Dewa Mendu dan Angkara Dewa adalah dua putra Semandung Dewa, raja di kayangan. Selama ini kedua kakak beradik tersebut begitu ingin turun ke bumi.
“Lihatlah, sepertinya menyenangkannya ya kehidupan di bumi?” ujar Dewa Mendu kepada adiknya.
Angkara Dewa pun mengangguk, mengiyakan ucapan kakaknya. Sambil duduk santai, mereka berdua mengamati berbagai kehidupan yang ada di bumi.
“Bagaimana jika kita bertamasya ke bumi, Kak?”
Dewa Mendu malah mengembuskan nafas berat. “Ah, aku sudah pernah menanyakan hal itu pada ayah. Tapi Ayah malah memarahiku. Katanya, kita tidak boleh turun karena banyak hal yang tidak baik di sana.”
Wajah Angkara Dewa langsung muram. Padahal ia sudah membayangkan betapa asyiknya jika ia dan kakaknya bisa main turun ke bumi.
Diam-diam, Dewa Mendu merencanakan untuk turun ke bumi sendirian, tanpa mengajak adiknya. Keinginannya untuk turun ke bumi begitu kuat.
“Biarlah aku turun sendiri saja ke sana. Aku tidak mau Angkara Dewa jadi ikut-ikutan dimarahi oleh Ayah,” pikir Dewa Mendu.
Suatu ketika, Dewa Mendu benar-benar melaksanakan rencananya. Saat turun ke bumi, ia terdampar di hutan belantara yang ada di puncak Bukit Mencerne. Tempat itu belum pernah sama sekali disinggahi oleh manusia.
Sementara itu, keluarga Dewa Mendu kebingungan karena selama beberapa hari mereka tidak melihat Dewa Mendu.
“Pasti anak itu sudah turun ke bumi!” seru ayah Dewa Mendu dengan kesal. Ia lalu mengutus Angkara Dewa untuk turun ke bumi dan mencari kakaknya.
Saat Angkara Dewa menyusul Dewa Mendu ke bumi, ia juga terdampar di Bukit Mencerne. Namun Angkara Dewa tidak langsung menemukan kakaknya. Selama berminggu-minggu ia berkelana di dalam hutan dan terus mencari keberadaan Dewa Mendu.
Suatu ketika keduanya akhirnya bertemu. Namun sayangnya, kedua wajah dan tubuh kakak beradik ini sudah berubah tidak seperti saat mereka di kayangan sejak mereka turun ke bumi. Akibatnya Dewa Mendu dan Angkara Dewa tidak saling mengenal.
“Siapa kamu?” tanya Dewa Mendu pada Angkara Dewa. Ia merasa, orang yang ada di hadapannya ini terus mengikutinya sejak beberapa waktu sebelumnya.
Angkara Dewa tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia membatin, rasanya tidak mungkin mengaku pada manusia biasa bahwa ia adalah putra seorang dewa. Sejak melihat keberadaan orang lain yang sesungguhnya adalah Dewa Mendu, ia memang sengaja terus membututinya. Sebetulnya niat Angkara Dewa hanyalah ingin mencari teman.
“Hei, mengapa kau diam saja?” hardik Dewa Mendu.
Angkara Dewa yang tak kunjung menjawab membuat Dewa Mendu kesal. Ia lalu menyerang sosok yang sebetulnya merupakan adik kandungnya sendiri. Mendapat serangan dari Dewa Mendu, Angkara Dewa jadi terpancing untuk meladeni. Pertarungan sengit antara Dewa Mendu dan Angkara Dewa akhirnya terjadi.
Dua orang yang sama-sama putra Semandung Dewa ini memiliki kesaktian yang sama. Mereka sampai terus bertarung selama beberapa hari. Sesekali mereka sepakat untuk beristirahat. Namun saat tenaga sudah pulih, mereka kembali bertarung. Keduanya ingin membuktikan, siapa di antara mereka yang paling kuat. Pertarungan yang sengit selama beberapa hari itu membuat keduanya berada dalam kondisi kritis.
Di tengah kondisinya yang hampir tidak kuat lagi, Dewa Mendu berseru ke arah langit, “Jika sesungguhnya aku adalah Dewa Mendu putra Semandung Dewa yang ada di kayangan, bantulah aku untuk menaklukan musuhku ini!”
Tak berapa lama, Angkara Dewa juga berteriak sambil menatap langit, “seandainya aku ini memang Angkara Dewa putra Semandung Dewa yang ada di kayangan, bantulah aku untuk menaklukan musuhku ini!”
Usai sama-sama mengucapkan perkataan tersebut, keduanya langsung terkejut. Sontak, keduanya saling menghampiri dan berpelukan.
“Maafkan aku Kak, aku sampai tidak mengenalimu,” sesal Angkara Dewa.
“Tak apa. Kalau aku tahu engkau itu adikku, aku pasti tidak akan menyerangmu,” balas Dewa Mendu.
Keduanya kemudian merasa menyesal karena sudah tidak menuruti kata-kata ayahnya untuk tidak turun ke bumi. Kini mereka tahu akibatnya.
“Kak, kita baru saja bertemu tapi malah bertengkar beberapa hari.”
“Ternyata benar yang dikatakan Ayah, kehidupan di bumi ini tidak seperti di kahyangan,” gumam Dewa Mendu.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/pertengkaran-dua-putra-dewa/
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam: Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...
Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. 📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...