Ritual
Ritual
Ritual Aceh Pidie Jaya
Peutron Anuek dan Peucicap
- 27 November 2018

Yusri (34 tahun) tampak sibuk pagi itu. Bersama warga lain, ia menyiapkan masakan gulai kambing untuk aqikah yang digelar bersama khanduri Peutron Anuek di Gampong Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Dua ekor kambing disembelih sebagai wujud rasa syukur.

Yusri resmi mengeluarkan putra dari dalam rumah melalui sebuah ritual adat turun temurun; Peutron Anuek. Anak keduanya yang lahir dari rahim Salmawati (30 tahun) itu usianya genap 44 hari. Lewat upacara ini diberi nama Naufal Ghiffari.

Prosesi mengeluarkan bayi dari rumah dan menginjak kakinya ke tanah berlangsung khidmat. Razali, mertua Yusri, mendatangkan Teungku Muhammad Azzawahiry, seorang ulama setempat, untuk memimpin tradisi peutron cucunya. Mulanya bayi mungil itu dipeusijuek alias ditepung tawari, disertai pembacaan doa untuk keberkahan.

Di atas talam (baki) tersedia menu seperti ketan kuning, teumpoe, paha ayam goreng, air zam-zam, sari kurma dan bermacam buah manis. Muhammad memangku si bayi untuk peucicap alias meyentuh aneka rasa ke lidahnya, agar organ perasanya lebih sensitif. Ia colek satu-satu dengan ujung jarinya, kemudian dicicipi ke lidah bayi. Sejurus kemudian, ia membolak-balikkan hati ayam. Ritual ini bertujuannya agar si anak ketika besar nanti cerdas dan kreatif dalam berpikir, tak buntu.

Masuklah ke puncak Peutron Anuek. Naufal digendong keluar, sementara dua orang menyambut dengan mengelar kain di muka rumah. Berdiri tepat di pintu, Muhammad lantas menyeru “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.”

“Waalaikumsalam,” jawab sejumlah orang yang sudah berkumpul di luar rumah. Seiring langkah Muhammad, mereka mengalunkan shalawat kepada Nabi Muhammad.

Saat itu, Muhammad jongkok sejenak, menginjakkan kaki si bayi ke tanah. Sambil dipayungi, dari atas kain, sebuah kelapa dibelah. Trap…!!! Airnya mengucur menembus kain, membasahi pelindung. Sebelah dari kelapa itu diberikan kepada Yusri, satu lagi ke ibunya, Salmawati. Ini isyarah ikatan supaya batin anak dan kedua orangtuanya tetap kekal.

Naufal kemudian dibawa keliling halaman. Sambil menggendong, Muhammad menyalami orang-orang dan bertegur sapa, menunjukkan sikap ramah agar kelak bisa ditiru oleh sang bayi nanti.

Pada saat bersamaan, orang-orang ikut ‘berakting’. Mereka juga saling salaman beramah tamah, menyapu, bersih-bersih halaman rumah, menanam bunga, dan membakar petasan (mercon). Tujuannya, agar si bayi lebih berani dan tak ciut dengan suara-suara ledakan.

Beberapa saat di luar, supaya tak kelelahan, si bayi kembali dinina bobokan dalam ayunan. Para tamu memberikan sedekah kepada bayi dengan meletakkannya dalam ayunan.

Lepas ritual ini, acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama. Gulai kambing yang sudah masak dihidangkan untuk para tamu. Sebagiannya dibagikan kepada warga kurang mampu.

Malam tiba, sejumlah kaum lelaki dewasa kembali berkumpul di rumah untuk samadiah dan membaca Surat Yasin bersama agar si bayi dan keluarganya lekas mendapat keberkahan.

***
Peutron Anuek tradisi sakral bagi masyarakat Aceh. Digelar setelah anak dianggap cukup umur; genap 44 hari, tiga, lima atau tujuh bulan. Sebelum upacara digelar, si bayi biasanya pantang dibawa keluar kecuali dalam kondisi tertentu.

Orang yang dipercaya memimpin tradisi ini juga tak sembarang, biasanya dipilih dari kalangan tokoh atau orang terpandang, sehingga kelak si bayi bisa meneladaninya saat besar nanti.

Ritual ini juga kerap dilaksanaan bersamaan peresmian nama si bayi, dan ibadah sunnah aqikah, memotong kambing atau domba kemudian dimasak dan dibagikan kepada orang kurang mampu. Untuk anak perempuan dianjurkan seekor kambing, sedang laki-laki dua ekor kambing atau domba.

Menurut Fatimah (82 tahun) tetua Gampong Meunasah Pupu, tradisi ini penting untuk masa depan bayi. Doa-doa dipanjatkan serta shalawat yang alunkan dalam ritual ini diharap memberi keberkahan untuknya. “Semua gerakan saat Peutroen Anuek itu diharapkan akan bisa diikuti oleh dia ketika besar nanti,” ujarnya.

Termasuk ritual belah kelapa saat puncak acara. Kata Fatimah, ini supaya si bayi berani melawan kebatilan, dan tidak takut dengan guntur yang menggelegar kala hujan. Menurutnya, prosesi Peutron Anuek kerap dilakukan bersama pemberian nama, peucicap, aqikah dan cukur rambut bawaan si bayi agar tumbuh baru yang lebih subur. Dilanjutkan dengan menyedekahkan emas seberat rambut si bayi.

Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Badruzzaman Ismail mengatakan, tradisi Peutron Aneuk adalah simbol atau media yang mengandung filosofi tanggung jawab bersama. Gerakan dalam ritual ini memiliki makna tersendiri, misalnya saat peucicap sengaja diberi sentuhan rasa yang manis-manis, bukan sekadar untuk mengasah lidah bayi sensitive. “Tapi juga diharapkan supaya akhlaknya si anak juga manis (baik) nanti.”

Begitu juga dengan prosesi menginjakkan kaki bayi ke tanah. Biasanya orang yang melakukannya akan mensyaratkan si bayi memiliki pendirian teguh dan iman yang kekal, seperti sifat tanah yang kekal. Ini sekaligus memperkenalkan tanah dan lingkungan kepada si anak supaya memperoleh keserasian. “Ada pengaruh satu sama lain,” jelasnya.

Khanduri Peutron Anuek sendiri sarat makna silaturrahmi. Tetua kampung dan keluarga dari kedua pihak (ayah dan ibu) si bayi diundang, bukan sekadar makan-makan, tapi juga untuk membangun sikap saling melindungi, mengasuh, membimbing dan memahami bahwa si bayi merupakan bagian dari kaum kita. “Itulah filosofi di dalamnya,” ujar Badruzzaman.

Menurutnya gerak ritual dalam Peutron Anuek bukan hanya ditujukan kepada si anak semata, namun juga diarahkan kepada kaum yang hadir agar senantiasa memilihara nilai-nilai yang terkandung untuk membimbing si anak. “Ini semacam agreement keluarga agar si anak ini menjadi tanggung jawab bersama.”

Peutron Anuek merupakan tradisi yang sudah membumi di Aceh. Meski gerakan dan istilah antara satu daerah dengan daerah lain berbeda-beda, menurut Badruzzaman, prinsip dan maknanya sama. MAA berjanji terus mendorong warga melestarikan tradisi turun temurun ini, agar tak lenyap.

Menurut Kolektor Manuskrip dan Pemerhati Sejarah Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, tradisi Peutron Anuek sudah dikenal sejak masa Kerajaan Pasai yang didirikan Malik Al-Saleh atau Meurah Silu tahun 1267 Masehi. “Kemudian masa Kerajaan Aceh Darussalam, diimplementasikan kembali menjadi reusam negeri,” katanya.

Ketika Sultan Iskandar Muda lahir pada 1593 M, Istana menggelar upacara Peutron Anuek dengan meriah yang kemudian menginspirasi rakyat melakukan serupa. Masa itu, lanjut Tarmizi, jika yang dipeutron bayi laki-laki, biasanya ikut dibunyikan meriam secara bersahutan serta menghunus pedang, kemudian memotong tiga batang pisang. Tujuannya agar si anak tumbuh jadi sosok pemberani dan berjiwa ksatria.

Sumber: https://www.bandaacehtourism.com/jelajah/ritual-peutron-anuek-dan-peucicap/#.W_1D8OJoTIU
#SBJ

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker