Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Papua Papua
Penguasa Sungai Tami - Papua - Papua
- 3 April 2018

Pada zaman dahulu, di sebuah desa bernama Sawjatami, wilayah Jayapura (sekarang) hiduplah seorang laki-laki bernama Towjatuwa. Bersama istrinya yang sedang hamil tua, ia membangun honai (rumah adat orang Papua). Honai itu terletak tak jauh dari Sungai Tami.

Pada hari yang telah diperkirakan, istrinya menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Towjatuwa segera memanggil dukun bayi untuk membantu kelahiran anaknya. Namun, setelah berjam-jam berusaha, si jabang bayi belum keluar juga. Towjatuwa merasa khawatir melihat istrinya yang tampak sangat kesakitan.

“Suamiku, tolong… perutku sakit sekali,” rintih istri Towjatuwa.

Towjatuwa merasa sedih melihat keadaan istrinya. Ia sangat takut istri dan bayinya tak bisa diselamatkan.

“Nenek, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Towjatuwa.

“Towjatuwa, sepertinya bayi yang dikandung istrimu ini terlalu besar. Jadi, dia susah keluar,” jawab dukun bayi itu.

“Lalu apa yang akan Nenek lakukan? Tolonglah istri saya.”

“Ambillah rumput air dari Sungai Tami. Itu obat yang mujarab.”

Tanpa menunggu lama, Towjatuwa berlari ke sungai. Ia ingin segera menemukan rumput air yang diminta dukun bayi. Lak-laki itu tak ingin istrinya menderita lebih lama lagi.

Namun, sayang sekali, Towjatuwa tak dapat menemukan rumput air itu. Ia sudah mencarinya ke sana kemari tapi rumput air itu tak ada. Laki-laki itu menyelam ke dasar sungai, tetapi rumput air itu tak juga ditemukannya.

Hari sudah menjelang sore, Towjatuwa belum juga mendapat rumput air Sungai Tami. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang sebelum hari menjadi gelap.

Tiba-tiba… ia mendengar suara binatang mengerang kesakitan di belakangnya. Towjatuwa berdiri terpaku. Ia ketakutan. Namun, laki-laki itu pun merasa penasaran. Towjatuwa  menoleh.

Betapa terkejutnya Towjatuwa. Ia melihat seekor buaya yang besaaar sekali. Anehnya, di punggung buaya itu tumbuh bulu-bulu burung kasuari. Buaya raksasa itu mengerang dan menggeram. Towjatuwa gemetar. Ia memutuskan untuk segera melarikan diri sebelum dimangsa buaya yang tampak ganas itu.

“Hei, Towjatuwa! Tunggu!”

Towjatuwa menghentikan langkahnya. Ia tertegun dan menoleh lagi. Tak ada siapa-siapa selain buaya raksasa yang menyeramkan itu.

“A… a… apakah kau yang memanggilku?” tanya Towjatuwa ketakutan sekaligus heran.

“Benar, aku yang memanggilmu. Namaku Watuwe, penguasa sungai ini,” jawab buaya raksasa.

“A… ada apa? Apa yang kauinginkan?”

“Towjatuwa, tolong bebaskan aku dari batu besar ini.”

Towjatuwa tertegun. Ia merasa kasihan pada buaya itu, sekaligus ragu-ragu. Towjatuwa takut jika buaya itu bebas, binatang buas itu akan langsung memakannya.

Buaya raksasa itu seperti dapat membaca pikiran Towjatua. Ia berkata, “Jangan takut, Towjatuwa. Aku tak akan memakanmu.”

Mendengar janji Watuwe, Towjatuwa segera menghampiri buaya raksasa itu.

Rupanya ekor Watuwe terjepit sebuah batu besar. Towjatuwa segera menyingkirkan batu yang berat itu dengan susah payah. Ketika batu sudah terguling dan ekor Watuwe terbebas, Towjatuwa bermaksud melanjutkan perjalanannya.

“Sebentar, Towjatuwa. Aku ingin tahu tujuanmu datang ke sungai ini,” tahan Watuwe.

Towjatuwa menceritakan kesulitannya menemukan rumput air untuk obat melahirkan istrinya.

Watuwe menggeram pelan.“Begini saja, Towjatuwa. Kau sudah menolongku, jadi aku akan menolongmu sebagai balasan. Nanti malam aku akan datang ke rumahmu,” janji Watuwe.

Watuwe menepati janjinya. Malam itu ia pergi ke honai Towjatuwa. Buaya raksasa itu mengobati istri Towjatuwa dengan kesaktiannya. Tak berapa lama, istri Towjatuwa melahirkan bayi laki-laki yang sehat.

“Terima kasih, Watuwe. Kau telah menyelamatkan istriku dan bayi kami,” ujar Towjatuwa.

“Aku pun berterima kasih padamu, Towjatuwa,” balas Watuwe seraya berpamitan.

Sebelum meninggalkan rumah Towjatuwa, Watuwe memberikan ramalan tentang anak Towjatuwa kelak. Buaya ajaib itu juga menyampaikan sebuah pesan yang sangat penting.

“Towjatuwa, ketahuilah, kelak anakmu akan menjadi pemburu andal. Pesanku, jangan biarkan keturunanmu membunuh dan memakan aku dan bangsaku.” Kemudian Watuwe melangkah pergi meninggalkan suami-istri itu serta bayi mereka.

“Istriku, walau Watuwe berwujud binatang yang menyeramkan, ia sangat baik dan penyayang. Apakah kita bisa membalas budi baiknya itu?” ucap Towjatuwa sambil melepas kepergian Watuwe.

“Suamiku, cara terbaik untuk membalas kebaikannya adalah dengan melaksanakan pesannya. Kita harus meneruskan pesan Watuwe kepada anak-cucu kita supaya keturunan-keturunan mereka nanti juga menjaga pesan Watuwe,” sambut istri Towjatuwa.

Sejak itulah Towjatuwa dan keturunannya selalu melindungi buaya ajaib dan buaya-buaya lain yang ada di Sungai Tami. Kabarnya, sampai sekarang pun penduduk desa di tepi Sungai Tami masih memegang teguh kebiasaan leluhur mereka. Buaya-buaya di Sungai Tami aman dari gangguan tangan manusia.



 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/legenda-penguasa-sungai-tami/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu