Alat Musik
Alat Musik
Musik, Seni Pertunjukan, Etnomusikologi, Musikologi, Antropologi Sumatera Utara Sumatera Utara
Hasapi
- 22 Oktober 2017

Hasapi adalah sebuah instrument yang berasal dari Batak Toba di Sumatera Utara. Tergolong ke dalam instrument Chordofone bersenar dua (media bunyinya berasal dari dawai yang bergetar), lute (instrument berleher), dimainkan dengan cara dipetik (plucked) menggunakan alat bantu pick (zaman dulu terbuat dari tanduk kerbau, sekarang digantikan oleh pick gitar), dan salah satu instrument freet less (tidak memiliki freet) Hasapi dalam pemakaiannya terdiri atas dua jenis yaitu Hasapi Ende / Indung (Hasapi yang berfungsi sebagai pembawa melodi; biasanya bentuknya lebih besar) dan Hasapi Doal (Hasapi yang berfungsi sebagai peniru bunyi gong dan memainkan ritem; biasanya bentuknya lebih kecil dari hasapi ende). Oleh sebab itu, pada umumnya dimainkan oleh dua orang pemusik. Hasapi masuk dalam ansambel Gondang Hasapi dimana fungsinya dalam masyarakat Toba untuk kebutuhan ritual / upacara terutama ritual-ritual yang diadakan di dalam rumah (kumpulan beberapa instrument yang terdiri dari hasapi ende, hasapi doal, sarune etek, garantung dan hesek). Akan tetapi pada perkembangannya juga turut masuk dalam ansambel Uning-uningan dimana fungsinya dalam masyarakat Toba adalah hiburan (ansambel yang mengalami perkembangan sejak Opera Batak berkembang dimana instrumentnya antara lain sulim, hasapi, garantung, hesek, sarune etek, taganing). Bahan hasapi biasanya terbuat dari kayu jihor, tetapi saat ini mulai digantikan dengan kayu nangka. Stem (penalaan) untuk hasapi terdiri atas dua yaitu: (NB: senar 1 senar paling atas, senar 2 senar paling bawah) 1. Stem an dengan interval nada do (senar 1) dan nada mi (senar 2), biasa digunakan untuk kebutuhan ritual / upacara. 2. Stem an dengan interval nada sol rendah (senar 1) dan nada re (senar 2) biasa digunakan untuk kebutuhan hiburan. Bentuk hasapi cukup unik disebabkan lubang resonator yang terdapat di belakang badan instrument sehingga ketika dimainkan langsung menempel ke perut pemusik (sebutan dalam Batak Toba: Parhasapi). Ternyata hal tersebut berfungsi untuk menghasilkan efek-efek suara. Selain itu, hasapi dimainkan harus menggunakan kuku jari untuk dapat menghasilkan warna bunyi yang jernih. Hal ini juga yang menjadi salah satu tingkat kesulitan dalam permainan hasapi selain instrumentnya yang freet less.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker