Pelet adalah ilmu yang ditujukan kepada satu orang atau banyak orang agar menyukai orang yang menggunakan pelet tersebut secara ghaib. Pelet ini berasal dari Jawa Barat, namun sudah tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Pelet juga memiliki berbagai macam sebutan, seperti di daerah Jawa Tengah ilmu pelet disebut pengasihan sedangkan di Kalimantan disebut kundang atau pitunduk. Sebenarnya, pelet baru diartikan sebagai "pemikat hati" pada era 90-an karena sebelumnya sebutan pelet memiliki arti memikat burung dengan getah pohon.
Pelet terbagi menjadi 2 kategori yaitu pelet asmara (pelet untuk memikat lawan jenis) dan pelet pengasihan (pelet untuk memikat orang-orang agar merasa simpatik (biasanya digunakan pebisnis untuk menarik pelanggan). Pada zaman yang modern inipun pelet masih ada yang mempercayai. Jenis pelet yang masih digunakan sampai sekarang antara lain Jaran Goyang, Semar Mesem, Asmaragama, dan Susuk. Walaupun di perkotaan sudah jarang sekali ada yang mempercayai pelet, namun di daerah perkampungan masih banyak yang percaya bahkan menggunakannya sebagai "titik penemuan jodoh".
Jika dilihat dari cara kerja ilmu pelet hanya satu, yaitu "pengiriman" pelet tersebut kepada target. Pengiriman itu dilakukan dengan bantuan Khodam, istilah yang digunakan untuk jin, setan, kuntilanak, genderewo yang mengirimi pelet. Namun ada 2 jenis cara pengiriman pelet yaitu menggunakan media atau tanpa menggunakan media. Media yang sering digunakan untuk mengirimkan pelet adalah makanan, foto target, rambut target, kuku target, pakaian, buah, dan rokok. Ada pula yang menggunakan pengorbanan hewan sebagai media pengiriman pelet. Hewan tersebut bisa sapi, kambing, babi, atau hewan lain yang dibutuhkan. Pelet bisa menyerang target pada saat terbenamnya matahari dan akan sangat menguat pada saat terbitnya matahari. Akan tetapi, pelet pun memiliki jangka waktu pengerjaannya, bisa lambat bisa juga cepat.
Biasanya orang yang terkena pelet akan merasakan hal-hal aneh, seperti sering merasa tidak tenang, merasa ada tarikan kuat, mendadak sering melamun, tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa sebab, timbul rasa cinta berlebihan, dan suka menari-nari tanpa busana pada malam hari. Adapun penyebab mudahnya terkena ilmu pelet dikarenakan kurangnya ibadah, pernah menghina lawan jenis secara berlebihan, dan tidak memiliki proteksi diri. Bagi orang yang sudah terlanjur terkena pelet dapat dihilangkan dengan cara shalat hajat 2 rakaat yang dikerjakan pada malam hari, membacakan Surat Al-Fatihah pada orang yang ingin disembuhkan dan siapkan air yang telah dibacakan Surat Al-An'am ayat 103 sebanyak 333 kali lalu diminumkan kepada orang yang terkena pelet.
Mungkin pelet adalah sesuatu yang menghasilkan apa yang kita inginkan dengan instan, namun tetap saja pelet termasuk hal yang licik dan musyrik yang sudah pasti dibenci oleh Allah SWT. dan juga jika kita melakukan sesuatu secara licik maka hasilnya akan diakhiri dengan penyesalan. Sebab dari itu, segalanya bisa dicapai dengan usaha kita sendiri disertai dengan kejujuran dan do'a serta ibadah kepada yang Maha Kuasa, Allah SWT.
#OSKMITB2018
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...