Makanan yang berjenis kerupuk dan terbuat dari kulit kerbau ini biasanya dijual oleh pedagang oleh-oleh. Pedangan ini, menjual lambak dengan kiloan. Selain itu dalam ukuran kantong-kantong kecil, lambak bisa dijumpai di tempat-tempat penjual makanan, seperti penjual empal gentong dan rumah makan.
Bahan-bahan utama :
Kulit dari 1 kerbau
Bahan-bahan bumbu :
Asem ½ kg
Garam 2/3 kg
Cuka 1 botol kecil
Penyedap rasa sapi 3 bungkus kecil
Cara pembuatan :
1. Membuang bulu
Kulit kerbau tadi dibuang bulunya. Namun sebelum melakukanproses ini kulit kerbau harus dipotong menjadi 4. Cara membuang bulu adalah seperti membuang bulu ayam dalam memasak ayam, yakni direndamkan ke air agak panas ½ drum. Dalam merendam kulit kerbau tidak diperkenankan dibiarkan begitu saja tetapi harus sambil diaduk-aduk. Agar bagian yang ada di bawah tidak keras. Setelah itu dikerok dengan menggunakan pisau agar bulunya hilang.
2. Merebus
Empat potog kulit kerbau yang sudah tidak berbulu dipotong-potong untuk kedua kalinya dengan ukuran kira-kira 15 x 25 cm. Setelah itu direbus dengan ½ drum air. Dalam merebus ini potongan-potongan kuli dimasukkan saat air mulai panas (sebelum mendidih) dan direbus hingga tenggelam. Proses merebus berlangsung hingga matang/potongan sudah empuk. Proses ini berlangsung kira-kira 5 – 6 jam. Dalam proses merebus jika air berkurang harus ditambahkan lagi, dalam prinsip kulit yang direbus tetap tenggelam.
3. Menganginkan
Setelah matang atau diangkat dari drum (rebusan), potongan-potongan dianginkan. Penganginan memerlukan waktu semalam.
4. Menjemur
Sebelum dijemur, potongan-potongan kulit masing-masing dipotong kembali, yakni dibagi 3 setelah itu hasil potongan disisir tipis (kira-kira 1,5 mm). Setelah itu dijemur sampai jika diputus bisa pecah. Untuk mencapai kondisi dapat pecah penjemuran memerlukan waktu kira-kira 3 hari.
5. Pemberian bumbu
Semua asam tadi dimasukkan ke dalam air mentah sebanyak 1/6 ember margarin (ember cat besar berwarna putih). Dan dalam air, asem tadi diperas-peras agar air asem keluar dan bercampur dengan air tadi. Setelah asem tinggal ampasnya, ampas tersebut dibuang. Setelah itu masukkan garam, cuka dan penyedap rasa sapi. Dan jangan lupa agar sari asem dan bumbu-bumbu lain tercampur rata dengan air, mulai saat memeras asem hingga setelah semua bumbu dimasukkan, airnya diaduk-aduk.
6. Penjemuran kedua
Setelah melewati proses pemberian bumbu, kulit tadi kembali dijemur. Penjemuran kedua ini dilakukan hingga kering yang memerlukan waktu hingga 1 hari.
7. Menggoreng
Setelah kering potongan-potongan tadi digoreng dengan minyak sawit/minyak sayur. Proses penggorengan dilakukan hingga potongan-potongan itu berwarna merah asem, kira-kira selama 1 jam.
Dalam menggoreng, semua ang digoreng harus tenggelam dalam minyak. Disamping itu saat menggoreng potongan-potongan itu harus diaduk-aduk agar yang di bagian bawah tidak merah. Setelah diangkat diamkan hingga dingin.
8. Menggoreng yang kedua
Dalam kondisi dingin, potongan-potongan tadi kembali digoreng. Berbeda dengan proses menggoreng yang pertama, proses menggoreng yang kedua dilakukan seperti menggoreng kerupuk, yakni menggoreng hingga mekar yang memerlukan waktu 1 menit. Setelah itu lambak siap disajikan.
sumber: Buku “KULINER TRADISIONAL CIREBON : Khasanah Makanan Khas”, Penerbit Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata Kota Cirebon
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...