Pada tahun 1920an dan 1930an, banyak turis kelas elit Barat menemukan Bali. Mereka menemukan ”Bali, Surga Terakhir” sesungguhnya, dimana setiap orang adalah seniman dan dimana kemanusiaan hidup dalam kondisi rasa gembira yang sempurna. Bahkan seorang kameramen Jerman, George Krauser mengatakan, ”Saya sangat marah pada Tuhan mengapa saya tidak lahir sebagai orang Bali.” setelah kunjungannya ke Bali di tahun 1930an.
Bali semakin terkenal ketika film berjudul ”Bali, Surga Terakhir” diputar di bioskop-bioskop kecil sepanjang jalan Hollywood Boulevard, Amerika di tahun 1932. Semenjak itu pula Ketut Tantri (Warga negara Amerika yang turut membantu Indonesia meraih kemerdekaan dari tangan penjajah) dan banyak turis asing berdatangan ke Bali. Film itu penuh dengan kedamaian, kelegaan hati, keindahan, dan rasa kasih yang terpancar dari budaya masyarakat Bali.
Banyak artis berdatangan seperti Walter Spies, penulis Noel Coward, penari Claire Holt, aktor Charlie Chaplin, ilmuwan Margaret Mead. Pada tahun-tahun itu masyarakat Bali masih menggunakan pakaian tradisional dengan dada terbuka baik wanita maupun pria, sebuah masyarakat yang rapi; tidak sedikit pun terlihat pelampiasan hawa nafsu dalam seluruh peradaban.
Ubud – Bali, di sini Elizabeth Gilbert menemukan tujuan hidupnya: keseimbangan – yaitu, bagaimana membangun hidup yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan kebahagian surgawi. November 2011, Ubud dinobatkan sebagai Top 10 Cities in Asia dan Bali sebagai Top 10 Islands in Asia oleh Conde Nast Traveler Magazine.
Kalau Anda di Bali dan melewati Jalan Raya Ubud, pastikan Anda untuk mampir Museum Puri Lukisan. Museum ini diresmikan pada tahun 1954. Museum milik keluarga Puri Saren Ubud ini, memiliki ratusan koleksi lukisan dan juga patung yang tersebar di empat bangunan berbeda.
Selain Museum Puri Lukisan, Anda juga akan menemukan Museum Marketing 3.0 yang merupakan museum marketing pertama di dunia. Amazing!
Bangunan fisik Museum Marketing 3.0 merupakan sumbangan dari keluarga Puri Saren Ubud dalam rangka melaksanakan pesan mendiang Tjokorda Gde Agung Sukawati untuk mengembangkan Museum Puri Lukisan dengan memuat perjalanan keluarga dan juga cerita pemasaran brand “Ubud” ke dunia yang sudah dilakukan sejak tahun 1920an.
Museum marketing 3.0 diresmikan 27 Mei 2011 lalu oleh Sapta Nirwandar, selaku Wakil Mentri Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Atmosfer modern terasa kental ketika saya masuk “Museum Marketing 3.0: Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati”, baik lewat interior ruangan yang minimalis maupun penggunaan peranti elektronik canggih untuk menampilkan tokoh dan brand yang dianggap mewakili penerapan konsep Marketing 3.0. selain itu, museum ini memiliki sebuah bioskop mini dengan perangkat mutakhir turut memperkuat kesan modern.
Kaki melangkah ke deretan tokoh dan brand yang ditampilkan di museum itu. Disini, bagi Anda pecinta Steve job pasti akan merasa betah berada di museum ini. Informasi lengkap mengenai Steve Jobs dihadirkan secara apik.
Puas bermadu kasih dengan Steve Jobs, alunan backsound “Catch the Wind by Bob Dylan” terdengar dari sisi lain museum. Tidak hanya modern dan human spirit, tapi juga memiliki nilai art & culture yang tinggi itu kesan saya berada di Museum ini. Hadirnya Museum Marketing 3.0 di Ubud ini merupakan perpaduan warna yang segar bagi dunia permuseuman & pariwisata Indonesia.
Buat Anda yang mengaku marketer, traveler, information junkie, pelukis, ilmuwan, atau hanya pencinta Steve Jobs, Anda wajib datang ke museum ini. Banyak knowledge yang bisa Anda bawa pulang dari museum ini. Selain berperan sebagai museum, MM3-ubud ini juga dapat dipakai untuk pameran, diskusi internasional, bahkan party. Pokoknya, begitu keluar museum, dijamin kepala Anda bakal dipenuhi ide-ide kreatif dan cemerlang.
sumber : http://marketeers.com/bali-ubud-museum-marketing-3-0/
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...