Situs Purbakala di Indonesia sangatlah banyak. Biasanya di dalam situs purbakala terdapat berbagai macam hewan purba , manusia purba serta peninggalan-peninggalan manusia purba. Adapun situs purbakala di Indonesia diantaranya Museum Sangiran, Taman Nasional Lore Lindu,Gunung Padang, Taman Purbakala Cipari, dan Taman Praserjarah Leang-leang. Namun diantara situs-situs yang sudah disebutkan tersebut ada satu situs yang akhir-akhir ini baru ditemukan sekitar tahun 2003 tepat berada di Pulau Jawa, yaitu Situs Purbakala Semedo.
Semedo merupakan desa di Kecamatan Kedung Banteng Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah tempat ditemukannya situs purbakala yang berupa fosil manusia, fosil hewan purba dan fosil tumbuhan purba, yang kemudian dikenal Situs Semedo. Letak Semedo sendiri berada pada daerah dataran tinggi yang merupakan daerah Pegunungan Slamet.
Situs semedo berawal dari penemuan fosil oleh seorang petani yang bernama bapak Dakri. Pada saat ditemui beliau menceritakan, awalnya, pada tahun 2003 saat beliau berjalan di ujung timur Semedo, beliau menemukan sebuah tulang besar di bawah longsoran tanah. Karena rasa penasaran, tulang tersebut beliau bawa pulang. Pada tahun 2005 teman beliau dari Slawi yaitu bapak Slamet Haryanto selaku sekretaris LSM Mataram berkunjung ke rumahnya. Bapak Slamet Haryanto berkata bahwa tulang yang beliau temukan adalah fosil yang harus dilindungi oleh negara dan tidak boleh diperjualbelikan.
Berkat bantuan dari Bapak Slamet Haryanto, akhirnya kabar ditemukannya fosil tersebut tersebar sampai ke Pemda Tegal. Hingga Bupati Tegal yang menjabat pada waktu itu, Bapak Agus Riyanto turun langsung menemui Bapak Dakri di Semedo dan mengatakan bahwa beliau berjanji akan menjaga Situs Purbakala Semedo sebagai aset negara yang mahal harganya. Banyak media yang meliput dari surat kabar local, nasional hingga televisi nasional.
Hal yang paling menarik dari Situs Purbakala Semedo ini adalah penemuan-penemuannya. Di daerah sekitar Semedo sendiri ditemukan fosil hewan-hewan purba seperti : Harimau Jawa, Buaya Purba, dan Gajah Purba yang kini sudah punah keberadaannya. Ditemukan juga fosil-fosil tumbuhan-tumbuhan purba yang diperkiran berumur ribuan tahun bahkan jutaan tahun. Namun hal yang paling mencengangkan adalah ditemukannya fosil biota laut seperti : Kerang, Terumbu Karang, Bintang Laut, Ikan Hiu, dan masih banyak lainnya. Hal itulah yang menjadi hipotesis para ilmuan bahwa daerah Semedo dulunya adalah daerah laut.
Hal yang baru-baru ini ditemukan di Semedo dan menjadi penemuan fenomenal adalah penemuan fosil pecahan bagian tengkorak manusia purba. Fosil tersebut memiliki ukuruan kecil dan lebih tipis dari fosil yang ditemukan di Sangiran, sehingga diperkirakan umurnya lebih tua jika dibandingkan dengan fosil manusia purba yang ditemukan di Sangiran. Penemuan tersebut mungkin akan menjadi pengetahuan baru dan menambah daftar jenis manusia purba yang ada di Indonesia.
Sejak tahun tahun 2015, museum situs semedo mulai dibangun dengan luas 10.000 hektare. Pembangunan Museum Situs Semedo ini diperkiran menghabiskan dana APBN sebesar 30 Miliyar Rupiah. Selain pembangunan gedung, juga dilakukan pembangunan akses menuju Semedo yang mulai diperbaiki yaitu Jalan Balamoa-Kedungjati. Pembangunan Museum Situs Semedo ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2017. Hadirnya Museum Situs Semedo ini merupakan Situs Purbakala terbaru yang dimiliki Indonesia.
Dari semua penjelasan di atas yang belum begitu detail, diharapkan para pembaca bisa memahami dan merasa haus informasi tentang hal tersebut sehingga mau untuk meluangkan waktunya berkunjung ke Situs Purbakala Semedo. Setelah pembaca berkunjung, maka pembaca akan merasa terkesan dan kagum terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha Esa atas ciptaan yang sangat luar biasa. Keunikan dan keeksotisan bentuk dari fosil-fosil yang ditemukan di Semedo sangat berbeda dengan situs purbakala yang lain.
Jadi, tunggu apalagi, ayo ajak keluarga, saudara, teman-teman, serta orang lain yang ada di sekitar anda untuk berkunjung ke Situs Purbakala Semedo. Selain mendapatkan ilmu pengetahuan mengenai sejarah perkembangan manusia purba di Indonesia, anda akan mendapatkan banyak pengalaman serta mendapati suasana pedesaan yang asri.
"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"
Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/pembangunan-museum-semedo-dilanjutkan/
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...
Sumber daya air merupakan sebuah unsur esensial dalam mendukung keberlangsungan kehidupan di bumi. Ketersediaan air dengan kualitas baik dan jumlah yang cukup menjadi faktor utama keseimbangan ekosistem serta kesejahteraan manusia. Namun, pada era modern saat ini, dunia menghadapi krisis air yang semakin mengkhawatirkan (Sari et al., 2024). Berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh berbagai faktor global seperti pemanasan, degradasi lingkungan, dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah strategis dalam pengelolaan air dengan memperhatikan berbagai faktor yang tidak hanya teknis, tetapi juga memperhatikan sosial dan budaya masyarakat. Salah satu langkah yang relevan adalah konservasi air berbasis kearifan lokal. Langkah strategis ini memprioritaskan nilai-nilai budaya masyarakat sebagai dasar dalam menjaga sumber daya air. Salah satu wilayah yang mengimplementasikan konservasi berbasis kearifan lokal yaitu Goa Ngerong di kecamatan Rengel,...