Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Aceh Pulau Sikintan
Sikintan, Anak Durhaka
- 14 November 2018

Dahulu, disebuah kampung hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Sikintan. Pekerjaan ayah Sikintan mencari kayu. Kemudian kayu itu dijual kepasar. Uang penjualan kayu itu digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari.
            Pada suatu malam, ayah Sikintan itu bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi seorang tua. Orang tua itu menunjukkan, di hulu sungai ada sebuah rumpun bambu besar. Di tengah rumpun bambu itu ada tongkat intan.
“ carilah karena itulah anugerah untukmu “, ujar orang tua itu.
            Keesokan harinya ayah Sikintan mengajak anaknya pergi ke hulu sungai. Sikintan bertanya pada ayahnya, ada apa di hulu sungai. Namun, ayahnya mengatakan, hanya jalan-jalan saja.
            Mereka berjalan kehulu menyusur sungai. Tak berpa lama kemudian, mereka tiba diserumpun bambu. Ayah Sikintan mendekat ke rumpun bambu itu.
“ ayah sedang mencari apa ?”
            ayahnya tak menjawab, malah sibuk mencari-cari. Tak berapa lama, wajahny berbinar, ia melihat tongkat intan. Cepat-cepat diambilnya tongkat berharga itu dan segera dibawanya pulang.
            Kemudian ayah Sikintan menceritakan mimpi tentang tongkat itu. Ketika tiba di rumah, ibu Sikintan heran melihat suaminya memiliki tongkat intan.
            Mereka bertiga mufakat akan menjual tongkat intan itu. Tapi kemana akan dijual ? bila di daerah itu dikjual, orang-orang tentu bisa menduga bahwa barang itu dicuri. Bukankah hidup keluarga itu miskin.
            Akhirnya orang tua Sikintan meminta Sikintan menjual tongkat itu ke negeri lain. Sikintan pergi dengan perahu. Sesaat sebelum berangkat, ayah Sikintan berpesan, “ kalau kamu sudah menjual tongkat intan ini dan mendapat uang banyak, jangan lupa pada kami. Ingat hidup ayah ibumu miskin.”
“ percayalah ayah. Anakda akan selalu mengingat ayah dan ibu, “ ujar Sikintan.
            Dalam perjalanan, Sikintan selalu membantu pemilik perahu. Ketika sampai di tujuan, Sikintan dibebaskan dari ongkos. Bahkan, pemilik perahu memberikan sedikit uang.
            Hati Sikintan merasa senang. Tiba di negeri itu, ia mencoba mencari induk semang. Beberapa hari ia tinggal di rumah induk semangnya. Suatu hari, ia pergi ke pasar menjual tongkat intan yang dibawanya. Beberapa toko yang ditawarinya tak mampu membeli tongkat intan yang mahal itu. Untunglah ada ynag menunjukkan toko paling besar di negeri itu.
“ mungkin toko itu mau membeli barangmu ini. “
            Sikintan membawa tongkat intan ke toko besar itu. Lalu menawarkan pada saudagar pemilik toko. Sikintan menceritakan, ia sudah menawarkan kepada beberapa toko, tapi tak sanggup membelinya. Rupanya saudagar itu merasa malu. Lalu tongkat intan itu dibelinya walaupun dengan harga yang sangat mahal.
            Setelah mendapat uang banyak, Sikintan muali berdagang. Ia membuk toko. Karena mempunyai modal besar, uasaha Sikintan tampak cepat berkembang. Ia menjadi orang kaya raya di negeri itu. Ia pun telah membeli kapal. Sebagai seorang saudagar kaya, Sikintan mempersunting istri yang cantik jelita. Hidup dalam kemewahan, ia lupa ayah dan ibunya yang miskin.
            Suatu malam Sikintan bermpimpi. Ayah dan ibunya datang menemuinya dan berkata, “ Sikintan, kamu sudah kaya raya. Mengapa lupa kepada ayah dan ibumu ? Datanglah, akami menunggumu “
            Setrlah bermimpi itu, Sikintan sadar kan keadaan ayah dan ibunya yang hidup miskin. Lalu diceriatakannya kepada istrinya. Mereka mufakat akan menjenguk ayah dan ibu Sikintan.
            Denganmenggunakan kapal sendiri, Sikintan bersama istrinya serta rombongan menuju kampung ayah dan ibunya. Ketika tiba di pelabuhan, Sikintan mengutus oarang untk memberi tahu kedatangannya kepada ayah dan ibunya, agar orang tuanya datang ke kapal. Oarang itu segera memberi kabar. Dan mengatakan bahwa Sikintan sudah kaya raya.
            Mendengar berita itu, ayah Sikintan meuju ke kapal ingin bertemu dengan buah hatinya. Di tepi kapal, ia bertanya diman anaknya Sikintan. Petugas memberitahu kepada Sikintan bahwa yahnya sudah datang. Ketika melihat ayahnya sudah tua dengan pakaian kuamal dan compang-caming pula, ia merasa malu. Malu kepada istri dan rombongannya. Sikintan tidak mengakui bahwa orang tua yang ada di hadapannya adalah orang tuanya.
‘ bukan, dia bukan ayahku, suruh orang tua itu pergi “
            dengan hati yang sedih, ayah Sikintan pulang. Di rumah, orang tua it menangis. Istrinya heran melihat suaminya tiba-tiba menangis.
“ mengapa abang menangis ?”
“ Sikintan tak mengakui aku lagi sebagai ayahnya. Coba kau kesana. Mungkin kau diakui sebagai ibunya “
            ibu Sikintan berangkat ke kapal ingin menemui anakanya. Di tepi kapal, keapada oarang, ia ia memberi tahu ingin bertemu dengan anaknya Sikintan. Ketika Sikintan melihat ibunya tua bangka dengan pakaian kumal pula, ia tidak mau mengakui orang itu ibunya. Lalu pulanglah ibu Sikintan dengan hati sedih. Tiba di rumah, ia bertangis-tangisan dengan suaminya.
            Sikintan dan rombongan pun bersama kapalnya berangkat. Tak berapa jauh meninggalkan pelabuhan, datanglah hujan dan badai. Kapal Sikintan taka dapat berlayar. Kapten kapal berkata pada Sikintan, ia telah durhaka kepada ibunya.
“ kembali ke pelabuhan. Disana nanti saya akan mengakui kedua orang tua itu sebagai orang tua saya,” kata Sikintan kepada kapten kapal.
            Tiba di pelabuhan, diutus orang untuk menjemput kedua orang tua Sikintan. Sikintan kana minta ampun. Ketika melihat kedua orang tuanya yang sangat miskin itu, Sikintan masih juga merasa malu. Sikintan mersa malu mengakui kedua orang tua itu adalah orang tuanya.
            Kedua orang tua yang datang dengan gembira karena anaknya akan minta ampun sekarang merasa sedih kembali. Sikintan belum mengakui mereka adalah ayah dan ibunya.
“ kalau Sikintan belum juga mengakui kami orang tuanya, ya sudahlah, ‘ setelah berkata begitu, kedua orang tua Sikintan poulang dengan hati yang pedih.
            Tak berapa lama kemudian, kapal Sikintan berangkat. Kedua orang tuanya berdoa kepada Tuhan, sambil berkata, “ ya Allah, kami tidak diakui sebagai orang tua oleh anak kami. Berilah dia hukuman yang Engkau kehendaki. “
            Usai oarang tua itu berdoa, datanglah angin kencang. Turun badai topan menenggelamkan kapal Sikintan. Beberapa minggu setelah kejadian, kapal itu tampak menjadi pulau. Di pulau itu hiduplah seekor monyet putih. Oarang berkata bahwa monyet itu adalah Sikintan yang durhaka kepada orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, monyet itu tak nampak lagi, mungkin meninggal dunia dengan seribu penyesalan. Sampai saat in, pulau itu dinamakan Pulau Sikintan.

Sumber:

http://yosiabdiantindaon.blogspot.com/2012/04/cerita-rakyat-aceh-sikintan-anak.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu