
Seorang janda miskin tinggal sendirian. Rumahnya berupa gubuk kecil. Sehari-hari ia menumbuk padi. Bukan padi miliknya, melainkan milik Sang Raja. Ia hanya buruh upahan. Upah yang diterimanya hanyalah butir-butir beras kecil. Upah itulah yang dimasaknya untuk dijadikannya makanan sehari-hari. Untuk sayuran, Si Janda mencari tanaman sayur di tepi sungai atau di pinggir hutan, ia tinggal memasaknya.
Suatu hari Si Janda pulang dari istana. Ia telah menyerahkan beras hasil tumbukkannya. Ia juga telah mendapatkan upahnya. Si Janda kembali pulang melewati pinggir sungai. Ia ingin memetik kangkung liar yang banyak tumbuh di pinggir sungai itu.
Ketika memetik kangkung liar, Si Janda melihat seekor ketang. Hewan kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan. Mata kecilnya menatap ke arah Si Janda. Si Janda sangat tertarik. Ia lalu menangkap ketang itu dan membawanya pulang. Si Janda berniat memeliharanya.
Si Janda memelihara ketang itu di dalam belanga. Katanya, “Ini rumahmu yang baru. Engkau dapat tinggal dengan nyaman dan aman di rumahmu yang baru ini.”
Tanpa diduga Si Janda, ketang itu ternyata bisa berbicara seperti manusia!
“Terima kasih, Mak,” jawab ketang.
Si Janda sangat terkejut. Namun sejenak kemudian ia merasa senang. Kini ia mempunyai kawan berbicara. Ia tidak lagi kesepian. Setiap hari Si Janda mengajak ketang itu berbincang-bincang. Ia malah menganggap ketang itu laksana anak kandungnya sendiri. Diberinya nama untuk hewan kecil itu sesuai nama asalnya, Ketang.
Waktu berlalu. Ketang tumbuh besar.
Suatu hari Ketang nampak murung. Sikapnya lesu. Tidak bersamangat makan. Si Janda keheranan. “Apa yang membuatmu seperti itu, Anakku?” tanyanya.
“Mak,” ujar Ketang. “Apakah Mak benar-benar menganggapku sebagai anak?”
“Tentu saja, Anakku,” jawab Si Janda.
“Jika aku meminta sesuatu, apakah Mak akan mengabulkannya?”
“Jika Makmu ini mampu, Mak akan berusaha memenuhi permintaanmu, Anakku,” jawab Si Janda. “Sebutkan, apa yang ingin engkau kehendaki?”
“Mak, aku telah dewasa. Sudah saatnya aku mempunyai istri.”
Si Janda tertawa. “Jika itu maumu, mudah kulaksanakan,” ujar Si Janda. “Tunggulah sebentar. Aku akan mencarikan ketang betina untuk menjadi istrimu.”
“Mak, aku tidak ingin mempunyai istri ketang. Aku ingin beristrikan putri raja!”
Si Janda sangat terkejut. Permintaan Ketang sangat sulit ia penuhi. Raja memang mempunyai tujuh putri yang kesemuanya cantik jelita wajahnya. Namun, mana mungkin putri raja itu bersedia menikah dengan ketang?
Si Janda hanya terdiam. Ia sangat bingung.
“Mak, jika Mak tidak mau melamarkan putri Sang Raja, berarti Mak tidak sayang denganku.”
Si Janda akhirnya bersedia memenuhi permintaan Ketang. Ia lalu berangkat menuju istana raja. Dengan berani ia menghadap Sang Raja dan mengungkapkan maksud kedatangannya.
“Apa? Engkau ingin melamar putri sulungku untuk ketang peliharaanmu?”
“Tuanku Raja, ketang itu anak hamba. Ia ketang istimewa. Ia dapat berbicara seperti manusia.”
“Tidak!” tegas jawaban Sang Raja. “Aku tidak akan menikahkan putri sulungku dengan ketang peliharaanmu itu!”
Si Janda pulang dan menceritakan kejadian yang dialaminya pada Ketang. Namun, Ketang tetap memaksanya untuk kembali melamar putri raja, katanya, “Jika Putri Sulung tidak diperbolehkan untuk menikah denganku, bisa jadi putri kedua akan bersedia, Mak.”
Karena rasa sayangnya pada Ketang, keesokan harinya Si Janda kembali menghadap Sang Raja. Ia meminang putri kedua Sang Raja. Jawaban Sang Raja tetap, ia menolak pinangan Si Janda. Berturut- turut dalam beberapa hari Si Janda melamar putri ketiga, keempat, kelima, dan keenam Sang Raja. Berturut-turut pula Sang Raja menolak lamarannya.
Untuk kesekian kalinya, Si Janda kembali datang menghadap Sang Raja. “Tuanku Raja,” katanya, “perkenankan hamba melamar putri bungsu Tuanku Raja untuk Ketang, anak hamba.”
Sang Raja sesungguhnya telah jengkel menjawab lamaran Si Janda. Ia lalu memanggil putri bungsunya.
“Putri bungsuku,” kata Sang Raja. “Perempuan tua ini berminat melamarmu untuk ketang peliharaannya. Apakah engkau bersedia menerima pinangannya?”
Putri bungsu sesungguhnya mengetahui, telah enam kali Si Janda datang menghadap ayahandanya. Ia bisa merasakan, betapa sayangnya Si Janda pada ketang. Ia merasa iba pada Si Janda. Maka jawabnya, “Hamba bersedia, Ayahanda. Barangkali, Ketang itulah suami hamba.”
Sang Raja sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika putri bungsunya bersedia menikah dengan ketang.
“Pikirkan baik-baik, Putri Bungsuku,” kata Sang Raja mengingatkan. “Engkau akan dinikahkan dengan seekor ketang!”
Tetapi, Putri Bungsu tetap menyatakan kesediaannya.
Sang Raja memikirkan cara untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Maka katanya, “Jika memang engkau bisa memenuhi syarat yang kuajukan, kuperkenankan putri bungsuku menikah dengan ketang peliharaanmu itu.”
“Ampun Tuanku Raja, syarat apakah yang Paduka kehendaki?”
Sang Raja meminta syarat yang luar biasa berat. Ia meminta dua belas kereta yang penuh beriSi beras, tiga ratus ekor sapi, tiga ratus ekor kerbau, tiga ratus ekor kambing, dan perhiasan intan yang tak terhitung jumlahnya.
“Itulah syarat yang kuajukan,” kata Sang Raja.
Si Janda pulang dengan hati sedih. Ia merasa tidak akan dapat memenuhi syarat yang diajukan Sang Raja, jangankan dua belas kereta yang penuh beriSi beras, sekarung kecil beras pun ia tidak punya. Jangankan beratus-ratus sapi, kerbau, dan kambing, seekor hewan ternak piaraan pun ia tidak memiliki. Apalagi perhiasan intan. Bahkan, seumur hidupnya, belum pernah ia memiliki intan meski secuil kecil!
“Bagaimana hasil lamaran kita, Mak?” tanya Ketang ketika melihat Si Janda pulang.
Si Janda menyebutkan syarat yang diajukan Sang Raja agar Ketang dapat menikahi Putri bungsu Sang Raja.
Diam-diam tanpa diketahui Si Janda, Ketang lalu berdoa, memohon kepada Tuhan.
“Ya Tuhan, jika hamba ini orang sakti, datangkan rumah indah lengkap beserta gudang-gudang beras dan kandang-kandang hewan dari langit.”
Permohonan Ketang dikabulkan Tuhan. Berselang sesaat setelah Ketang berdoa, sebuah rumah indah berdiri megah di tempat itu. Di belakang rumah itu berdiri gudang-gudang besar. Berkarung-karung beras terdapat di dalam gudang-gudang besar itu. Di samping gudang-gudang besar itu terlihat kandang-kandang hewan. Ratusan ekor sapi, kerbau, dan kambing di dalam kandang-kandang. Riuh rendah suara mereka.
Tak terbilang terkejutnya Si Janda melihat semua itu. Ia serasa bermimpi. Namun, semuanya itu nyata di depannya.
“Mak,” kata Ketang. “Apakah itu semua cukup untuk memenuhi syarat Sang Raja?”
Si Janda menggelengkan kepala. “Ingat,” katanya, “Sang Raja meminta intan dalamjumlah tak terhingga banyaknya.”
“Intan-intan itu berada di gudang paling ujung, Mak. Semuanya sudah kusiapkan,”jawab Ketang.
Terbelalaklah Si Janda saat membuka pintu gudang paling ujung. Isinya intan yang luar biasa banyaknya, memenuhi gudang besar itu.
Hari itu juga Si Janda membawa semua syarat yang diminta Sang Raja. Ketang turut serta. Ia dimasukkan ke dalam keranjang kecil.
Sang Raja tidak bisa lagi mengelak. Pernikahan antara putri bungsunya dan Ketang pun dilangsungkan. Sangat meriah pesta pernikahan itu. Putri bungsu berseri-seri wajahnya meski suaminya hanyalah seekor ketang.
Setelah menikah, Ketang tinggal di istana. Ketang tetap tinggal di dalam keranjang yang diletakkan di dalam kamar istrinya.
Putri bungsu dan enam kakaknya merasa heran dengan kelakuan Ketang. Setiap hari Ketang menghabiskan banyak air untuk mandi. Tujuh hingga delapan tempayan air bisa dihabiskan Ketang untuk sekali mandi. Persediaan air di dalam istana sering habis untuk memenuhi kebutuhan mandi Ketang.
Putri bungsu keheranan dengan kelakuan suaminya. Setelah pernikahan mereka berumur tujuh hari, Putri Bungsu ingin mengetahui mengapa suaminya begitu banyak menghabiskan air. Putri bungsu menunggu. Ketika suaminya tengah mandi, bergegas ia melihat iSi keranjang. Dilihatnya sebuah benda menyerupai ketang. Putri bungsu membawa benda itu dan dilemparnya ke tanah. Benda menyerupai ketang itu pun berubah menjadi asap dan kemudian menghilang.
Putri bungsu kembali ke kamarnya. Ia terperanjat mendapati seorang pemuda gagah yang sangat tampan wajahnya berada di kamarnya.
“Siapa engkau?” tanya Putri bungsu.
“Namaku Pangeran Lagaligo,” jawab pemuda itu. “Akulah suamimu.”
Pangeran Lagaligo menjelaskan, ¡a sengaja merubah diri menjadi seekor ketang untuk mendapatkan istri yang baik hati. Dan kini ia telah mendapatkannya.
Tak terkirakan senangnya Putri bungsu setelah mengetahui. Ia pun hidup berbahagia bersama pangeran tampan yang sangat sakti itu. Enam kakaknya hanya bisa memandang iri kepadanya. Mereka menyesal mengapa dahulu menolak pinangan Si Janda untuk dinikahkan dengan pangeran tampan lagi sakti yang menjelma menjadi ketang itu.
JANGAN GEGABAH DAN BURU_BURU MENILAI SESEORANG DARI PENAMPILAN LUARNYA.
Sumber: https://dongengceritaanak.com/category/cerita-rakyat/sulawesi-tengah/
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.