Perkawinan atau pernikahan di setiap daerah memiliki keanekaragaman dan ciri khas dari masing-masing daerah. Pernikahan yang diadakan di setiap daerah pun telah menjadi kebudayaan masyarakat setempat dan turun temurun. Seperti halnya di daerah Sumatera Utara, banyak sekali tradisi pernikahan batak disana. Hampir sama dengan tradisi batak lainnya, pernikahan adat Karo juga memiliki tahapan yang sangat panjang bahkan acara pernikahan tersebut bisa dilaksanakan berhari-hari bahkan hingga berminggu-minggu.
Pernikahan Karo dianggap masyarat setempat sebagai tahapan yang sakral, kedua pasangan pengantin di anggap sah jika telah melalui pengesahan secara agama dan secara adat. Pernikahan adat Karo di bagi menjadi 3 tahapan, yaitu tahapan kerja adat, pesta adat, dan acara setelah pesta adat. Jika pasangan tersebut tidak melakukan tahapan tersebut, mempelai pria diwajibkan untuk membayar hutang adat.
Persiapan kerja adat (Sitandan Ras Keluarga Pekepar), ini adalah tahapan dimana perkenalan antara kedua keluarga mempelai. Pertemuan ini membahas tentang waktu yang tepat untuk acara selanjutnya yaitu meminang biasa disebut istilah Mbaba Beli Selambar. Mbaba Belo Selambar atau yang dikenal dengan acara membawa selembar daun sirih, yang merupakan acara untuk meminang sang wanita, disini mempelai wanita akan diberikan pertanyaan apakah ia dah keluarganya siap untuk dipinang oleh keluarga pria. Acara ini dilaksanakan dirumah Kalimbubu dengan sang pihak pria akan datang bersama keluarga besarnya untuk membawa makanan yang lengkap. Setelah acara makan bersama selesai, selanjutnya mereka membahas acara nganting manuk, para acara inimereka akan membahas semua acara untuk pernikahan mereka serta mahar dan hutang-hutang adat pada pesta pernikahan nanti. Karena acara pernikahan adat karo sangat panjang maka biasanya acara Ngantig Manuk di hilangkan. Dan ada syarat yang penting acara pernikahan tidak boleh lebih dari sebulan setelah acara Mbaba Belo Selambar.
Tahapan kedua adalah Hari Pesta Adat, kerja adat, pada tahapan ini seluruh keluarga besar yang diundang akan melakukan prosesi adat runggu sangkep nggeluh. Acara ini bersifat suka cita tapi tetap sakral, lalu suami istri wajib menari atau biasa disebut landek. Setelah itu ada acara bernama Persadaan Tendi, dalam acara ini untuk memberikan makanan sebagai pemulihan tenaga kepada kedua mempelai.
Tahapan ketiga adalah sesudah pesta adat, acara ini dimulai dengan Ngulih Tudung, acara ini dilakukan kira-kira 2-4 hari setelah pesta adat. Acara ini dilakukan dengan kedua orang tua pihak pria datan gkemnali kerumah pihak perempuan dengan mebawa makanan seperti acara Mbaba Belo Salambar. Lalu, acara selanjutnya adalah Ertaktak. Ertaktak adalah acara terakhir dari Pernikahan Adat Karo, acara ini dilakukan untuk membahas pengeluaran biaya-biaya yang dikeluarkan saat pesta adat.
Kini Acara Adat Pernikahan Karo masih menjadi kewajiban bagi mereka yang berasal dari Karo dan terus turun-temurun.
#OSKMITB2018
OSKM ITB 2018
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...