"Tolooong! tolooong! Aminah hilang....Aminah hilang!" Masyarakat Tulang Bawang digegerkan oleh teriakan sepasang suami istri yang kalut dan berlari kesana kemari. "Tenang, Pak, Bu. Ceritakan apa yang terjadi," Pak Kepala Kampung menghampiri dan mencoba menenangkan mereka. Kedua orangtua itu pun bercerita bahwa Aminah, anak perempuan mereka satu-satunya hilang di sungai Tulang Bawang. Ada yang melihat dia didorong oleh seekor buaya. "Tolonglah, Pak, selamatkan anak kami. Hu.. hu.. hu," Ibu Aminah memohon sambil terisak. Dengan sigap, Pak Kepala kampung langsung membagi kelompok dan menginstruksikan agar para pemuda dan lelaki yang masih gagah berpencar untuk mencari Aminah. Tentu saja mereka bersedia, apalagi ini bukan kejadian yang pertama kali. Sudah banyak korban yang hilang di sungai Tulang bawang dan tak ada yang pernah ditemukan. Di manakah Aminah? Kita lihat tempat yang lain. Tampak sesosok tubuh tergolek lunglai di sebuah gua. Ya, dia lah Aminah. "Ah, dimana aku? Umi? Buya?" Aminah menyibakkan rambut panjangnya. Bajunya basah kuyup dan sangat kotor. Dia pun melangkahkan kakinya dengan tertatih, semakin masuk ke dalam gua. "A..apa ini?" Aminah terkejut. Dia mengambil obor yang tergantung di dinding gua. Tepat di depannya, dia melihat bertumpuk perhiasan dan berkotak-kotak batu mulia. Lalu di bagian pojok, ada lemari kayu dengan pintu yang terbuka. Isinya beraneka warna jubah yang berkilauan. Dia hanya bisa melongo dan terkagum-kagum. Dia sampai lupa dengan alasan mengapa dia ada dalam gua. Tiba-tiba, "Hahahaaa, kau pasti belum pernah melihat semua ini, bukan?" Terdengar suara yang menggema dan menyeramkan. "Ssii..siapa kau?" Samar-samar, sesosok tubuh mendekati tempat perhiasan yang bertaburan itu. Seekor buaya! "Haahh! Bu-buaya... Si-siluman buaya... Tolooong... Tolooong!" Hampir saja Aminah pingsan kalau buaya itu tidak segera menyahut. "Tenanglah, gadis cantik. Engkau tak usah takut. Aku tak akan memakanmu!" Suara buaya itu tidak sekeras tadi, "Duduklah engkau dan dengarkan aku!" Bagai dicucuk hidung, Aminah menurutinya walau masih dengan perasaan takut."Sebenarnya aku adalah manusia. Namaku Somad. Aku dikutuk menjadi buaya karena keserakahanku mengambil harta para saudagar kaya yang melewati sungai Tulang Bawang! Inilah seluruh hasil kerjaku, whuahahahaha...." Aminah sampai bergidik mendengar suara buaya itu. "Tapi, untuk apa harta sebanyak ini? Sementara engkau menjadi buaya?" Aminah memberanikan diri bertanya. "Gadis pintar! Tidak selamanya aku menjadi buaya. Setiap bulan purnama dan musim panen tiba, aku berubah ke wujudku semula: Seorang lelaki gagah, sang perompak ulung! Aku membuat terowongan menuju desa, sehingga bisa bersenang-senang dan membeli apa saja yang kumau, huahahaha!" kali ini Aminah sudah tak merasakan takut lagi. Dia sedang mencermati ucapan si buaya. "Engkau harus mau tinggal di sini bersamaku!" Buaya itu mendekati Aminah yang sudah berdiri tegak. "Manalah bisa, buaya yang bijak? Kasihan orangtuaku. Mereka sudah tua," bujuk Aminah. "Jangan banyak alasan! Kau harus tinggal bersamaku! Kau akan merasakan nikmatnya hidup bergelimpangan harta! Kalau tak mau, maka engkau akan ku makan seperti yang lainnnya! Gggrrrrr!" buaya itu nampak marah sekali. Giginya yang besar seperti hendak menerkam Aminah. "Ba... baiklah buaya. Aku akan tinggal di sini" Semenjak itu, Aminah tinggal di dalam gua. Buaya memanjakannya dengan memberikan aneka baju mewah dan perhiasan indah. Karena Aminah sepertinya tenang dan nyaman, buaya jadi lengah. Suatu saat, buaya tertidur nyenyak dan lupa menutup terowongan dengan manteranya. "Ini kesempatan emas. Musim panen sebentar lagi tiba. Aku harus bisa keluar sebelum dia berubah menjadi manusia," pikir Aminah. Maka dengan melepas sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya, Aminah berjingkat melewati terowongan yang cukup panjang. Dalam perjalanan, dia tak henti-hentinya berdoa pada Tuhan agar bisa keluar dan selamat. Ketika hendak sampai di ujung terowongan, terdengar suara buaya yang berteriak keras. Oh, tidak! Buaya itu mengejar Aminah dengan tenaga yang luar biasa! Aminah berlari dan terus berlari. "Pengkhianaaat! Akan ku makan kau!" Buaya mengamuk sejadinya. Untunglah Aminah sudah berada di luar terowongan di tengah hutan. Tapi, dia bingung hendak ke arah mana. Buaya itu semakin mendekat! Untunglah ada seorang pemuda pemburu menolongnya. Ia mengarahkan anak panah ke arah buaya. Aminah pun selamat dan pulang ke rumahnya. Aminah memberi tahu gudang harta milik buaya. Penduduk kampung pun mengambil harta tersebut untuk membangun desa mereka. Berkat kecerdikan Aminah, sekarang masyarakat hidup makmur, tentram dan damai.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/siasat-aminah-yang-cerdik/
MAKA merupakan salah satu tradisi sakral dalam budaya Bima. Tradisi ini berupa ikrar kesetiaan kepada raja/sultan atau pemimpin, sebagai wujud bahwa ia bersumpah akan melindungi, mengharumkan dan menjaga kehormatan Dou Labo Dana Mbojo (bangsa dan tanah air). Gerakan utamanya adalah mengacungkan keris yang terhunus ke udara sambil mengucapkan sumpah kesetiaan. Berikut adalah teks inti sumpah prajurit Bima: "Tas Rumae… Wadu si ma tapa, wadu di mambi’a. Sura wa’ura londo parenta Sara." "Yang mulia tuanku...Jika batu yang menghadang, batu yang akan pecah, jika perintah pemerintah (atasan) telah dikeluarkan (diturunkan)." Tradisi MAKA dalam Budaya Bima dilakukan dalam dua momen: Saat seorang anak laki-laki selesai menjalani upacara Compo Sampari (ritual upacara kedewasaan anak laki-laki Bima), sebagai simbol bahwa ia siap membela tanah air di berbagai bidang yang digelutinya. Seharusnya dilakukan sendiri oleh si anak, namun tingkat kedewasaan anak zaman dulu dan...
Wisma Muhammadiyah Ngloji adalah sebuah bangunan milik organisasi Muhammadiyah yang terletak di Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisma ini menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah di kawasan barat Sleman. Keberadaannya mencerminkan peran aktif Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan dakwah dan pendidikan berbasis lokal.
SMP Negeri 1 Berbah terletak di Tanjung Tirto, Kelurahan Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Gedung ini awalnya merupakan rumah dinas Administratuur Pabrik Gula Tanjung Tirto yang dibangun pada tahun 1923. Selama pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan sebagai rumah dinas mandor tebu. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat kosong dan dikuasai oleh pasukan TNI pada Serangan Umum 1 Maret 1949, tanpa ada yang menempatinya hingga tahun 1951. Sejak tahun 1951, bangunan ini digunakan untuk kegiatan sekolah, dimulai sebagai Sekolah Teknik Negeri Kalasan (STNK) dari tahun 1951 hingga 1952, kemudian berfungsi sebagai STN Kalasan dari tahun 1952 hingga 1969, sebelum akhirnya menjadi SMP Negeri 1 Berbah hingga sekarang. Bangunan SMP N I Berbah menghadap ke arah selatan dan terdiri dari dua bagian utama. Bagian depan bangunan asli, yang sekarang dijadikan kantor, memiliki denah segi enam, sementara bagian belakangnya berbentuk persegi panjang dengan atap limasan. Bangunan asli dib...
Pabrik Gula Randugunting menyisakan jejak kejayaan berupa klinik kesehatan. Eks klinik Pabrik Gula Randugunting ini bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya di Kabupaten Sleman melalui SK Bupati Nomor Nomor 79.21/Kep.KDH/A/2021 tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap XXI. Berlokasi di Jalan Tamanmartani-Manisrenggo, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, pabrik ini didirikan oleh K. A. Erven Klaring pada tahun 1870. Pabrik Gula Randugunting berawal dari perkebunan tanaman nila (indigo), namun, pada akhir abad ke-19, harga indigo jatuh karena kalah dengan pewarna kain sintesis. Hal ini menyebabkan perkebunan Randugunting beralih menjadi perkebunan tebu dan menjadi pabrik gula. Tahun 1900, Koloniale Bank mengambil alih aset pabrik dari pemilik sebelumnya yang gagal membayar hutang kepada Koloniale Bank. Abad ke-20, kemunculan klinik atau rumah sakit di lingkungan pabrik gula menjadi fenomena baru dalam sejarah perkembangan rumah sakit...
Kompleks Panti Asih Pakem yang terletak di Padukuhan Panggeran, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, merupakan kompleks bangunan bersejarah yang dulunya berfungsi sebagai sanatorium. Sanatorium adalah fasilitas kesehatan khusus untuk mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini, kompleks ini dalam kondisi utuh namun kurang terawat dan terkesan terbengkalai. Beberapa bagian bangunan mulai berlumut, meskipun terdapat penambahan teras di bagian depan. Kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan, antara lain: Bangunan Administrasi Paviliun A Paviliun B Paviliun C Ruang Isolasi Bekas rumah dinas dokter Binatu dan dapur Gereja