Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Artikel Jawa Timur Magetan
Pentingnya Bahasa Indonesia dalam Kemajemukan Budaya Indonesia
- 27 Oktober 2017
Tampaknya pernyataan itu memang sudah tidak asing lagi di kehidupan kita. Sepertinya para guru di sekolah juga sangat sering mengatakan hal itu, terlebih guru Bahasa Indonesia.
 
Sebagaimana yang kamu pahami, bahwa masa kini sudah tak banyak pemuda yang menerapkan Bahasa Indonesia sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Tetapi terus terang saja, penulis juga masih kurang memakai Bahasa Indonesia sesuai EYD. Untuk bercakap dengan teman, saya lebih sering menggunakan bahasa-bahasa keren. Dan untuk pemuda yang sekarang ini, hal itu sudah jadi bahasa keseharian.
 
Jadi, mengapa kita musti menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar kalau rata-rata orang telah menerapkan bahasa keren saat ini? Bisa jadi pertanyaan itu terbersit di fikiran kamu.
 
Beberapa faedah yang dapat kamu terima dalam memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diantaranya:
 
1. Mempermudah dalam bercakap antar suku, ras dan budaya.
Sebagaimana kita tahu setiap suku & ras di Indonesia mempunyai bahasa sendiri-sendiri. Lantas bagaimana kita bisa bercakap dengan suku dari wilayah lain? Yaitu memakai bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia.
 
2. Membentuk diri kamu menjadi sosok yang lebih sopan.
Mengapa bisa seperti itu? Karena tutur kata penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar begitu halus. Kala kita terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, lambat laun pribadi kita akan menjadi sosok yang lebih sopan lagi santun.
 
3. Menjaga bahasa Indonesia.
Ya pastinya, sebab Bahasa Indonesia ialah bahasa persatuan untuk Bangsa Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Marauke, di sekolah-sekolah pasti mempunyai mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk mempermudah kita berbicara.
 
4. Meningkatkan semangat nasionalisme.
Semakin kita memahami Bahasa Indonesia maka kita juga akan makin tahu sejarah bangsa yang hebat ini.
 
5. Tak canggung lagi.
Kalau kamu lagi ada di sebuah discussion forum resmi tentunya kamu gak akan menerapkan bahasa-bahasa keren sehari-hari kamu di dalamnya. Bila kamu sudah terlatih menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka kamu sudah tidak grogi lagi di kala ngomong di acara resmi yang ingin kamu ikuti.
 
6. Mudah saat menulis dokumen / surat-surat resmi.
Jelas saja, di abad contemporary ini niscaya kamu akan berkecimpung atau bahkan membuat dokumen, lamaran kerja, atau karya ilmiah. Contohnya saja kamu akan membuat surat pernyataan kerja. Niscaya membutuhkan kemampuan menggunakan tata bahasa & tanda baca yang baik dan benar.
 
Sepertinya sudah cukup ya? Mungkin saya bisa meneruskannya di lain waktu. Jangan lupa teman buat terapkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar pada kehidupan sehari-hari.
Kita bersama berupaya merawat Bahasa Nasional agar lapuk oleh bahasa keren yang sedang dipopulerkan oleh para remaja sekarang.
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu