Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Pendidikan Kalimantan Timur Kalimantan Timur
Perbedaan Antara Kambing dan Domba
- 4 Mei 2018
Banyak di antara kita yang tidak mengerti bedanya antara kambing dan domba. Apalagi masyarakat perkotaan yang tidak pernah merasakan rasanya berternak kambing atau domba. Tahunya sekedar makan sate dan gulenya. Keduanya memang mirip, tapi sebenarnya sangat berbeda. Apa saja yang membedakan antara kambing dan domba? Simak ulasan berikut ini:
 
1. Perbedaan Makanan
 
Domba dan kambing memang pemakan tumbuhan, namun ketika liar di luar kandang, mereka mempunyai makanan kesukaan masing-masing. Kambing lebih senang makan dedaunan yang berada di atas, contohnya daun mahoni, daun pisang, daun ketela, dan lain-lain. Sedangkan domba cenderung senang makan rumput yang berada di bawah.
 
Saya ulangi, itu jika mereka dapat memilih santapan di hutan. Kalau kambing/domba yang dipelihara dalam kandang, maka tidak dapat memilih jenis pakan. Mereka cuma makan sesuai dengan apa yang dikasih oleh peternak.
 
2. Perbedaan Fisik
 
Bentuk mereka memang mirip, namun tetap terdapat perbedaan. Perbedaan yang sangat kelihatan ialah ekornya. Ekor kambing umumnya mengarah ke atas, sedangkan ekor domba menggelayut ke bawah. Kebanyakan domba memiliki warna putih, sedangkan kambing bermacam warna, seperti coklat, hitam, putih hitam, coklat putih, atau putih bersih. Kuping domba biasanya keras dan tidak panjang, kalau telinga kambing umumnya panjang dan tidak keras.
 
3. Perbandingan Perilaku
 
Terdapat banyak perbedaan tindak-tanduk antara kambing dan domba. Pertama, kambing cenderung bebas dan independen, kalau domba lebih mempunyai ketergantungan untuk berkawan. Domba tidak bisa terlalu lama berpisah dari gerombolannya, dan lebih senang bergerombol.
 
Kedua, kambing tidak senang di wilayah kumuh/ basah. Jika mengenai rumput basah, kambing akan berpindah ke area yang kering dan tinggi. Kalau domba kebalikannya.
 
4. Perbedaan Bulu/ Rambut
 
Kambing rata-rata bulunya lurus, sedikit panjang dan tidak terlalu tebal, sehingga nggak harus dicukur. Kalau domba, rata-rata berbulu keriting serta sangat tebal. Bila tidak dipotongi akan jadi gimbal. Oleh karena itu bulu domba dipotongi secara berkala untuk dijadikan bahan kain wool.
 
5. Perbandingan Perasaan
 
Domba mempunyai perasaan yang lebih kuat dari pada kambing. Itulah yang membuat domba cepat merasa resah ketika tercerai dari gerombolan.
 
6. Perbandingan Tanduk
 
Hampir semua tanduk kambing menjulang ke atas atau samping. Sedangkan tanduk domba banyak yang melengkung.
 
7. Perbedaan Daging
 
Menurut pemilik Bunayya Aqiqah Jakarta yang sudah sering mengolah daging aqiqah, daging domba lebih empuk dari pada daging kambing.
 
Itu saja beberapa perbedaan antara kambing dan domba yang mudah diperhatikan. Tentu masih banyak lagi perbedaan lainnya kalau diamati lebih serius. Sesungguhnya domba dan kambing juga terdiri dari banyak macam. Domba mempunyai banyak jenis, kambing juga mempunyai banyak jenis.
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker