Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Barat Sumbar
Mak Isun Kayo
- 17 Juli 2012

Di negeri batang tabik, yang sekarang sudah termasuk dalam kota Payakumbuh, hiduplah seorang kaya. Mak Isun orang menyebutnya. Waktu mudanya menjadi kusir bendi. Bendi yang dipakainya milik orang lain yang disewa. Dia seorang yang rajin dan hemat. Bendinya selalu bersih dan kudanya terpelihara dengan baik sehingga orang pun lebih suka menumpang pada bendi Mak Isun. Ketika pemiliknya meninggal, bendi dan kuda itu dibeli Mak Isun dengan cicilan.

Setelah menjadi pemilik, Mak Isun tidak lagi membayar sewa. Namun uang sewanya tetap dikeluarkan dan dimasukkan kedalam tabungan. Lama-lama uang sewa yang ditabung itu dapat pula membeli bendi berikut kudanya dan bendi itu disewakannya pada orang lain. Sampai pada suatu masa, Mak Isun telah memiliki delapan bendi berikut kudanya. Memiliki bendi sebanyak itu terbilang luar biasa. Sejak itu namanya menjadi Mak Isun Kayo, Mak Isun yang kaya.

Meski menjadi orang kaya, gaya hidup Mak Isun tidak berubah. Ia tetap menjadi orang yang hemat. Malah sangat cermat mengawasi bendi dan kudanya, apakah dirawat oleh kusir yang memakai. Semua bendi dan kuda dikandangkan di halaman rumahnya. Apa-apa yang rusak atau usang diperbaiki dan diperbaruinya. Kusir yang memakai berkewajiban memelihara kebersihan bendi dan memberi makan kuda dan memandikannya setiap hari. Menurut pendapat Mak Isun, " Bendi yang bagus, kuda yang kuat, disukai penumpang."

Sejak itu, Mak Isun tidak lagi membawa bendi. Oleh karena itu, dia mempunyai banyak waktu yang senggang. Banyak waktu yang senggang itu tidak menyenangkannya karena dia sudah terbiasa sibuk sejak kecil. Maka Mak Isun merasa perlu mencari usaha lain agar dia tetap sibuk dan sekaligus kekayaannya akan bertambah-tambah pula.

Di negeri itu, ada pula seorang yang bernama Sole. Pekerjaannya, menurut istilah penduduk disana, "tukang beruk" Pekerjaan menerima upah memetik kelapa dengan menggunakan beruk. Setiap pohon yang dipetik, dia mendapat upah tiga sampai lima kelapa. Tergantung dari jauh dekat kebun kelapa itu. Adakalanya upah yang diterima Sole sampai dua puluh lima buah kelapa dalam sehari.

Akan tetapi, Sole bukanlah pemilik beruk. Beruk itu disewanya dari Pak Kari dengan pembayaran sekali seminggu sebanyak lima belas kelapa. Sole yang memelihara. Ada lima orang lain yang menyewa beruk Pak Kari. Berhubung akan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Pak Kari ingin menjual semua beruknya. Tak seorangpun penyewa mampu membeli.

Niat Pak Kari itu terdengar sampai ketelinga Mak Isun, Dia ini mempunyai naluri dagang. Dia mencoba-coba menghitung keuntungan yang akan diperolehnya dengan membeli beruk itu. Akhirnya, dibelinyalah keenam beruk Pak Kari. Kepada penyewa, Mak Isun mewajibkan semua upah petik yang mereka peroleh mesti dijual kepadanya. Jadi dia mendapat keuntungan yang lumayan, yaitu dari sewa beruk dan dari kelapa yang dibelinya dengan harga miring. Kelapa itu tidak dijualnya, melainkan dicongkel dagingnya dan dijemur jadi kopra. Lambat laun dia akan jadi pedagang kopra.

Dengan cara demikian, dalam masa setahun berikutnya Mak Isun telah membeli hampir seluruh beruk yang ada disekitar negeri Batang Tabik.

Tibalah suatu masa harga kopra naik harganya. Karena pedagang besar di Padang mesti menyerahkan kopra sebanyak yang telah dijanjikan pengusaha minyak di luar negeri. Tahu akan harga kopra naik, tahu bahwa dia satu-satunya punya beruk di daerah yang ratusan pohon kelapa itu, otak dagang Mak Isun berputar dengan cepat. Dia mau mengambil kesempatan mendapat keuntungan yang lebih banyak. Berkatalah dia kepada semua penyewa beruknya, "Mulai besok sewa beruk lima kelapa sehari."

"Bagaimana kami biasa hidup, Angku?" kata mereka.

"Naikkan upah petik tiga kali," kata Mak Isun.

"Mana mereka mau," kata mereka pula.

"Kalau mereka tidak mau, biar saja kelapa mereka tua dibatang," kata Mak Isun pula.

"Kalau tidak ada kelapa yang kami turunkan, dengan apa kami akan makan?" tanya mereka.

Para tukang beruk itu orang-orang yang tidak bersekolah. Oleh karena itu, mereka tidak tahu cara perhitungkan dagang Mak Isun. Kalau mereka sepakat meminta upah kutip tiga kali dari sebelumnya, pemilik pohon kelapa akan menerima saja. Toh pemilik pohon tidak pandai menurunkan kelapa itu sendiri. Pemilik tidak akan rugi karena pohon kelapa itu warisan dari orang tua mereka. Harga kelapa pun sudah naik. Namun, tukang beruk itu tidak dapat menerima keputusan Mak Isun.

Besok pagi, alangkah kagetnya Mak Isun. Ketika dia membuka jendela kamarnya, seekor beruk menyeringainya. Di kala dia membuka pintu depan, seekor beruk yang lain menyambut dengan cibiran dan seringai. Dibukanya pintu belakang, ada juga beruk di situ. Di jendela yang lain pun begitu. Rumahnya betul-betul dikepung oleh belasan beruk yang diikatkan penyewanya sehingga Mak Isun tidak bisa keluar.

Meski dia berteriak minta tolong, tak seorang pun tetangga yang berani mendekati beruk-beruk itu. Malahan para tetangga sama tertawa geli melihat beruk-beruk itu mencibir orang terkaya seperti Mak Isun itu.

Tambah lama tambah banyak juga orang disekelilingnya. Seperti akan menonton apa yang akan terjadi selanjutnya.

Terpikir oleh Mak Isun, kalau beruk-beruk sampai berhari-hari diikatkan di sana dan tidak diberi makan, akan apa jadinya kelak. Mungkin rumahnya akan diobrak-abrik beruk yang marah karena lapar. Mungkin juga kusir bendi sewaannya akan melakukan hal yang sama. Sama mengikatkan kuda disekitar rumahnya. Namun, Mak Isun tidak khawatir karena kuda jinak mudah diatur. Beda dengan beruk, yang demi melihat Mak Isun lansung menyeringai dan mencibir seperti mengancamnya. Akhirnya, Mak Isun mengalah juga. Menanglah perjuangan beruk itu dengan cara mogok.

Bertahun-tahun kemudian, peristiwa itu masih jadi bahan cerita orang di kedai-kedai kopi. Mereka sama tertawa geli mengenangkan bagaimana gaya Mak Isun yang kaya di cibir dan diseringai beruk yang jadi miliknya sendiri.

"Jadilah engkau orang kaya, tapi jangan serakah," nasihat orang alim di kampung itu mengambil hikmah dari peristiwa itu.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum