Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah
Si Kentang
- 23 November 2018

Si-Kentang-%E2%80%93-Cerita-Rakyat-Sulawesi-Tengahhh.jpg

 

Seorang janda miskin tinggal sendirian. Rumahnya berupa gubuk kecil. Sehari-hari ia menumbuk padi. Bukan padi miliknya, melainkan milik Sang Raja. Ia hanya buruh upahan. Upah yang diterimanya hanyalah butir-butir beras kecil. Upah itulah yang dimasaknya untuk dijadikannya makanan sehari-hari. Untuk sayuran, Si Janda mencari tanaman sayur di tepi sungai atau di pinggir hutan, ia tinggal memasaknya.

Suatu hari Si Janda pulang dari istana. Ia telah menyerahkan beras hasil tumbukkannya. Ia juga telah mendapatkan upahnya. Si Janda kembali pulang melewati pinggir sungai. Ia ingin memetik kangkung liar yang banyak tumbuh di pinggir sungai itu.

Ketika memetik kangkung liar, Si Janda melihat seekor ketang. Hewan kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan. Mata kecilnya menatap ke arah Si Janda. Si Janda sangat tertarik. Ia lalu menangkap ketang itu dan membawanya pulang. Si Janda berniat memeliharanya.

Si Janda memelihara ketang itu di dalam belanga. Katanya, “Ini rumahmu yang baru. Engkau dapat tinggal dengan nyaman dan aman di rumahmu yang baru ini.”

Tanpa diduga Si Janda, ketang itu ternyata bisa berbicara seperti manusia!

“Terima kasih, Mak,” jawab ketang.

Si Janda sangat terkejut. Namun sejenak kemudian ia merasa senang. Kini ia mempunyai kawan berbicara. Ia tidak lagi kesepian. Setiap hari Si Janda mengajak ketang itu berbincang-bincang. Ia malah menganggap ketang itu laksana anak kandungnya sendiri. Diberinya nama untuk hewan kecil itu sesuai nama asalnya, Ketang.

Waktu berlalu. Ketang tumbuh besar.

Suatu hari Ketang nampak murung. Sikapnya lesu. Tidak bersamangat makan. Si Janda keheranan. “Apa yang membuatmu seperti itu, Anakku?” tanyanya.

“Mak,” ujar Ketang. “Apakah Mak benar-benar menganggapku sebagai anak?”

“Tentu saja, Anakku,” jawab Si Janda.

“Jika aku meminta sesuatu, apakah Mak akan mengabulkannya?”

“Jika Makmu ini mampu, Mak akan berusaha memenuhi permintaanmu, Anakku,” jawab Si Janda. “Sebutkan, apa yang ingin engkau kehendaki?”

“Mak, aku telah dewasa. Sudah saatnya aku mempunyai istri.”

Si Janda tertawa. “Jika itu maumu, mudah kulaksanakan,” ujar Si Janda. “Tunggulah sebentar. Aku akan mencarikan ketang betina untuk menjadi istrimu.”

“Mak, aku tidak ingin mempunyai istri ketang. Aku ingin beristrikan putri raja!”

Si Janda sangat terkejut. Permintaan Ketang sangat sulit ia penuhi. Raja memang mempunyai tujuh putri yang kesemuanya cantik jelita wajahnya. Namun, mana mungkin putri raja itu bersedia menikah dengan ketang?

Si Janda hanya terdiam. Ia sangat bingung.

“Mak, jika Mak tidak mau melamarkan putri Sang Raja, berarti Mak tidak sayang denganku.”

Si Janda akhirnya bersedia memenuhi permintaan Ketang. Ia lalu berangkat menuju istana raja. Dengan berani ia menghadap Sang Raja dan mengungkapkan maksud kedatangannya.

“Apa? Engkau ingin melamar putri sulungku untuk ketang peliharaanmu?”

“Tuanku Raja, ketang itu anak hamba. Ia ketang istimewa. Ia dapat berbicara seperti manusia.”

“Tidak!” tegas jawaban Sang Raja. “Aku tidak akan menikahkan putri sulungku dengan ketang peliharaanmu itu!”

Si Janda pulang dan menceritakan kejadian yang dialaminya pada Ketang. Namun, Ketang tetap memaksanya untuk kembali melamar putri raja, katanya, “Jika Putri Sulung tidak diperbolehkan untuk menikah denganku, bisa jadi putri kedua akan bersedia, Mak.”

Karena rasa sayangnya pada Ketang, keesokan harinya Si Janda kembali menghadap Sang Raja. Ia meminang putri kedua Sang Raja. Jawaban Sang Raja tetap, ia menolak pinangan Si Janda. Berturut- turut dalam beberapa hari Si Janda melamar putri ketiga, keempat, kelima, dan keenam Sang Raja. Berturut-turut pula Sang Raja menolak lamarannya.

Untuk kesekian kalinya, Si Janda kembali datang menghadap Sang Raja. “Tuanku Raja,” katanya, “perkenankan hamba melamar putri bungsu Tuanku Raja untuk Ketang, anak hamba.”

Sang Raja sesungguhnya telah jengkel menjawab lamaran Si Janda. Ia lalu memanggil putri bungsunya.

“Putri bungsuku,” kata Sang Raja. “Perempuan tua ini berminat melamarmu untuk ketang peliharaannya. Apakah engkau bersedia menerima pinangannya?”

Putri bungsu sesungguhnya mengetahui, telah enam kali Si Janda datang menghadap ayahandanya. Ia bisa merasakan, betapa sayangnya Si Janda pada ketang. Ia merasa iba pada Si Janda. Maka jawabnya, “Hamba bersedia, Ayahanda. Barangkali, Ketang itulah suami hamba.”

Sang Raja sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika putri bungsunya bersedia menikah dengan ketang.

“Pikirkan baik-baik, Putri Bungsuku,” kata Sang Raja mengingatkan. “Engkau akan dinikahkan dengan seekor ketang!”

Tetapi, Putri Bungsu tetap menyatakan kesediaannya.

Sang Raja memikirkan cara untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Maka katanya, “Jika memang engkau bisa memenuhi syarat yang kuajukan, kuperkenankan putri bungsuku menikah dengan ketang peliharaanmu itu.”

“Ampun Tuanku Raja, syarat apakah yang Paduka kehendaki?”

Sang Raja meminta syarat yang luar biasa berat. Ia meminta dua belas kereta yang penuh beriSi beras, tiga ratus ekor sapi, tiga ratus ekor kerbau, tiga ratus ekor kambing, dan perhiasan intan yang tak terhitung jumlahnya.

“Itulah syarat yang kuajukan,” kata Sang Raja.

Si Janda pulang dengan hati sedih. Ia merasa tidak akan dapat memenuhi syarat yang diajukan Sang Raja, jangankan dua belas kereta yang penuh beriSi beras, sekarung kecil beras pun ia tidak punya. Jangankan beratus-ratus sapi, kerbau, dan kambing, seekor hewan ternak piaraan pun ia tidak memiliki. Apalagi perhiasan intan. Bahkan, seumur hidupnya, belum pernah ia memiliki intan meski secuil kecil!

“Bagaimana hasil lamaran kita, Mak?” tanya Ketang ketika melihat Si Janda pulang.

Si Janda menyebutkan syarat yang diajukan Sang Raja agar Ketang dapat menikahi Putri bungsu Sang Raja.

Diam-diam tanpa diketahui Si Janda, Ketang lalu berdoa, memohon kepada Tuhan.

“Ya Tuhan, jika hamba ini orang sakti, datangkan rumah indah lengkap beserta gudang-gudang beras dan kandang-kandang hewan dari langit.”

Permohonan Ketang dikabulkan Tuhan. Berselang sesaat setelah Ketang berdoa, sebuah rumah indah berdiri megah di tempat itu. Di belakang rumah itu berdiri gudang-gudang besar. Berkarung-karung beras terdapat di dalam gudang-gudang besar itu. Di samping gudang-gudang besar itu terlihat kandang-kandang hewan. Ratusan ekor sapi, kerbau, dan kambing di dalam kandang-kandang. Riuh rendah suara mereka.

Tak terbilang terkejutnya Si Janda melihat semua itu. Ia serasa bermimpi. Namun, semuanya itu nyata di depannya.

“Mak,” kata Ketang. “Apakah itu semua cukup untuk memenuhi syarat Sang Raja?”

Si Janda menggelengkan kepala. “Ingat,” katanya, “Sang Raja meminta intan dalamjumlah tak terhingga banyaknya.”

“Intan-intan itu berada di gudang paling ujung, Mak. Semuanya sudah kusiapkan,”jawab Ketang.

Terbelalaklah Si Janda saat membuka pintu gudang paling ujung. Isinya intan yang luar biasa banyaknya, memenuhi gudang besar itu.

Hari itu juga Si Janda membawa semua syarat yang diminta Sang Raja. Ketang turut serta. Ia dimasukkan ke dalam keranjang kecil.

Sang Raja tidak bisa lagi mengelak. Pernikahan antara putri bungsunya dan Ketang pun dilangsungkan. Sangat meriah pesta pernikahan itu. Putri bungsu berseri-seri wajahnya meski suaminya hanyalah seekor ketang.

Setelah menikah, Ketang tinggal di istana. Ketang tetap tinggal di dalam keranjang yang diletakkan di dalam kamar istrinya.

Putri bungsu dan enam kakaknya merasa heran dengan kelakuan Ketang. Setiap hari Ketang menghabiskan banyak air untuk mandi. Tujuh hingga delapan tempayan air bisa dihabiskan Ketang untuk sekali mandi. Persediaan air di dalam istana sering habis untuk memenuhi kebutuhan mandi Ketang.

Putri bungsu keheranan dengan kelakuan suaminya. Setelah pernikahan mereka berumur tujuh hari, Putri Bungsu ingin mengetahui mengapa suaminya begitu banyak menghabiskan air. Putri bungsu menunggu. Ketika suaminya tengah mandi, bergegas ia melihat iSi keranjang. Dilihatnya sebuah benda menyerupai ketang. Putri bungsu membawa benda itu dan dilemparnya ke tanah. Benda menyerupai ketang itu pun berubah menjadi asap dan kemudian menghilang.

Putri bungsu kembali ke kamarnya. Ia terperanjat mendapati seorang pemuda gagah yang sangat tampan wajahnya berada di kamarnya.

“Siapa engkau?” tanya Putri bungsu.

“Namaku Pangeran Lagaligo,” jawab pemuda itu. “Akulah suamimu.”

Pangeran Lagaligo menjelaskan, ¡a sengaja merubah diri menjadi seekor ketang untuk mendapatkan istri yang baik hati. Dan kini ia telah mendapatkannya.

Tak terkirakan senangnya Putri bungsu setelah mengetahui. Ia pun hidup berbahagia bersama pangeran tampan yang sangat sakti itu. Enam kakaknya hanya bisa memandang iri kepadanya. Mereka menyesal mengapa dahulu menolak pinangan Si Janda untuk dinikahkan dengan pangeran tampan lagi sakti yang menjelma menjadi ketang itu.

 

 JANGAN GEGABAH DAN BURU_BURU MENILAI SESEORANG DARI PENAMPILAN LUARNYA.

 

Sumber: https://dongengceritaanak.com/category/cerita-rakyat/sulawesi-tengah/

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum