Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Pertunjukan Kalimantan Timur Kutai
Lomba Bemamai (marah-marah)
- 6 Mei 2018
Tenggarong (ANTARA News Kaltim) - Apa jadinya jika seorang warga yang logat Jawanya masih kental (medok) tapi "bemamai" (ngomel-ngomel) dengan nada tinggi 'pake' Bahasa Kutai ? 

Kesan pertama, baik bagi yang memahami sedikit Bahasa Kutai ataupun tidak samasekali akan menggelitik "sense of humor" karena terdengar aneh dan lucu.

"Lopat leh awak ni, jadi kanak bini pembayut beneh, ndik ndak sama sekali bantu emek betepas atau masak, malah pacaran terus. Mun awak gini terus, kanak laki mana yang endak dengan awak, Tanya aja ke penonton, siapa yang endak dengan awak," tutur ibu peserta itu sambil berkacak pinggang dan sekali-kali telunjuk tangan kanannya menuding si anak.

Artinya kira-kira demikian, "Astaga kamu ini, jadi perempuan tapi betul-betul pemalas, sama sekali tidak mau bantu mama mencuci atau memasak, malah pacaran terus. Kalau kamu begini terus, laki-laki mana yang mau dengan kamu. Tanya saja ke penonton, siapa yang mau sama kamu"." 

Mendengar pertanyaan ibu peserta tersebut, kontan saja para penonton dari kelompok pemuda langsung serentak mengacungkan tangan mereka dan berkata, "Saya mbok, saya, saya endak (Saya tante, saya, saya mau)," Jawaban penonoton ini tentu saja semakin membawa suasana tontotan bergaya humor itu semakin meriah. 

Apalagi anak gadis yang diomeli oleh ibunya tersebut memiliki paras yang cantik.

Itulah yang terjadi pada lomba "bemamai" yang digelar oleh panitia pada pesta adat atau festival budaya Erau 2012.

Sejumlah peserta dengan penuh percaya diri maju ke pentas baik kaum ibu-ibu maupun bapak-bapak. 

Sejumlah peserta dengan Bahasa Kutai yang lancar memperlihatkan kemampuan dalam menyusun kata-kata "bemamai" namun tidak mampu menutupi logat aslinya, misalnya logat Jawa dan Bugis.

Ternyata, peserta warga Kutai "Aspal" (asli tapi palsu) itu yang justru mendapat perhatian karena kelucuan logatnya tersebut.

Bemamai adalah bagian dari rangkaian acara Erau, 1-8 Juli 2012.

Bemamai adalah bahasa dari Suku Kutai, jika di Indonesiakan maka artinya adalah mengomel yang mengandung unsur marah, namun juga mengandung unsur nasehat.

Keanekaragaman Budaya

Bagi masyarakat lokal setempat, justru kehadiran "warga pendatang" yang berpartisipasi dalam lomba itu merupakan kehormatan karena ternyata mereka sudah mampu membaur dengan baik terbukti bisa menggunakan Bahasa Kutai meskipun logatnya "berlepotan".

Ketua Panitia Lomba Memamai Erau 2012, Triardi Yunarso mengatakan bahwa salah satu tujuan dari lomba itu untuk kian mempererat tali persaudaraan di daerah tersebut.

"Ini menggambarkan warna keanekaragaman sosial dan budaya di Kutai yang kita munculkan pada Erau ini," papar pria yang mengaku asli Jawa namun sudah jadi "orang Kutai" karena sudah lama menetap di salah satu kabupaten terkaya di Indonesia itu.

Tujuan lain dari lomba itu, yakni memberikan pemahaman kepada generasi muda bahwa ada nilai-nilai luhur di balik sikap orangtua saat mengomel anaknya itu.

Dia sudah akrab dengan adat dan budaya Kutai, bahkan hampir setiap hari dia mendengar orang "bemamai".

Dia tidak menyalahkan jika ada penonton yang menyindir 'ngomel `kok` dilombakan". Pernyataan itu dinilai wajar karena orang tersebut tidak mengerti makna yang terkandung dalam Lomba Bemamai ini.

Lomba ini, katanya, bukan ngomel sembarang ngomel, tapi ngomel yang mengandung nilai edukasi (pendidikan), sebab obyek yang dimarahi adalah mereka yang memiliki kesalahan, sehingga dalam omelan yang diekspresikan mengandung nasehat dan pendidikan agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Dia mencontohkan, jika ada anak pelajar yang tugas utamanya harus belajar dan mengerjakan PR, namun ternyata anak tersebut lebih suka keluyuran dan ketika pulang justru lebih banyak nonton televisi, maka wajar saja jika seorang ibu kemudian mengomel dan menasehatinya.

"Begitu pula jika ada suami yang malas bekerja padahal itu merupakan tanggung jawab untuk menghidupi keluarga. Wajar kan jika istrinya ngomel dan menasehati suami untuk bertanggung jawab. Jadi yang dilombakan ini bukan sembarang ngomel, namun ngomel yang positif demi kemajuan bersama," kata Yunarso lagi.

Dari acara ini tampaknya tergambarkan keanekaragaman sosial dan budaya di wilayah Kutai yang berpenduduk sekitar 350.000 jiwa itu.

Dari penghelatan Bemamai itu agaknya bukan sekadar melukiskan upaya untuk melestarikan adat, budaya dan bahasa yang "tak lekang karena panas tapi tak lapuk karena hujan", namun juga melukiskan upaya menjalankan petuah leluhur "di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak".  (*)
 
Oleh : Oleh M Ghofar
 
sumber : https://kaltim.antaranews.com/berita/7952/ketika-mengomel-dilombakan

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu