Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Situs Prasejarah Jawa Barat Bekasi
Situs Buni
- 27 Februari 2015

Buni, terletak di Kampung Buni Pasar Emas, Desa Buni Bakti , Kecamatan Babelan. Secara geografis terletak pada UTM : X 725.518.19 Y 9.324.459.91 34 dpl / sekitar Latitude :  -6.089307 Longitude  : 107.022243   dan ketinggian 23 m Di atas permukaan laut. Situs Buni merupakan kawasan penemuan benda-benda arkeologi, hasil penelitian di wilayah Kampung Buni Pasar Mas dan Buni Pendayakan menunjukkan adanya temuan berupa tembikar terdiri dari macam-macam bentuk dan ukuran berupa periuk, mangkuk berkaki, kendi dan tempayan.

Selain itu ditemukan adanya beliung persegi, artefak logam perunggu dan besi, gelang dari batu dan kaca, perhiasan emas, manik-manik, bandul jala dari terakota dan tulang belulang manusia. Agaknya masyarakat Buni telah mengenal tradisi penguburan langsung tanpa wadah dengan tembikar sebagai bekal kuburnya, namun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa tembikar-tembikar tersebut dimanfaatkan pula untuk keperluan sehari-hari. Selain itu di Kampung Buni juga ditemukan alat-alat berupa kerang, periuk, tengkorak dan tulang manusia, gelang, manik-manik dalam berbagai bentuk dan warna. Cincin dalam berbagai ukuran, dan kapak persegi terbuat dari batu. Di Buni Wates ditemukan juga periuk berhias. Penemuan berbagai aneka perhiasan dari emas dan tulang-belulang manusia yang menggemparkan terjadi pada 1950-an sampai 1970-an. Penemuan pertama tatkala seorang warga Kampung Buni, Dogol, membuat kali kecil (kalenan) yang menghubungkan kali Bekasi dengan sawahnya pada 1958. Tiba-tiba cangkulnya mengenai benda keras. Setelah diperhatikan ternyata benda tersebut berupa tulang belulang dan tengkorak manusia. Di tubuhnya tertinggal perhiasan terbuat dari emas berupa manik-manik (seperti tasbih) dalam kondisi sudah bercerai berai. Rupanya, setelah dilakukan penggalian di sekitar lokasi, ditemukan perhiasan, dan terdapat tulang manusia. Perhiasan yang ditemukan diantaranya berbentuk manik-manik, cincin, bintang, kembang kelapa, stambul, topeng dan mahkota. Dari hasil perbandingan antara bentuk dan kreasi tahun 1950-an ternyata emas temuan tersebut sangat berbeda teknik pembuatannya. cincin misalnya kepalanya mirip stempel dan berbentuk polos. Masyarakat juga menemukan berbagai artefak lain seperti tembikar, beliung persegi, kapak perunggu. Selain itu juga ditemukan sisa-sisa makanan berupa cangkang-cangkang moluska dan tulang-tulang hewan. Namun demikian tampaknya temuan tembikar adalah yang paling menonjol mengklasifikasikan tembikar komplek Buni menjadi dua, yakni tembikar neolit dan perundagian. Tembikar neolit ditandai oleh tatap berukir dengan pola hias anyaman keranjang dan duri ikan. Pada masa perundagian tembikar Buni makin berkembang seperti periuk, kendi, cawan miarni, cawan berkaki, tutup dan bandul jala. Penemuan harta karun perhiasan tersebut, mengundang masyarakat lain dari kampung lain, kota Bekasi, Jakarta dan wilayah lain untuk mengadu nasib di Buni. Dampaknya, Buni tempat ditemukannya perhiasan emas itu menjadi ramai laksana pasar. Itu sebabnya pada perkembangannya Kampung Buni lebih dikenal dengan julukan Kampung Buni Pasar Emas. Penelitian situs Buni pernah dilakukan beberapa kali oleh Tim Penelitian dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN), yaitu tahun 1960 (berupa ekskavasi penyelamatan) dan dilanjutkan secara intesif pada tahun 1964, 1969 dan 1970 LPPN yang dipimpin oleh R.P. Soejono. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan  :

• Jenis keramik tanah liat (gerabah) terdiri dari jenis periuk, cawan, pedupaan dan kendi. Periuk berupa periuk bulat dan periuk berkarinasi. Cawan terdiri beralas bulat dan cawan beralas rata.  Pedupaan, berbadan dan mempunyai kaki agak panjang dan melebar. Sedangkan kendi, terdiri dari kendi berbadan membulat dan kendi berkarinasi. Kedua kendi berleher panjang dan tidak berkarinasi. (Surayasa 1975:5-8). 

• Klasifikasi tembikar komplek Buni menjadi dua, yakni tembikar neolit dan perundagian. Tembikar neolit ditandai oleh tatap berukir dengan pola hias anyaman keranjang dan duri ikan. Pada masa perundagian tembikar Buni makin berkembang seperti periuk, kendi, cawan miarni, cawan berkaki, tutup dan bandul jala.

• Berdasarkan warna, gerabah ”Komplek Buni” dapat dibedakan, yaitu gerabah berwarna kemerahan dan gerabah berwana  keabu-abuan. Gerabah berwarna kemerahan umumnya berhias gores dengan pola garis sejajar dan tumpal, sedangkan gerabah keabu-abuan umumnya dihias dengan teknik tekan (tera) dan teknik gores, dengan pola hias lingkaran memusat, garis-garis sejajar dan jalatumpal, sedang pola hias gores terdiri dari garis-garis sejajar dan tumpal. 

• Gerabah dibuat diperkirakan dengan teknik tatap dan pelandas serta teknik roda putar. 

• Dari hasil penelitian prasejarah mendapat kesimpulan bahwa tembikar Komplek Buni ini berkembang pada sekitar abad ke-2-5 Masehi dan mendapar pengaruh dari tembkar S-huynh-Kalanay.

• Fungsi gerabah Kompleks Budaya Buni, dapat diduga sebagai salah satu benda magis yang dipakai sebagai alat upacara atau sebagai bekal kubur, karena cukup banyak penemuan gerabah ini bersama-sama dengan tulang-tulang manusia dan benda lainnya seperti beliungbatu persegi, gelang batu daln sebagainya. Selain itu juga ada dugaan bahwa gerabah-gerabah berfungsi sebagai benda untuk keperluan kehidupan sehari-hari yang bersifat profan. 

• Semua situs sudah hancur dan temuan-temuannya sudah bercampur aduk. Tidak jauh dari Kampung Buni Pasar Emas dan Buni Pendayakan, perhiasan juga ditemukan di Kampung Kedung Ringin, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi. Di sana ditemukan perhiasan emas berbentuk telor ikan, kembang kelapa, tali sepatu, songko haji berbahasa Arab bertuliskan ”Haji Saka”, corong lampu, pedang, kendi. Bersamaan dengan ditemukannya  perhiasan emas, juga ditemukan tulang dan tengkorak manusia. Dari situ menunjukkan masyarakat kala itu percaya perhiasan tersebut harus digunakan untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia. Perkembangannya kemudian menunjukkan bahwa Buni bukan hanya sekedar sebuah situs kecil, melainkan suatu komplek kebudayaan yang cukup luas dengan cakupan di sepanjang pantai utara Jawa Barat, di daerah aliran Sungai Cisadane, Ciliwung, Bekasi, Citarum, dan Cipagare, sehingga dinamakan dengan komplek kebudayaan Buni. Komplek ini mempunyai wilayah sebaran yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok Tanggerang, Kelompok Bekasi dan kelompok Rengasdengklok. Kelompok Tangerang terdiri atas situs-situs Serpong, Curug dan mauk. Kelompok Bekasi terdiri atas atas Buni, Kerangkeng, Puloglatik, Pulo Rengas, Kedungringin, Bulaktemu, Rawa Menembe, Batujaya dan Tugu. Kelompok Rengasdengklok  terdiri atas Babakan Pedes, Tegalkunir, Kampung Krajan, PuloKlapa, Cibutek, Kebakkendal, Karangjati dan Cilogo. Sebagian besar benda-benda peninggalan situs Buni, kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Lokasi situs Buni sendiri, telah dibelah menjadi dua wilayah sejak dibangunnya Kali Canal Bekasi Laut (CBL). Lokasi bekas ditemukannya situs, kini sudah berdiri bangunan industri pembuatan baling-baling kapal.

Dekat lokasi penemuan situs Buni, juga sedang berlangsung eksplorasi minyak mentah dan gas bumi, disana pula dilakukan ribuan titik uji seismik (getaran) menggunakan bom dinamit di sejumlah lokasi sekitar Kecamatan Babelan, Sukawangi, Tarumajaya dan Muaragembong. Selain itu di sana akan dibangun berbagai industri menengah dan berat. Bila tidak hati-hati dikhawatirkan, akan merusak situs yang belum tergali. Temuan Gerabah dari Kawasan Budaya Buni, diduga ada yang berasal dari Arikamendu (India Selatan) abad ke-4 M. Gerabah Arikamedu umumnya ditemukan pada kedalaman di atas 2 meter dan bercampur dengan Gerabah-gerabah Komplek Buni. Dari hasil analisis laboratorium, diketahui pula bahwa bahan pembuat tembikar Arikamedu berbeda dengan tembikar-tembikar lain yang ditemukan di Candi Blandongan, Situs Batujaya, Kabupaten Karawang.  Dengan demikian dapat diduga masyarakat Sunda kuna pendukung tradisi tembikar Komplek Buni (tradisi prasejarah) telah melakukan kontak dengan daerah luar (Indis) yang kemudian berkembang menjadi sebuah masyarakat pendukung Budaya Buni. Penyebaran gerabah Kawasan Budaya Buni berasal Arikamedu melalui Tamluk dan Tamralipa (India) yang merupakan pelabuhan kuno yang besar dan ramai masa Dinasti Pala, meskipun sesungguhnya Tamluk telah lebih dahulu muncul dibandingkan dengan Dinasti Pala. Kota Tamluk bukan saja sebagai kota pelabuhan melainkan pula telah menjadi pusat agama Budha di Bengal. Berdasarkan berita Fa hien, Hiun Tsang dan I-Tsing, Tamluk dikenal sebagai pusat agama Budha (Gayatri Sen Majumdar, 1983:4). Dalam laporan I-Tsing yang menetap di Tamluk selama dua tahun menyebutkan bahwa pada masa itu di bawah pemerintahan Kerajaan Gupta yang diperintah oleh Chandra Gupta. Pada masa itu, Raja telah mendirikan 20 bangunan suci Budhis. Dari laporan-laporan tersebut diketahui bahwa Dinasti Pala mendirikan kerajaannya setelah  keruntuhan Kerajaan Gupta.

Jika membandingkan kondisi masyarakat Buni masa lampau yang memiliki peradaban unggul, amat bertolak belakang dengan masyarakat Buni saat ini yang sebagian masuk dalam pra sejahtera I. Aliran kali Bekasi yang dahulu untuk kepentingan lalu lintas, mencari ikan, dan sumber air bersih, namun sekarang sudah terputus sejak dibangunnya kali CBL dan hanya menjadi kubangan limbah. Ikan sulit didapat, sehingga mereka banyak memenuhi kebutuhan hidupnya dari menanam eceng gondok, bahkan air bersih sangat sulit didapat.  

Lokasi: Kampung Buni Pasar Emas, Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan

Koordinat : 6 5' 21" S,  107 1' 20" E

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna