Sejarah asal usul kota Purwodadi berawal dari Tumenggung Sukowati yang berniat memberontak Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Raja Amangkurat Agung. Ini disebabkan oleh pemikiran Tumenggung Sukowati yang menyatakan bahwa wilayah Sukowaten (Surakarta) adalah milik Kerajaan Pajang bukan Kerajaan Mataram. Niat pemberontakan ini terdengar sampai telinga Raja Amangkurat. Namun beliau tidak terburu-buru untuk bertindak dengan hal tersebut karena tidak ingin memerangi rakyat sendiri. Daripada itu, beliau mengadang sebuah rapat agung dengan mengundang para senopati dan penasehat negara untuk mendapatkan pendapat yang kuat untuk menangani hal ini.
Pada akhir rapat, mereka menyimpulkan untuk menyelidiki terlebih dahulu keadaan sebelum memulai perang fisik atau pertumpahan darah pada rakyat yang tidak berdosa. Menyelidiki kasus ini dengan mata-mata dari kerjaan yang cerdas dan mempunyai ilmu untuk mencari kebenaran. Dan ini adalah seorang Kastria dari putra selir bangsawan Mataram yang dipanggil sebagai Pangeran Tejomantri.
Menyetujui dengan keputusan tersebut, sang pangeran pun pergi ke Sukuwaten dengan temannya seorang perawat kuda kerajaan, Ki Gamblong. Setelah sampai di Sukowaten, mereka melihat banyak pemuda dari daerah Lasem sedang berlatih untuk persiapan perang. Kesempatan ini diambil oleh Tejomantri untuk melamar kerja sebagai perawat kuda. Sebab, jika beliau melamar sebagai perajurit maka identitasnya akan terbongkar.
Diterima lamaran kerja, kedua mata-mata ini dapat melakukan tugasnya dengan baik walau harus menyamar sebagai anak dan bapak.
Namun, ketampanan pangeran sangat dikagumi oleh gadis-gadis se-usia belia. Sampai Dewi Rayungsari penasaran dengan bagaimana tampannya seorang Pangeran Tejomantri. Melihat senyuman sang Pangeran, Dewi yang beranjak dewasa ini merasakan cinta pertama. Gelisah perasaannya memikirkan sang Pangeran. Namun, perasaan itu tidaklah dirasakan Dewi Rayungsari saja. Pangeran Tejomantri pun merasakan hal yang sama. Kedekatan Rayungsari dan Tejomantri menaruh kecurigaan Tumenggung Sukowati, kecurigaan ini dimulai dari seberapa tampannya sang Pangeran yang menyamar ini. Bagaimana mungkin, anak desa yang yang lugu mempunyai wajah yang tampan, keahlian bermain kuda, seperti anak bangsawan. Karena ini, Tumenggung Sukowati mengirim mata-mata untuk mengawasi keadaan kandang.
saat terbongkar penyamaran sang pangeran. Terjadi perperangan yang tak seimbang. Akibatnya, Tejomantri melarikan diri yang menyebabkan terpisahnya beliau dengan Ki Gamblong. Mereka berlari kearah yang terpisah.
Disisi lain, pasukan Mataram mengepung Sukowaten sehingga menyebabkan keluarga Tumenggung melarikan diri. Rayungsari dianggap sebagai pengkhianat dan pergi seorang diri. Saat melarikan diri, sang dewi bertemu dengan Ki Gamblong. Ki Gamblong mengajaknya untuk pergi berhijrah ke Kadipaten Loano dan berguru dengan Bathara Loano, seorang resi di Loano yang sakti. Setelah merasa cukup, kedua orang tersebut melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Bogowonto ke arah timur. Tibalah di sebuah desa terpencil yang menjadi Purwodadi.
Kerinduan Rayungsari pada Tejomantri masih mengglayuti. Ki Gamblong menyuruh sang Dewi untuk menunggu karena prediksi beliau bahwa Pangeran masih hidup. Karena itu, setiap lamaran dari setiap pemuda desa ditolaknya. Maka dari itu, nama Dewi Rayungsari menjadi Nyi Rawong.
Bertahun-tahun berlalu, Pangeran Tejomantri tiba di sebuah sungai yang tak tahu apa namanya. Saat istirahat, dia mendengar percakapan para pemancing di sungai tersebut yang bercakap tentang kecantikan yang dimilik oleh Nyi Rawong. Penasaran dengan siapa Nyi Rawong, sang pangeranpun mendatangi tempat Nyi Rawong yang berada di tepi desa.
Muncul seorang laki-laki tua menggunakan blangkon, sangat mengenalnya, Ki Gamblong. Pertemuan antara paman dan keponakan. Dan bertemulah Pangeran dengan Dewi Rayungsari. Sang dewi jatuh pingsan hingga membuat beberapa orang menjadi panik. Setelah menyadarkan diri, Rayungsari langsung bersujud di telapak kaki Tejomantri. Karena pertemuan itu, desa kecil dinamakan purwodadi.
Cara Membatalkan Transaksi Pinjaman (AdaKami) Kamu bisa menghubungi layanan Live Chat via WA((+62821=6213=907)). jelaskan dengan baik alasan ingin melakukan Pembatalan, lalu siapkan data diri anda seperti KTP, dan ikuti langkah-langkah Pembatalan yang di instruksikan oleh customer service melalui WA.
Berikut ini cara membatalkan pinjaman (EasyCash), Silahkan hubungi Customer Service(O822=9567•411O, melalui Live Chat via WhatsApp, dan Siapkan data diri seperti KTP" dan ikuti instruksi yang diberikan oleh agen customer service untuk melanjutkan proses Pembatalan anda.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...