Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Klenteng Jawa Timur Tulungagung
Klenteng Tjoe Tik Kiong
- 14 Juli 2018

Klenteng Tri Dharma Tjoe Tik Kiong merupakan salah satu situs bersejarah yang berada di Jl WR Supratman 10, Kelurahan Kampungdalem, Kabupaten Tulungagung. Klenteng ini terletak strategis karena terletak tepat di tikungan jalan. Klenteng ini merupakan salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Tulungagung. Klenteng ini merupakan salah satu bangunan yang masih mempertahankan pengaruh arsitektur dari Tiongkok secara jelas.

Nama Klentengnya adalah Tjoe Tik Kiong, terletak di Jalan Wage Rudolf Supratman No. 10 Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung. Jalur bus dari Tulungagung ke arah Surabaya akan melewati klenteng ini, letaknya juga berdekatan dengan hotel yang cukup besar, yakni Hotel Barata.

Awalnya, bangunan klenteng ini masih sederhana. Didirikan tepat di depan Pasar Wage berbentuk menyerupai pendopo. Namun, pada tahun 1865 klenteng tersebut dipindahkan ke sebelah utara dengan menempati lahan yang luasnya sekitar 6.000 m². Pada waktu dipindahkan, bangunan klenteng ini juga belumlah semegah sekarang. Pembangunannya bertahap seiring terkumpulnya dana dari orang-orang Tionghoa yang merantau dan bermukim di Tulungagung.

Kala itu, orang-orang Tionghoa generasi pertama yang menetap di Tulungagung memang berasal dari Tiongkok. Mereka ke Tulungagung guna berdagang melalui Sungai Brantas yang ada di Surabaya kemudian menyusuri hingga sampai bertemu dengan Sungai Ngrowo. Pada saat itu, di daerah Tulungagung Sungai Ngrowo merupakan sungai yang penting sebagai jalan lalu lintas yang menghubungkan daerah sebelah selatan dengan daerah sebelah utara

MAKNA PEMILIHAN WARNA DAN SIMBOL

Warna

Beberapa warna yang dominan dipakai untuk mewakili suatu arti adalah :

1. Merah

Dalam budaya Tionghoa terdapat pemilihan warna merah yang dominan. Merujuk pada api, antusiasme, keberuntungan, kebahagiaan, dan semangat. Ini warna kesukaan orang Tionghoa, makanya warna ini dipakai dalam perayaan-perayaan suka cita seperti pernikahan dan tahun baru. Pernikahan tradisional Tionghoa dianggap menguntungkan untuk pengantin perempuan. Sedangkan pengantin pria melambangkan mengantisipasi kebahagiaan. Akan tetapi, warna ini dilarang sama sekali dalam upacara pengebumian karena melambangkan suka cita. Warna ini juga digunakan untuk hari-hari penting, semisal saja hari atau acara pernikahan, dimana para tamu akan memberikan angpau warna merah atau emas (lambang keberuntungan)

2. Kuning/emas

Warna kuning menghasilkan Yin dan Yang, merupakan pusat dari segala sesuatu. Kuning dianggap warna yang paling indah dan melambangkan netralisasi  kesetiaan, kesungguhan, kesucian dan keberuntungan. Warna kuning sering dipasangkan dengan warna merah dan sebagai ganti warna emas (gold). Dalam masyarakat Tiongkok, jubah naga berwarna  kuning merupakan tempat persembunyian resmi kaisar feodal. Karena juga merupakan simbol dari kekuasaan kekaisaran serta kedaulatan.

3. Hijau

Warna hijau melambangkan kehidupan, perdamaian, vitalitas, kemakmuran, keharmonisan, dan kesehatan. Hijau memiliki konotasi pada kedua budaya, Tiongkok, dan barat. Warna ini muncul dalam ungkapan Tiongkok yang berhubungan dengan pertanian. Tapi juga terkadang memiliki arti konotasi yang negatif : orang murtad.

4. Hitam

Warna hitam melambangkan keagungan, kesetaraan, keadilan dan kesungguhan. Warna hitam diasosiasikan dengan air, netral. Sedikit berbeda dengan budaya Indonesia yang mengartikan hitam sebagai symbol kegelapan atau kesedihan. Contoh penggunaan warna hitam dalam budaya Tiongkok adalah pada symbol Taichi (yin dan yang) menggunakan warna hitam (yin) dan putih (yang).

5. Putih

Sebaliknya, apabila warna merah merupakan lambang kebahagiaan, maka ada warna putih yang melambangkan kesedihan, dimana warna ini digunakan apabila ada seseorang yang meninggal dunia. Angpau yang dibawa para tamu pun berwarna putih.

Simbol

Adapun simbol-simbol dalam klenteng mempunyai makna tersendiri, seperti:

  1. Lilin yaitu sebagai simbol penerangan,
  2. Bunga merupakan simbol kelemahan (karena semakin hari akan semakin layu. Maka sisi praksisnya kita sebagai manusia tidak boleh mempunyai sifat sombong),
  3. Kue (yang mengisyaratkan supaya kita dapat bersatu),
  4. Kura-kura (lambang ini supaya umur kita panjang),
  5. Buah delima yang diartikan dimana seseorang akan punya keturunan yang banyak, serta
  6. Apel yang merupakan simbol selamat.

Perhitungan Fheng Zhu-i mempunyai kaitan erat dengan beberapa cabang ilmu antara lain ilmu psikologi dan etgonomi. Dalam perhitungan Fheng Zhu-I warna kuning mempunyai arti tersendiri dimana meningkatkan fokus seseorang. Adapun arti dari Fheng Zhu-I itu sendiri, yaitu : Fheng merupakan air dan Zhu-i merupakan angin.

Sebelum memasuki bangunan utama klenteng, terdapat sebuah gerbang (shan men) dengan ornamen khas Tiongkok. Hanya saja, ornamen yang ada di atas gerbang tersebut tergolong tidak lazim seperti ornamen yang terdapat pada klenteng-klenteng yang ada di Indonesia. Di bagian atas gerbang pada Klenteng Tjoe Tik Kiong ini terdapat hiasan dua ekor ikan berkepala naga yang saling berhadapan, mengapit  huo zhu  (mutiara bola api milik Sang Buddha). Konon, ikan yang menjadi hiasan di atas gerbang tersebut berkaitan dengan sejarah awal dibangunnya klenteng ini. Karena dulunya lokasi tempat dibangunnya klenteng ini merupakan daerah rawa yang banyak dihuni oleh ikan. Akhirnya, untuk mengenang tempat awal didirikannya klenteng tersebut, digunakanlah ikan sebagai hiasan di Klenteng Tjoe Tik Kiong.

Setelah melewati shan men, pengunjung akan melewati halaman depan klenteng yang cukup luas yang sudah dipasangi paving block. Di halaman depan sebelah kiri terdapat tempat pembakaran kertas (kim lo) berbentuk pagoda. Di depan bangunan utama klenteng terlihat kie kwa, menara tiang bendera berwarna merah yang dulu berfungsi sebagai penunjuk bagi arah nelayan bila sedang melewati rawa-rawa yang begitu luas.

Bangunan utama Klenteng Tjoe Tik Kiong terbagi menjadi 3 ruangan. Ruang pertama yang menempati bagian depan dipergunakan untuk membakar hio. Di situ terdapat banyak lilin dari berbagai ukuran. Seperti bangunan klenteng pada umumnya, pada atap ruangan pertama terdapat beberapa ornamen. Akan tetapi, untuk klenteng ini memiliki ornamen yang berbeda. Di atas atap ruang pertama, terlihat di tengah-tengah ada pagoda yang diiringi oleh dua huo zhu dan dua xing long (naga berjalan). Pada ruang pertama ini terdapat altar untuk persembahyangan kepada Hok Tek Tjeng Sien (Dewi Bumi) dan Ka Lam Ya. Ka Lam Ya adalah salah satu 'malaikat pintu' versi Buddha yang sering digambar (berpakaian perang lengkap dengan membawa kampak sebagai senjatanya) di daun pintu bersama-sama Wie Tho (berpakaian perang dengan membawa gada penakluk iblis), sebagai pelindung bangunan-bangunan suci atau klenteng.

Ruang kedua yang berada di bagian tengah diperuntukkan untuk melakukan sembahyang kepada Kwan She Im Pho sat (Dewi Welas Asih), Kong Tek Cun Ong (Raja Mulia yang memberi berkah berlimpah), dan Co Su Kong (Dewa yang berwajah hitam dari Cadas Air Jernih). Sedangkan, ruang ketiga yang berada di bagian belakang digunakan untuk tempat kebaktian. Di klenteng ini, yang menjadi dewa utama adalah Mak Co Thian Siang Seng Bo. Mak Co Thian Siang Seng Bo merupakan Dewi Laut, penolong para pelaut serta pelindung etnis Tiongkok di wilayah selatan dan imigran di Asia Tenggara.

Pada 1979 klenteng ini mengalami renovasi bangunan dan melakukan peninggian 1 sampai 2 m karena lokasi klenteng sering mengalami kebanjiran. Setelah renovasi selesai maka dilanjutkan dengan pembangunan gedung olahraga bola basket dan gedung olahraga bulutangkis pada Juli 1983.

Klenteng Tjoe Tik Kiong yang merupakan klenteng megah dan besar di Tulungagung, terlihat terpelihara bangunannya. Hal ini tidak terlepas dari peran orang Tionghoa di Tulungagung yang masih peduli akan keberadaan Tempat Ibadah Tri Dharma ini, bahkan di lahan samping klenteng juga dibangun Aula untuk olahraga agar bisa memperkenalkan generasi muda kepada klenteng, sebagai warisan budaya para leluhurnya

Selain sebagai tempat ibadah umat Konghucu, di klenteng ini juga diselenggarakan berbagai kegiatan sosial oleh umat kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung. Seperti melakukan bantuan sosial terhadap rakyat miskin diwilayah sekitar kabupaten Tulungagung yang mengalami bencana banjir, tanah longsor, badai krisis moneter, dan badai kekeringan yang terjadi beberapa tahun silam dengan membagikan sembako, pengiriman air ke wilayah yang dilanda kekeringan.

Setiap tahun saat tahun baru imlek, diadakan pagelaran wayang potehi, yaitu wayang yang berasal dari Tiongkok yang berbentuk seperti boneka yang terbuat dari kain. Cara memainkan wayang tersebut dengan memasukkan tangan ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang. Biasanya, pagelaran wayang potehi diselenggarakan di lapangan klenteng saat tahun baru imlek. Kemudian, pada saat imlek pula, diadakan festival barongsai yang mampu menarik antusiasme pengunjung. Baik dari keturunan Cina, maupun dari masyarakat umum. Tidak ketinggalan pula acara bagi-bagi angpau yang diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Selain dalam segi budaya, klenteng Tjoe Tik Kiong juga aktif dalam menjunjung nilai keberagaman dan toleransi. Misalnya saja saat bulan Ramadan, yang merupakan bulan suci bagi umat Islam, pihak klenteng mengadakan kegiatan bagi-bagi takjil gratis di halaman klenteng. Kemudian, di atas gapura mereka memasang spanduk ucapan selamat hari raya. Begitu pula saat perayaan natal.

#OSKMITB2018

sumber: kekunaan.blogspot.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu