Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (2018) Sejarah Kebudayaan Nusantara. [Video]
|
|
Video SEJARAH KEBUDAYAAN NUSANTARA.mp4 Download (1GB) |
Sebuah karunia tuhan yang tiada banding karena kesuburan dan melimpahnya kekayaan alam. Indonesian adalah Cincin Api Asia Pasifik (ring of fire) kehidupan di nusantara menjadi bervariasi karena ada yang memiliki daerah yang basah dan ada pula yang kering dengan kesuburan yang bervariasi, perbedaan ini sangat mempengaruhi corak kehidupan manusia di indonesia. manusia pertama yang masuk ke nusantara adalah homo erectus (1,5 Juta Tahun yang lalu), sampai kepunahannya sekitar 200-100 ribu tahun yang lalu tidak banyak perubahan yang dibuat oleh homo erectus, dari arah afrika masuk homo sapiens jenis austro melanesoid ke nusantara (70-50 ribu tahun yang lalu). Pada periode kemudian ras mongoloid masuk dari daratan asia dan disusul lagi dengan kelompok penutur Bahasa Austronesia sekitar 4000 tahun yang lalu, yang menjadi penghuni mayoritas kawasan nusantara sedangkan ras melanesoid tetap hadir di papua dan sebagian di wilayah baratnya, meskipun terjadi persaingan dominasi antara mereka terdapat bukti bahwa diantara mereka dapat hidup berdampingan bahkan mungkin sekali kawin mawin sebagaimana dibuktikan oleh hadirnya ras austromelanesoid dan ras mongoloid serta munculnya rangka individu yang membawa ciri-ciri ras gabungan di pulau sumba. Bangsa Austronesia sangat adaptif pada alam nusantara mereka mengembangkan pertanian ladang dan membuat monumen monumen megalitik tradisi rumah panggung (daerah hutan) tinggal di gua gua dan menciptakan karya seni indah berupa lukisan gua. Peradapan bangsa nusantara Abad ke 4-5 lalu berkembang kontak dengan bangsa asing yang lebih kopleks terjadi pada sekitar abad ke 4-5 masehi temuan arca Buddha & Temuan stupa Bercorak Hindu, Pengaruh budaya hindu budha menjadi landasan ideologi keagamaan oleh para penguasa lokal dengan mengembangakan system pemerintahan kecil dan efektif sesuai dengan kondisi lokal, kemampuan memanfaatkan potensi sumber daya alam nusantara zaman ini ditandai oleh hadirnya kerajaan kerajaan besar yang mengembangkan tradisi maritim dan agraris yang kuat. Era Kemerdekaan yang dimulai dengan masa pemerintahan Soekarno dalam rangka membangun semangat membangkitkan nasionalisme dengan semboyan ‘’Character and National Building’’ Sukarno memanfaatkan warisan masalampau yang gemilang sebagai sumber inspirasinya. Awal pembugaran Candi Borobudur dirintis dan pembugaran candi induk Prambanan di resmikan di Jakarta Soekarno memperkasai desain tugu monument nasional (Monas) dengan mengadopsi Tradisi Hindu, Narasi diorama monas bahkan juga menggambarkan bagaimana warisan masa lampau menjadi bagian identitas bangsa Indonesia modern, atas alasan yang sama Indonesia menetapkan peninggalan masalampau yang penting sebagai cagar budaya nasional dan warisan budaya dunia.
| Item Type: | Video |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman |
| Subjects: |
Pendidikan > Kebudayaan Pendidikan > Kebudayaan > Penelitian Pendidikan > Kebudayaan > Arkeologi Pendidikan > Kebudayaan > Cagar Budaya Pendidikan > Kebudayaan > Candi Pendidikan > Kebudayaan > Sejarah Indonesia Pendidikan > Kebudayaan > Warisan budaya |
| Divisions: | Direktorat Jenderal Kebudayaan > Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman |
| Depositing User: | Partogi Maiparsaulian |
| Date Deposited: | 11 Mar 2019 10:58 |
| Last Modified: | 11 Mar 2019 10:58 |
| URI: | http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/10479 |
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...