliling pelosok Desa beliau mengajarkan agama di dalam gua yakni gua Daha/Rahong, mengingat situasi keamanan yang tidak aman.

Syech Tiubagus Anggariji adalah santrinya Waliyulloh Syech H. Abdul Muhyi Pamijahan. Menurut informasi dari beberapa kasepuhan, para pendahulu, beliau  adalah keturunan Banten Syech Maulana Hasanudin,   beliau datang ke Pamijahan di utus orang tuanya untuk menuntut Agama Islam di Pesantren Seikh H. Abdul Muhyi Pamijahan.

Selama berguru kepada Seikh H. Abdul Muhyi, Seikh Tubagus Anggariji cukup menonjol sekali didalam menuntut ilmunya sehingga oleh gurunya diberi kepercayaan untuk memimpin/ mengepalai beberapa rekan santri yang lain. Beliau diangkat sebagai Lurah santri atau Rois. Karena melihat kepandaian dan kecerdasan beliau, kepercayaan gurunya semakin bertambah kepadanya, sehingga gurunya memberi tugas untuk menyebar luaskan ilmu agama Islam di Kampung Jati Desa Cikalong Kecamatan Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya. Banyak kepercayaan masyarakat terhadap beliau karena melihat banyaknya ilmu yang disampaikan, selain dari itu kelainan yang dimiliki beliau yaitu di bidang qiro’at mengalunkan kalam Illahi dan adzan.

Dalam status keluarga beliau adalah perjaka/bujangan sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah beristri (1529 M).  Gua Daha/Rahong banyak memiliki keindahan yang melambangkan perjuangan Seikh Tb. Anggariji ketika menyebarkan agama Islam. Sehingga hal ini dapat menarik perhatian untuk ditapakuri dan disyukuri atas kebesaran Alloh SWT dsn gus ini memiliki panorama alam indah, sehingga dari keistimewaan Gua itu dapat membuat penasaran untuk dikunjungi, sekaligus melihat tapak jejak perjuangan Seikh Tubagus Anggariji dalam menyebarkan agama Islam.  Setelah beberapa lama beliau bermukim di kampung Jati Desa Cikalong beliau meninggal dunia dan  di makamkan di kampong Jati yang dikenal sekarang lokasi ziarah Seikh Tubagus Anggariji. Profil Gua Daha/Rahong : Nama Gua/Sinonim: Daha/Rahong Letak

Kordinat: 108º 02’ 47.8” BT 07º 27’ 07.0” LS

Ketinggian: 444 meter DPL Bloc/

Kampung/Dusun: Cikaret/Cipogor

Desa/Kecamatan : Cikalong/Sodonghilir

Kabupaten/Provinsi : Tasikmalaya/Jawa Barat

Bentuk mulut gua : Bulat /lonjong(amorf)

Ukuran mulut gua : 4,2 x 11,4 meter

Panjang lorong gua : 352 meter(lorong utama)

Lebar lorong gua : 0,8 - 14 meter

Kapasitas memuat : 100 – 1000 orang

Derajat kesulitan : Mudah-Sulit

Kepemilikan tanah : Tanah 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu