Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Nganjuk
Legenda Kapal Yang Hilang
- 11 Juli 2018
“Sebelum ayam berkokok dan fajar datang, bengawan harus sudah terbentang!” tegas Nararaja Wikrama Mahesa, penguasa gunung Renteng Utara.
 
“Sendiko dawuh gusti!” jawab Rakryan Mahapatih Singoduto yang ditunjuk oleh Sang Nararaja untuk menjalankan misi.
 
“Bawa satu kapal beserta armada terkuat kita, bengawan ini akan menjadi jalur rahasia kita menaklukkan negeri Ngatas Angin di lereng gunung selatan!” lanjut Nararaja.
 
“Ingat Singoduto, jika misi ini tidak selesai sebelum fajar tiba, jangan harap kamu beserta pasukanmu bisa kembali ke kerajaan ini!”
 
“Siap laksanakan titah paduka” Singoduto menyembah dan undur dari paseban agung.
 
Tak berselang lama, ratusan prajurit digdaya dipimpin Rakryan Mahapatih Singoduto sudah berkumpul di halaman pendopo kerajaan.
 
“Wahai prajurit gunung renteng nan gagah perkasa, siapkan kesaktian kalian, malam ini kita berangkat membentangkan bengawan dari gunung renteng menembus Widas” terdengar  berapi-api Sang Rakryan menggelorakan semangat pasukannya.
 
“Pasukan adinda Tumenggung Joyonegoro sudah menyelesaikan pembuatan kapal sore tadi, kini kapal sudah siap kita arungkan ke negeri selatan!”
 
Singoduto lalu memimpin pasukan bergerak ke tengah hutan renteng, menuju telaga.
 
Sesampai di telaga tampaklah sebuah kapal besar nan megah. Kapal yang akan digunakan Singoduto bersama pasukannya membelah hutan dan dataran gunung renteng.
 
Misi mereka adalah membangun bengawan Silugangga yang akan terbentang dari kerajaan Gunung Renteng di kawasan pegunungan kapur utara hingga menembus sugai Widas yang menjadi tapal batas dengan negeri Ngatas Angin di lereng gunung Wilis. Waktu yang diberikan Sang Raja hanya semalam.
 
Sorak sorai pasukan membahana tatkala Kapal Setan (konon itulah nama kapal yang dipakai pasukan kerajaan gunung renteng) perlahan bergerak mengarungi telaga menuju arah selatan.
 
Dengan segala kesaktian dan kedigdayaan, Singoduto benar-benar membuktikan kesanggupannya. Tak butuh waktu lama, bengawan Silugangga sudah membentang dari Gunung Utara hingga keluar hutan. Dan sampailah kapal beserta pasukan di wilayah perkampungan penduduk.
 
“Jangan ada yang bersuara, semua tetap mengeluarkan kesaktian masing-masing, jangan sampai ada seorang pun manusia yang mendengar gerakan ini, apalagi sampai melihat kita” perintah Singoduto.
 
Pasukan terus bekerja, bengawan Silugangga sudah terbentang hingga di sebuah desa bernama Ngangkatan, menembus desa di seberang selatan bernama Mlorah dan ke timur bernama Jentir.
 
Sementara tak jauh dari pergerakan pasukan Singoduto, tersebutlah sebuah kampung kecil bernama desa Jatisari.
 
Waktu masih tengah malam, kabut belum tampak, datangnya fajar pun masih lama. Ketika itu terjagalah dari tidur seorang perawan bernama Roro Nilasari.
 
“Gusti, kenapa malam ini firasatku tidak enak, ada apakah gerangan ?” pikir Roro Nilasari.
 
Ia lalu beranjak dari peraduan, mengintip kearah luar rumahnya melalui celah-celah jendela kamarnya.
 
“Ah, tampaknya hari masih larut malam, tapi mata ini sepertinya sudah enggan untuk kupejamkan lagi” beranjak Roro Nilasari menuju dapur.
 
“Biarlah aku menanak nasi sekalian, agar simbok bisa istrihat lebih lama malam ini, tak perlu bangun pagi-pagi” gumamnya.
 
Lalu dia ambil sebuah Wakul (bakul nasi terbuat dari anyaman bambu, tempat orang-orang Jawa mencuci beras). Kemudian ia mencuci beras dalam wakul dan menyalakan api di tungku dapurnya.
 
Kebiasaan orang-orang jawa kuno, selalu memukul-mukulkan wakul untuk mebersihkan sisa beras yang masih menempel.
 
Begitu pula dengan Roro Nilasari, secara reflek dia memukulkan wakul ke meja dapur. Sontak ayam piaraan simboknya dikandang dekat dapur terbangun. Pelan-pelan terdengar kepakan sayap ayam, lalu berkokoklah seekor Ayam dengan suara nyaring, memecah kesunyian malam.
 
Sontak suara kokok ayam segera disambut bersahut-sahutan oleh ayam-ayam yang lain, yang banyak dipelihara penduduk Jatisari.
 
Seketika itu pula mendadak kapal dari pasukan Singoduto terhenti, bengawan Silugangga yang sudah jauh terbentang pun mengering. Satu per satu prajuritnya menggelepar berjatuhan dan hilang bak ditelan bumi.
 
“Yoh kowe perawan Jatisari, titenono sabdoku … siro ora bakal payu rabi nganti tuwek!
 
“(Wahai engkau gadis desa Jatisari, dengarlah kutukanku .. Tak akan ada pria yang sudi mempersunting dirimu hingga tua!)” dengan segala amarah Singoduto mengutuk ulah Roro Nilasari.
 
Setelah kutukan itu, lenyap pulalah Rakryan Mahapatih Singoduto muksa. Kapalnya ikut muksa, karam dan menghilang tak berbekas. Sementara bengawan yang tadinya sudah terbentang luas berubah menjadi sungai.
 
Kini, sungai Ngangkatan dipercaya masyarakat setempat sebagai Bengawan Silugangga yang gagal. Dan sebuah gumuk (bukit kecil) diseberang utara desa Ngangkatan adalah bekas dari kapal kerajaan renteng yang karam.
 
Uniknya pula sampai sekarang sangat tabu bagi gadis desa Jatisari untuk menikah di usia muda.
 
Apakah ini kutukan Singoduto? Believe it or not?
 
 
#diangkat dari cerita rakyat Rejoso, Kabupaten Nganjuk.
 
Catatan :
Tidak banyak yang tahu dengan legenda ini mungkin.
 
Oh ya, negeri Ngatas Angin saat ini adalah desa Ngetos di daerah lereng gunung Wilis, masuk wilayah Kecamatan Ngetos. Sementara desa Ngangkatan, Jatisari, Jentir dan Mlorah berada di Kecamatan Rejoso.
 
Semua tempat-tempat diatas masuk wilayah  Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
 
Sumber:  http://dloverheruwidayanto.blogspot.com/2016/02/legenda-kapal-yang-hilang.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker