Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Lampung Lampung
Kisah Dua Pangeran
- 23 November 2018

Kisah-Dua-Pangeran-%E2%80%93-Cerita-Rakyat-Lampunggg.jpg

 

Dua pangeran yang sangat mencintai ayahanda mereka. Keduanya tengah menuntut ilmu sebagai bekal untuk kehidupan mereka selanjutnya, termasuk melanjutkan takhta ayahandanya. Setelah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup, kedua pangeran itu pun kembali ke kerajaan. Ketika itu Pangeran Sulung telah mempunyai keterampilan memanah. Ia sangat mahir memanah, bidikan anak panahnya hampir tidak pernah meleset dari sasaran yang ditujunya. Pangeran Bungsu piawai melukis. Lukisan buatan tangannya sangat indah, mirip dengan sesuatu yang menjadi objek lukisannya.

Ketika dua pangeran itu tiba di istana kerajaannya, mereka sangat berduka. Ayahanda mereka ternyata telah wafat. Pemerintahan kerajaan untuk sementara dijalankan oleh Menteri Kerajaan. Sebelum wafat, Sang Raja telah berwasiat agar seluruh harta kekayaannya dibagi menjadi dua untuk kedua anaknya. Satu benda sangat berharga peninggalan Sang Raja, yakni cincin ajaib, akan diberikan kepada salah satu dari dua anaknya itu yang paling mencintainya.

Menteri Kerajaan lantas menjalankan wasiat Sang Raja setelah kedua pangeran itu tiba di istana kerajaan. Harta kekayaan Sang Raja yang banyak itu dibagi dua. Setengah bagian untuk Pangeran Sulung dan setengah bagian lainnya untuk Pangeran Bungsu. Adapun cincin ajaib peninggalan Sang Raja akan diberikan kepada salah satu dari dua pangeran itu melalui ujian berdasarkan kepandaian dan keterampilan mereka.

Ujian pertama untuk kedua anak raja itu adalah memanah burung. Ujian itu dapat dilakukan oleh kedua pangeran itu dengan sangat baik. Masing-masing anak Sang Raja itu dapat memanah tepat pada sasaran yang ditentukan.

Pangeran bungsu kemudian diminta melukis wajah ayahandanya. Sangat mirip lukisan itu dengan wajah mendiang Sang Raja setelah lukisan itu selesai. Menteri Kerajaan lantas meletakkan lukisan tersebut di suatu tempat.

“Silakan Pangeran berdua memanah tepat pada lukisan bola mata lukisan mendiang Baginda Raja itu,” kata Menteri Kerajaan.

Tanpa ragu-ragu Pangeran Sulung langsung mengarahkan anak panahnya pada lukisan bola mata kiri ayahandanya. Mengena tepat bidikan anak panahnya.

Ketika giliran Pangeran Bungsu untuk memanah tiba, Pangeran Bungsu menyatakan tidak sanggup untuk melakukannya. Katanya memberi alasan, “Meski itu hanya wajah Ayahanda, namun aku tidak sanggup untuk memanah gambar bola mata Ayahanda.”

Menteri Kerajaan lantas memutuskan Pangeran Bungsu yang berhak mendapatkan cincin ajaib peninggalan Sang Raja. Pangeran Bungsu dinilai lebih mencintai ayahandanya dibandingkan kakaknya. Pangeran Sulung dapat menerima keputusan Menteri Kerajaan itu.

Tidak berapa lama setelah kedua pangeran itu tinggal kembali di istana kerajaan, mendadak terjadi pemberontakan dan huru-hara besar. Kedua pangeran itu terpaksa harus melarikan diri dari istana kerajaan setelah kekuatan pemberontak dapat menguasai istana kerajaan. Kedua pangeran itu terusir dan sulit bagi mereka kembali lagi ke istana kerajaan. Dalam pelariannya, kedua pangeran itu akhirnya hidup seperti rakyat kebanyakan. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana. Beruntung, harta peninggalan Sang Raja yang banyak itu mereka bawa turut serta dalam pelarian.

Pangeran Sulung kemudian menjadi pedagang dan Pangeran Bungsu menjadi petani. Keduanya rapat-rapat menutup jati diri mereka yang sesungguhnya agar tidak tertangkap kekuatan pemberontak.

Syahdan, kedua pangeran itu teringat pada pesan ayahanda mereka. Ketika itu Sang Raja berpesan, “Jika kalian ingin berhasil dalam kehidupan kalian, maka hendaklah kalian makan lauk-pauk yang kepalanya lebih dari seratus buah jumlahnya. Selain itu, jika kalian berangkat dan pulang dari tempat kerja atau usaha, hendaklah kalian jangan terkena sinar matahari.”

Pesan Sang Raja itu lantas dijalankan kedua pangeran tersebut.

Pangeran Sulung memakan lebih dari seratus ekor kepala hewan yang berbeda-beda jenisnya setiap kali ia makan. Ia memakan masakan kepala kerbau, sapi, kambing, ayam, bebek, dan kepala hewan-hewan lainnya. Ia merasa telah menjalankan pesan ayahandanya. Jalan menuju tempat usahanya juga diberinya atap sehingga ia tidak terkena sinar matahari, baik ketika berangkat maupun pulang. Begitu besar pengeluarannya sehari-hari hingga mengakibatkan ia bangkrut dan akhirnya jatuh miskin.

Berbeda dengan kakaknya, Pangeran Bungsu memakan kepala ikan-ikan teri dengan jumlah lebih dari seratus. Ketika berangkat ke sawah ia melakukannya pada waktu pagi hari sebelum matahari terbit. Ia pulang dari sawah setelah matahari terbenam. Karena sedikit pengeluarannya dan banyak hasil yang didapatkannya, harta miliknya kian bertambah-tambah. Pangeran Bungsu pun menjadi kaya raya.

Pangeran Sulung yang jatuh miskin selalu meminta bantuan adiknya. Mengingat tetap juga besar pengeluarannya karena salah mengartikan pesan ayahandanya, Pangeran Bungsu akhirnya bangkrut dan jatuh miskin pula setelah berusaha menolong kakaknya.

Pada suatu malam Pangeran Bungsu bermimpi. Ayahandanya datang dalam impiannya dan memintanya untuk pergi ke arah matahari terbit dan ia tidak diperbolehkan kembali sebelum berhasil dalam usahanya. Tanpa menunggu waktu lagi, Pangeran Bungsu langsung berangkat menuju arah timur setelah berpamitan kepada kakaknya.

Pangeran Bungsu terus berjalan ke arah timur hingga tibalah ia di sebuah hutan yang terkenal sangat angker. Hutan itu menjadi wilayah kekuasaan Raja Jin. Ketika Pangeran Bungsu memasuki hutan angker, Raja Jin langsung menangkap dan hendak memangsa hatinya. Meski ketakutan, Pangeran Bungsu berujar pada Raja Jin, “Jika engkau hendak memangsaku, maka tunggulah beberapa waktu lagi hingga hatiku membesar.”

Raja Jin menuruti permintaan Pangeran Bungsu. “Baik,” katanya, “Kuberi waktu tiga hari untukmu agar hatimu membesar terlebih dahulu hingga aku dapat memangsanya.”

Pangeran Bungsu dikurung dalam sebuah penjara agar tidak melarikan diri. Selama dalam kurungan itu Pangeran Bungsu terus mencari cara untuk mengalahkan Raja Jin yang gemar memangsa hati manusia itu.

Tiga hari kemudian Raja Jin menagih janji. Ia akan memangsa hati Pangeran Bungsu. Namun Pangeran Bungsu menyatakan jika hatinya belum membesar. “Jika engkau mau,” ujar Pangeran Bungsu kepada Raja Jin, “aku akan mencarikan hati yang lebih besar dibandingkan hatiku. Engkau tentu akan puas untuk menyantapnya.”

Raja Jin sangat gembira mendengar janji Pangeran Bungsu. “Jika engkau dapat membawakan hati yang lebih besar dari hatimu, aku akan memberimu barang-barang berharga milikku.”

Pangeran Bungsu mencari cara untuk melenyapkan Raja Jin yang sangat jahat itu. Didapatkannya cara itu. Ia lalu membuat lem dari umbi tanaman yang ditemukannya di hutan itu. Pangeran Bungsu membuat lem dalam jumlah yang banyak. Dibawanya satu panci lem ketika ia kembali menemui Raja Jin. “Wahai Raja Jin, aku membawakan obat untukmu,” kata Pangeran Bungsu.

“Obat?”

“Benar, Raja Jin,” Pangeran Bungsu menunjukkan panci dan membuka tutupnya. “Ini obat yang dapat membuat tubuhmu menjadi kuat perkasa. Selain itu, obat ini juga membuatmu awet muda lagi panjang umur.”

Raja Jin sangat gembira mendengar penjelasan Pangeran Bungsu. Tanpa ragu-ragu lagi ia langsung mengambil panci berisi lem itu dan langsung menelannya sekaligus. Raja Jin meronta-ronta karena tenggorokannya tersumbat lem. Ia berusaha mengeluarkan kembali lem yang ditelannya, namun tetap lem itu menyumbat tenggorokannya. Tubuhnya limbung dan terjatuhlah ia dengan kepala membentur batu besar. Raja Jin itu pun tewas!

Pangeran Bungsu tidak hanya terbebas dari kekejaman Raja Jin, melainkan juga mendapatkan banyak barang berharga milik Raja Jin. Dibawanya pulang kembali barang-barang berharga itu.

Sepeninggalnya, kakaknya ternyata tidak bekerja dan terus menggunakan harta kekayaan Pangeran Bungsu yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang boros. Akibatnya harta Pangeran Bungsu habis, hingga rumah milik Pangeran Bungsu pun dijualnya. Pangeran Sulung bahkan menjadi pengemis.

Pangeran Bungsu terkejut saat mengetahui rumahnya telah dijual dan kakaknya menjadi pengemis. Dengan harta yang dibawanya, Pangeran Bungsu lantas membeli rumah baru. Dicarinya kakaknya dan diajaknya pulang kembali. Ia memaafkan kesalahan kakaknya. Pangeran Bungsu tetap sayang dengan kakaknya, betapa pun besar kesalahannya terhadapnya. Ia merasa, sebagai saudara hendaknya saling tolong- menolong dan mengingatkan jika saudaranya itu melakukan kesalahan.

Pangeran Sulung menjadi sadar. Ia meniru sikap hemat dan rajin yang dicontohkan adiknya. Keduanya pun akhirnya menjadi orang-orang kaya lagi terpandang di desanya. Keduanya hidup rukun dan berbahagia meski tidak harus tinggal di istana kerajaan dan juga tidak harus menjadi raja pengganti ayahanda mereka.

 

 BERHEMATLAH DALAM KEHIDUPAN KARENA HEMAT ADALAH PANGKAL KAYA DAN BOROS AKAN MENUNTUN KE JURANG KEMISKINAN DAN KEHANCURAN.

 

Sumber: https://dongengceritaanak.com/category/cerita-rakyat/lampung/

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu