Pada suatu desa di Jawa Barat hidup seorang petani yang sangat rajin beribadah kepada Tuhannya. Namanya adalah Asep. Suatu hari dia merasa kehidupan dirinya dan keluarganya tidak ada peningkatan maupun penurunan sehingga dia ingin mencoba pergi ke pulau seberang. Akhirnya dia melancarkan rencananya untuk merantau dan tujuannya adalah pulau Madura karena mendengar kabar bahwa disana ada cara lain untuk hidup selain bercocok tanam, pada saat itu pulau Madura terkenal akan pasar perdagangannya. Asep hanya membawa bekal ubi dan uang sebesar 5 sen untuk berlayar ke pulau Madura. Dijalan dia bertemu dengan seorang wanita tua yang kelaparan sedang membawa 3 ekor kucing yang sangat kurus. Wanita tua tersebut menawarkan Asep ketiga kucingnya sebesar 8 sen namun asep hanya memiliki uang 5 sen. Karena merasa iba Asep akhirnya memberikan semua uangnya untuk ditukar dengan 3 kucing tersebut. Wanita tua tersebut langsung menerima penawaran Asep untuk bertahan hidup.
Asep membawa ketiga kucing yang baru dibelinya menuju pulau Madura, namun tanpa disangka ditengah perjalanan ada badai yang sangat besar yang membuat Asep harus menepi dahulu menuju pulau terdekat. Asep akhirnya menepi di suatu pulau kecil bernama pulau tikus. Disana Asep terheran heran karena mayoritas penduduknya bukanlah manusia melainkan tikus. Lalu Asep bertanya dengan penduduk asal pulau tersebut, menanyakan mengapa mereka membiarkan tikus berkembang biak disana. Para penduduk tidak dapat menjawab pertanyaan Asep karena tikus disana tidak pernah habis habis dan mereka kelelahan mengatasinya. Lalu Asep bertanya apakah tidak ada kucing disana ? Para penduduk tidak tahu apa itu yang namanya kucing. Lalu Asep menjelaskan kucing adalah hewan yang dapat memangsa tikus. Para penduduk terkaget dan berkata jika ada yang menjual hewan tersebut mereka akan membelinya dengan harga 8 dinar per ekor. Asep langsung menawarkan 3 kucing yang dia bawa dan menjadi kaya raya. Badai berhenti, Asep melanjutkan perjalanannya ke pulau Madura. Disana dia menceritakan tentang pengalamannya di pulau tikus. Setelah mendengar cerita Asep, berbondong bondong orang menghabiskan kekayaannya untuk membeli kucing sebanyak banyaknya lalu dibawanya ke pulau tikus. Namun sesampainya disana semua orang kecewa karena tikus disana telah habis semua dimakan 3 kucing asep yang sudah gendut gendut dan berkembang biak.
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...