"Pethik Tirta" merupakan upacara selamatan desa (merti desa) yang dijadikan tradisi di Desa Jenar Lor, Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Istilah "Pethik Tirta" berasal dari kata "Pethik" yang berarti "mengambil" dan "Tirta" yang berarti "air". Secara etimologis, Pethik Tirta berarti upacara mengambil air (yang dilakukan di Sumur Talang, suatu sumur beji / tua yang terletak di Dusun Talang Bagus Desa Jenar Lor Kecamatan Purwodadi) yang dipercaya membawa berkah.
Asal-usul upacara ini berkaitan erat dengan keberadaan Bulak (kawasan pertanian yang sangat luas) yang meliputi wilayah Desa Jenar Lor, Jenar Kidul, Walikoro, Sruwoh, Singkil, Wingko, Pundensari, Jenar Wetan. Saat ini Bulak tersebut dikenal dengan sebutan Bulak Kethip. Upacara bersih desa sendiri diduga telah dilaksanakan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan sejak zaman pra-Islam di Jawa. Penyelenggaraan upacara itu terkait dengan asumsi bahwa pada hakekatnya manusia memiliki sistem kepercayaan, yang merupakan salah satu unsur universal dari kebudayaan. Setelah kedatangan agama-agama wahyu, keyakinan akan pemujaan dan penghormatan kepada roh nenek moyang tetap berkembang. Setelah Islam berkembang di Jawa, kepercayaan itupun tidak dapat dihilangkan, karena sudah menjadi tradisi secara turun temurun. Upacara Pethik Tirta di Desa Jenar Lor sudah berlangsung lama dan dijadikan aktivitas rutin tahunan dengan tujuan utama yakni : Pertama, untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya hingga masyarakat dapat mengadakan panen raya. Kedua, Pethik Tirta sebagai wujud terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada leluhur yaitu Bethara Loano yang telah trukayasa (membuat) sumur dan membuka lahan persawahan, sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat hingga sekarang. Ketiga, Pethik Tirta merupakan wujud permohonan agar warga desa diberikan keselamatan lahir dan bathin, kesehatan, panjang umur serta murah rezeki.
Pada umumnya upacara tradisional diselenggarakan pada tempat yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai pusat daerah tersebut. Demikian halnya dengan masyarakat Desa Jenar Lor, penyelenggaraan upacara Pethik Tirta diawali di Balai Desa sebagai pusat masyarakat berkumpul. Kemudian upacara dilanjutkan dengan kirap "tumpeng"atau arak-arakan mengelilingi desa seterusnya menuju Pendapa Sumur Talang. Sampai sekarang masyarakat meyakini bahwa upacara Pethik Tirta diselenggarakan dengan pagelaran wayang kulit pertama kali semenjak Demang Jotirto berkuasa di daerah tersebut yang makamnya terletak di sebelah barat Sumur Talang di pemakaman "Panggang". Tapi belum ditemukan keterangan yang pasti tentang tahun berapa pertama kali upacara Pethik Tirta itu diselenggarakan di Desa Jenar Lor. Berdasarkan keterangan dari beberapa masyarakat, upacara ini sudah dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka, dan telah dijadikan tradisi yang harus dilaksanakan. Dalam perspektif budaya, upacara tradisional merti desa Pethik Tirta ini merupakan manifestasi dari pengaruh kepercayaan animisme yang kemudian terpelihara dalam tradisi budaya Hindu.
Upacara Pethik Tirta merupakan budaya asli masyarakat lokal yang kemudian berinteraksi dan terjalin dalam proses akulturasi dengan budaya Hindu, Budha, dan Islam. Penyelenggaraan upacara Pethik Tirta setiap setahun sekali pada bulan Rojab , dengan waktu yang ditentukan oleh panitia sebagai pemrakarsa dengan melibatkan segenap unsur masyarakat sebagai peserta. Dan upacara ini penyelenggaraannya disertai dengan pertunjukan kesenian wayang kulit. Pada kalangan masyarakat agraris, upacara merti desa lazim diselenggarakan setahun sekali terutama sehabis masa panen padi dan penetapan hari pelaksanaan cenderung dipilih hari Sabtu dan Minggu, meskipun ada yang dilaksanakan selain hari itu dengan pertimbangan perhitungan hari baik berdasarkan penanggalan Jawa. Pemilihan hari Minggu sebagai waktu penyelenggaraan upacara Pethik Tirta dengan alasan hari libur, sehingga diharapkan mereka yang bekerja di luar bidang pertanian dapat ikut berperan, serta anak-anak sekolah juga dapat ikut memeriahkan. Tempat penyelenggaraan upacara merti desa Pethik Tirta selama ini menggunakan Sumur Talang, dengan puncak upacara mengambil air dari Sumur Talang tersebut. Sedangkan kegiatan terdiri dari : Selamatan kenduri di Sumur Talang, Kirab Tumpeng, Pagelaran Wayang kulit di Pendapa Sumur Talang, Kenduri dan Pethik Tirta.
Narasumber dan Dokumentasi : Drs. Eko Riyanto
Main source: http://budayapurworejo.blogspot.com/2012/02/petik-tirta-desa-jenar-lor-kec.html?m=1
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...