Paduan utama dari pecel ini bukanlah nasi seperti pada umumnya, melainkan menggunakan punten. Bentuk dan rasa dari punten ini menyerupai jadah atau tetel. Punten sebenarnya mirip dengan lontong, namun bedanya punten berasal dari nasi yang ditumbuk halus. Kemudian ditambah santan kelapa dan garam. Baru setelah itu dipadatkan dengan tambahan rasa gurih dari santan. Punten digunakan sebagai pengganti nasi, itulah yang membedakannya dengan warung pecel lainnya. Namun untuk sayur-sayuran pelengkapnya tetap sama yakni, kembang turi, kenikir, kecambah, kacang panjang dan sawi.
Salah satu penjual pecel punten adalah Warung “Mbenjeng Mriki Maleh Nggeh” adalah Pecel Punten khas Kota Kediri yang terletak di Jalan Durian Desa Ketami Kecamatan Pesantren, Kediri. “Mbenjeng Mriki Maleh Nggeh” itu merupakan pasword yang selalu terlontar dari Sumiati (45), pemilik dari warung pecel punten pada pembelinya sesaat setelah membayar makanan. Lontaran yang dalam bahasa indonesia berarti “Besok kesini lagi ya…!!” tersebut seperti sebuah pesan, yang mengundang kita untuk kembali. Untuk menuju ke Warung Pecel ini Anda dapat melalui Kota Kediri ke arah Rumah Sakit Baptis, terus ke Timur kira-kira 2 km hingga bertemu dengan PG Pesantren. Dari pabrik gula lurus ke Timur kira-kira 300 meter. Jika ada pertigaan terus lurus, warung berada di sebelah kiri jalan.
Berikut ini resep pecel punten khas blitar disertai dengan bahan-bahan dan cara membuatnya
Bahan Punten :
250 gram Beras , cuci bersih
200 ml Santan dari 1/2 butir kelapa
garam secukupnya
1 lembar Daun salam
1 cm lengkuas , memarkan
Bahan Pecel :
1 ikat Daun singkong , siangi, rebus, peras dan potong-potong
1 ikat Daun pepaya , rebus, peras dan potong
100 gram Taoge , siangi, rebus
100 gram Kacang panjang , potong 3 cm, rebus
Lalapan (kemangi, lamtoro/petai dna, mentimun potong kotak kedl) secukupnya
Bumbu pecel kacang secukupnya, larutkan dengan air secukupnya
Rempeyek kacang/teri secukupnya
Lauk sesuai selera (tempe/empal daging/ayam goreng)
Cara membuat :
1. Punten: Rebus santan, daun salam dan lengkuas hingga mendidih. Masukkan beras, masak sambil sesekali diaduk hingga mendidih dan santan terserap. Angkat dan biarkan sesaat + 10 menit. Kukus hingga matang. Angkat. Tumbuk selagi masih panas dengan pelepah pisang atau ulekan hingga halus menyerupai lontong. Padatkan dalam mangkuk plastik atau bungkus dengan daun menyerupai lontong. Dinginkan.
2. Potong-potong punten, atur di atas piring saji. Tambahkan sayur, lalap dan larutan bumbu pecel secukupnya.
3. Sajikan dengan rempeyek dan lauk.
Sumber:
http://mampircorp.id/2016/11/15/pecel-punten-mbenjeng-mriki-maleh-nggeh-kediri/
https://www.eresep.com/5406/10/resep-Pecel-Punten-Khas-Blitar
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...