Menurut Sukatman mitos adalah cerita yang bersifat simbolik dan suci yang mengisahkan serangkaian cerita nyata ataupun imajiner yang berisi asal usul dan perubahan alam raya da dunia, dewa-dewa, kekuatan supranatual, pahlawan, manusia dan masyarakat tertentu[1].
Oleh karena itu, kebenaran akan suatu mitos bisa diperdebatkan kebenarannya. Salah satu bentuk mitos adalah mitos asal-usul, yaitu mitos yang mengisahkan asal mula atau awal dari segala sesuatu (munculnya) benda-benda yang ada, setelah alam ini diciptakan.
Mitos Padas Bajul yang ada di sungai Keting (desa Keting), Kecamatan Jombang Kabupaten Jember termasuk dalam mitos asal usul. Padas Bajul adalah sebutan yang diberikan oleh masyarakat desa Keting untuk sebuah batu yang ada di tengah sungai. Padas Bajul berasal dari bahasa Jawa, padas = batu cadas, bajul = buaya. Diberi nama seperti itu karena batu cadas yang ada di tengah sungai tersebut sekilas mirip dengan bentuk buaya yang sangat besar.
Berikut ini kisah asal usul Padas Bajul tersebut:
Sungai Keting merupakan pertemuan dua sungai, yaitu sungai Jatiroto (Jember) dan sungai Bondoyudo (Lumajang).Masing-masing sungai dihui oleh hewan penguasa. Buaya dari sungai Bondoyudo, dan Ular Raksasa di sungai Jatiroto. Kedua hewan ini sama-sama ingin menjadi ikan.
Mereka bisa menjadi ikan jika sampai di laut, maka berlombalah mereka menuju laut selatan. Perlombaan di mulai dari pertemuan Sungai Bondoyudo dan Sungai Jatiroto. Ternyata yang sampai terlebih dahulu di laut adalah ular.
Alih-alih menjadi ikan, ular ini justru disabda menjadi batu oleh Tuhan karena menyalahi kodratnya sebagai ular. Begitu juga dengan si Buaya. Meskipun belum sampai di laut, baru sampai di desa Keting Buaya juga dikutuk menjadi batu.
Sampai sekarang sekarang, buaya tersebut masih belum mau menerima kekahalan. Meskipun sudah dikutuk menjadi batu, Padas Bajul tersebut masih bergerak menuju pantai selatan dengan sangat lamban.[2]
Ada pula versi cerita yang mengaitkan Padas Bajul dan Watu Ulo. Ular yang sampai ke laut selatan akhirnya dikutuk dan menjadi batu yang posisinya ada di Kecamatan Ambulu. Namun, versi ini tidak kuat karena jarak antara muara sungai Keting dan pantai Watu Ulo sangat jauh.
Terlepas dari benar tidaknya, ada pesan nilai yang bisa diambil dari cerita tersebut, Yaitu: makhluk tidak boleh menyalahi kodrat. Kodratnya sebagai buaya dan ular, jika ingin menjadi makhluk yang lain, bisa dikutuk jadi batu oleh Yang Maha Kuasa.
Mari gali kekayaan lokalitas untuk kearifan intelektualitas!
Karena Jember juga berbudaya!
[1] Sukatman, Dr. 2011. Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia. Jember: Center for Society Studies (CSS) hlm. 1.
[2] Diramu ulang dari cerita yang dituturkan oleh Najib Abdillah, warga Kencong.
Sumber muntijo. wordpress .com/2013/01/19/mitos-padas-bajul/
Sumber: https://www.facebook.com/giuseppemezza.pranacitra/posts/mitos-asal-usul-%E2%80%9Cpadas-bajul%E2%80%9D/719136584819218/
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...