×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

Prasasti

Elemen Budaya

Naskah Kuno dan Prasasti

Provinsi

Jawa Barat

Prasasti Pasir Koleangkak

Tanggal 12 Feb 2015 oleh Muhammad Arif Nurrohman17.

Prasasti Koleangkak terletak ± 24 km sebelah barat dari Kota Bogor, atau ± 10 km dari Kota Leuwiliang atau ± 14 km sebelah selatan Kota Kecamatan Nangung. Prasasti ini termasuk di dalam Kampung Pasir Gintung RT 02/RW 04, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung. Secara geogrfis terletak pada koordinat 106°32'46"BT dan 06°34'06" LS dengan ketinggian  ± 485 m di atas permukaan air laut. Lokasi dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda empat atau kendaraan roda dua. Dari Kota Bogor menggunakan kendaraan umum Bogor – Leuwiliang, kemudian dilanjutkan anggkutan umum Leuwiliang-Nanggung, berhenti di Parakanmuncang (depan rumah kepala Desa Parakanmuncang). Dari sini berjalan kaki menyusuri jalan setapak sejauh ± 700 m melewati perkampungan, ladang, sawah menuju Bukit Koleangkak.

Dahulu daerah itu termasuk tanah perkebunan Jambu sehingga prasasti itu dikenal dengan nama Prasasti Jambu. Sekarang ada yang menyebutnya Prasasti Pasir Koleangkak atau Prasasti Pasir Gintung menurut nama kampung di dekatnya. Penemuan prasasti ini pertama kali dilaporkan oleh J. Rigg pada tahun 1854. Kemudian Prasasti ini telah dialih aksara dan diterjemahkan oleh J.Ph. Vogel (1925) The Earliest Sanskrit Inscription of Java, dan oleh R.M. Ng. Poerbacaraka (1952) dal ;am bukunya Riwayat Indonesia I. Prasasti dipahatkan pada batu andesit, dengan bentuk segi tiga tidak sama sisi, berukuran tinggi 73 cm, sisi-sisinya berukuran 290 cm, 264 cm, 240 cm. Pada permukaan batu yang relatif sudah rata sebelumnya dan tidak melalui proses penghalusan terlebih dahulu, tertera inskripsi dua baris dengan huruf Palawa dan Bahasa Sangsakerta, di atas tulisan terdapat bentuk sepasang telapak kaki. Isi Inskripsinya :

Isi : "criman data krtajnyo narapatir asamo yah purl tarumayan namma cri purnnavarmma pracuraripucarabedyavikhyata- varmmo tasyedam padavimbad'iyamarinagarotsadanenityadaksham bhaktanam yandripanam bhavati sukhakaram calyabhutam ripunam".

Artinya : "Gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termashur Sri Purnawarman, yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan baju zirahnya yang terkenal (warman). Tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya."

Prasasti tidak menyebutkan pertanggalan tetapi dari paleografinya dapat diperkirakan ditulis pada abad ke-5 M. Prasasti yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, berdiri pada area seluas ± 1500 m² dan dipagar kawat berduri setinggi 120 cm. Ditempatkan pada bangunan (cungkup) berukuran 6 x 7 m dengan atap ijuk, tiang menggunakan pilar cor menyerupai batang kayu, dan lantainya susunan batu kerakal yang disemen. Salah satu bagian sudut batu prasasti telah patah, tetapi telah disambung oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.

Areanya telah ditata baik dilengkapi dengan jalan setapak (cor semen). Pembangunan (cungkup) diresmikan pada 31 Maret 1990 oleh Drs. Uka tjandrasasmita (Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala). Dari Bukit Koleangkak terlihat hamparan persawahan, pengunungan hijau, sungai Cikasungka, dan Kota Leuwiliang tentu menjadi daya tarik, bagi wisatawan. Selain itu prasasti dari masa Kerajaan Tarumanegara dari abad ke-4-5 yang cukup langka, maka sangat potensial apabila dijadikan sebagai objek wisata budaya dan wisata alam.

Lokasi: Kampung Pasir Gintung RT 02/RW 04, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung

Koordinat : 06°34'06" S, 106°32'46" E

Telepon:

Email:

Internet: Arah: ± 24 km sebelah barat dari Kota Bogor, atau ± 10 km dari Kota Leuwiliang atau ± 14 km sebelah selatan Kota Kecamatan Nangung

DISKUSI


TERBARU


ASAL USUL DESA...

Oleh Edyprianto | 17 Apr 2025.
Sejarah

Asal-usul Desa Mertani dimulai dari keberadaan Joko Tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya yang menetap di Desa Pringgoboyo, Maduran, Lamong...

Rumah Adat Karo...

Oleh hallowulandari | 14 Apr 2025.
Rumah Tradisional

Garista adalah Rumah Adat Karo di Kota medan yang dikenal sebagai Siwaluh Jabu. Rumah adat ini dipindahkan dari lokasi asalnya di Tanah Karo. Rumah A...

Kearifan Lokal...

Oleh Artawan | 16 Mar 2025.
Budaya

Setiap Kabupaten yang ada di Bali memiliki corak kebudayaan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Salah satunya Desa Adat Tenga...

Mengenal Sejara...

Oleh Artawan | 16 Mar 2025.
Budaya

Pura Lempuyang merupakan salah satu tempat persembahyangan umat hindu Bali tertua dan paling suci di Bali. Terletak di lereng Gunung Lempuyang, di Ka...

Resep Layur Bum...

Oleh Masterup1993 | 24 Jan 2025.
Makanan

Ikan layur yang terkenal sering diolah dengan bumbu kuning. Rasa ikan layur yang dimasak dengan bumbu kuning memberikan nuansa oriental yang kuat...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dal...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend...

Ukiran Gorga Si...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...