Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Museum Jawa Barat Jawa Barat
Museum Perjuangan Rakyat Jawa Barat
- 31 Desember 2018
Pendahuluan
Tujuan dibangunnya Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat adalah sebagai Museum Sejarah Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dikenal oleh masyarakat dengan istilah “Monju” (Monumen Perjuangan). Monju memiliki koleksi yang peristiwa-peristiwa kesejarahan di wilayah Jawa Barat yang ditata di ruangan pameran tetap. Koleksi berupa diorama-diorama dan relief-relief kesejarahan Jawa Barat. Akan tetapi koleksi tersebut sangat kurang memadai dan hingga sekarang koleksinya belum bertambah..  Monju belum mengelola koleksi, merawat, dan memublikasikan koleksi secara optimal. 
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 menyatakan museum mempunyai tugas pokok menyimpan, merawat, dan memanfaatkan benda-benda bukti hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. ICOM (International Council of Museums)  telah merumuskan definisi  museum yaitu lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, mengkomunikasikan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu bagaimana agar Monju dapat melaksanakan tugas dan fungsi sebagai museum? Upaya-upaya apa yang harus dilakukan Monju?. Berdasarkan hal tersebut maka kami akan mencoba mencari solusi bagi permasalahan tersebut dan diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pengelola Monju. 
 
Pembahasan
Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat terletak di Jalan Dipati Ukur No. 48, Kota Bandung. Lokasinya berhadapan dengan Gedung Sate dan di depan Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Kota Bandung. Monumen berdiri di atas tanah seluas ± 72.040 m² dan luas bangunan ± 2.143 m². serta model bangunannya, berbentuk bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Monumen diresmikan penggunaanya oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995. 
Monju memiliki koleksi hanya berupa 7 buah diorama pada ruang pameran tetap, dan tidak sebanding dengan luas ruangan pameran tetap, sehingga banyak area pameran tetap yang masih kosong belum terisi koleksi. Ada pun koleksi diorama pada ruang pameran tetap tersebut adalah: 
1.Diorama Perjuangan Sultan Agung Tirtayasa Bersama Rakyat Menentang Kolonial Belanda Tahun 1658
2.Diorama Partisipasi Rakyat Dalam Pembangunan Jalan di Sumedang
3.Diorama Perundingan Linggarjati 1946
4.Diorama Bandung Lautan Api 24 Maret 1946
5.Diorama Long Mach Siliwangi Januari 1949
6.Diorama Konfrensi Asia Afrika di Bandung 1955
7.Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962. 
Di samping itu terdapat relief pada bagian dinding depan Monju. Relief ini menceritakan sejarah perjuangan rakyat  Jawa Barat  mulai dari masa kerajaan, masa pergerakan, masa kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan dalam melawan penjajahan baik Belanda, Inggris dan Jepang. 
Selain itu Monju dilengkapi pula oleh ruang audiovisual, dan ruang perpustakaan yang akan digunakan sebagai sarana dalam memberikan informasi sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat bagi pengunjung. Akan tetapi untuk bahan informasi melalui audiovisual masih belum memadai. Monju juga mempunyai halaman yang luas, mushola, dan toilet yang nyaman untuk memberikan pelayanan bagi pengunjung. 
Monumen adalah bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting karena itu dipelihara dan dilindungi oleh Negara. Dengan demikian Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat adalah bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah perjuangan bangsa khususnya dalam merebut, menegakkan, membela, dan mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah peristiwa bersejarah yang telah terjadi di lokasi monumen ini?. Apakah peristiwa sejarah tentang perjuangan para pemuda dalam mempertahankan Gedung Sate terhadap tentara NICA?  Menginggat lokasi Monju dan Gedung Sate berdekatan, mungkin dapat menjadi salah satu alternatif bahwa lokasi Monju mempunyai peristiwa sejarah perjuangan yang memiliki nilai-nilai kepahlawanan. 
Dari nama “Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat”, jelas bahwa museum ini juga merupakan tempat penting yang bertujuan dapat mengungkapkan dan menjelaskan berbagai hal menyangkut sejarah perjuangan kemerdekaan, baik dalam perjuangan menegakkan, membela, dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI, maupun dalam perjuangan menentang kehadiran dan usaha Belanda yang hendak memulihkan kembali kedudukan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di wilayah Jawa Barat. Selain itu juga bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan peran para pejuang dan peristiwa-peristiwa sejarah perjuangan bangsa di wilayah ini.
 Monju diharapkan dapat bermanfaat bagi rakyat pada umumnya yaitu:
1.Menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
2.Membangkitkan semangat nasionalisme dan kebanggaan nasional
3.Melestarikan jiwa dan semangat kepahlawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
4.Menanamkan keteladanan bagi generasi penerus dalam kesinambungan perjuangan bangsa mengisi kemerdekaan
5.Menyajikan informasi kesejarahan di kalangan masyarakat pada umumnya. 
Monju memiliki peran yang cukup signifikan sebagaimana tersebut di atas, oleh karena itu perlu diupayakan peningkatannya sebagai berikut:
1.Membuat Visi dan Misi Monju sesuai dengan Visi dan Misi Propinsi Jawa Barat, kesejarahan Jawa Barat dan definisi Museum. Melalui visi dan misi dapat dirumuskan apa yang diharapkan dan yang akan dilakukan oleh Monju.  Oleh karena itu perlu kerjasama dari berbagai kalangan pemerintahan, akademisi, dan masyarakat/LSM sehingga dirumuskan visi dan misi Monju. Visi dan Misi ini akan menjadi acuan pengelolaan Monju. 
2.Monju harus menambah koleksi melalui pembelian dalam bentuk benda realia atau pembuatan replika, pembuatan diorama, dan pencetakan dokumentasi foto kesejarahan. Oleh karena itu perlu diprogramkan kegiatan pembelian atau pembuatan replika koleksi yang dimiliki masyarakat. Selain juga masyarakat dapat menitipkan koleksinya di Monju agar koleksi itu terpelihara namun tetap disebutkan nama penyumbang koleksi benda cagar budaya tersebut. Menambah jumlah diorama dan mencetak foto kesejarahan sebagai bahan materi pada ruang pameran tetap Monju.
3.Koleksi pada ruang pameran tetap Monju, apabila bertambah jumlahnya perlu di tata ulang dengan mempertimbangan estetika, sarana dan prasarana pameran, pencahayaan, sirkulasi udara dan arus pengunjung. Sekarang ini sirkulasi udara pada ruangan-ruangan dalam monju kurang memadai sehingga udara dalam ruangan panas dan baunya apek (kurang enak). Menata koleksi pada ruangan smoking area pameran tetap perlu bekerjasama dengan kurator museum, sejarawan, disain interior atau arsitektur, sehingga penataan koleksi, estetika, sirkulasi udara, dan sinar/cahaya akan dapat mencegah kerusakan koleksi dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
4.Membuat atau pengadaan bahan dokumentasi visual. Membuat dokumentasi merupakan kegiatan mendokumentasikan kegiatan Monju dalam hal pengadaan koleksi, konservasi, penataan pameran, dan publikasi koleksi melalui rekaman film. Sedang pengadaan adalah pembelian dokumentasi film tentang museum lainnya dan pengelolaannya. Kedua dokumentasi visual ini dapat digunakan untuk bahan publikasi kepada masyarakat dan dapat ditayangkan di Ruang Audivisual.
5.Sosialisasi Monju mengenai koleksi museum dan pengelolaanya dapat dilakukan melalui undangan ke sekolah-sekolah di Kota/Kab. Jawa Barat untuk berkunjung ke pameran tetap monju, sosialisasi ke sekolah-sekolah, penyelenggaraan pameran temporer, berbagai lomba tingkat pelajar, ceramah, seminar, lokakarya, penerbitan leaflet, dan lainnya. Bahkan mengalang kerjasama lintas sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta maupun asing dalam berbagai kegiatan.
6.Meningkatkan SDM Museum melalui keikutsertaan pada diklat-diklat, pendidikan formal, seminar, dan lokakarya tentang permuseuman. 
Monju sejak April 2010 dikelola oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai  Tradisional (BPKSNT), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat. Dengan demikian mengelola, mengembangkan dan memanfaatkan Monju agar dapat berguna bagi masyarakat Jawa Barat merupakan salah satu tugas BPKSNT selain pengelolaan kepurbakalaan, sejarah dan nilai tradisional Jawa Barat. Dengan demikian Monju sebagai tempat perlindungan, pelestarian dan penginformasiaan koleksi museum kepada masyarakat agar masyarakat lebih mengenal sejarah bangsanya dan diharapkan tumbuh rasa nasionalisme bangsa Indonesia.
Pepatah mengatakan bahwa ‘tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta’, pepatah ini sangat mengena sekali dengan kesadaran masyarakat yang kurang perhatian dengan keberadaan museum.  Semoga upaya peningkatan Monju dapat menjadikan masyarakat menjadi lebih mengenal dan mencintai sejarah dan memperkokoh rasa kebangsaan, serta meningkatnya apresiasi masyarakat dengan berkunjung ke museum-museum. (Heni Fajria Rif’ati, Pegawai BPKSNT, Disparbud Jabar)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah