Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Barat Sumatera Barat
Kisah Anggun Nan Tongga
- 12 November 2018 - direvisi ke 4 oleh Bangindsoft pada 17 Oktober 2024

Anggun Nan Tongga adalah seorang pemuda tampan dari Kampung Dalam, Pariaman. Ia memiliki gelar Magek Jabang. Ibundanya, Ganto Sani, meninggal dunia tidak lama setelah melahirkan Anggun Nan Tongga sementara ayahandanya pergi bertarak ke Gunung Ledang. Sejak kecil ia diasuh oleh saudara perempuan ibundanya yang bernama Suto Suri. Anggun Nan Tongga kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir bela diri silat, berkuda, dan pandai mengaji Quran serta dalam ilmu agamanya. Semenjak kecil, Anggun Nan Tongga telah dijodohkan dengan Gondan Gondoriah. Ia adalah anak dari saudara laki-laki ibundanya.

Di suatu hari, Anggun Nan Tongga mendengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang, Nangkodoh Baha membuka pertandingan untuk mencari suami bagi adiknya yang bernama Intan Korong. Anggun tertarik dengan pertandingan tersebut dan meminta izin pada Mande Suto Suri untuk mengikutinya. Tentu saja Mande Suto Suri menolak karena Anggun telah bertunangan dengan Gondan Gondoriah. Tapi karena Anggun memaksa, akhirnya Mande Suto Suri mengizinkan.

Maka pergilah Anggun ke Sungai Garinggiang untuk mengikuti pertandingan. Dengan ketangkasan yang dimilikinya, mudah saja bagi Anggun Nan Tongga untuk memenangkan setiap pertandingan. Baik pertandingan bermain catur, menembak, atau menyabung ayam, Anggun dengan mudah memenangkannya. Merasa malu karena dikalahkan oleh Anggun Nan Tongga, Nangkodoh Baha lantas mengejek Anggun karena telah membiarkan ketiga mamaknya (mamak = saudara laki-laki ibu) ditawan oleh bajak laut di pulau Binuang Sati. Anggun Nan Tongga tersentak kaget setelah mengetahui bahwa ketiga mamaknya ditawan bajak laut.

Anggun segera bergegas pulang guna meminta izin pada Mande Suto Suri dan tunangannya Gondan Gondoriah untuk menyelamatkan ketiga mamaknya yaitu: Mangkudun Sati, Nangkodoh Rajo dan Katik Intan. Mande Suto Suri mengizinkan Anggun pergi ke pulau Binuang Sati untuk menyelamatkan mamak-mamaknya. Sedangkan Gondoriah, meminta Nan Tongga membawakan oleh-oleh berupa benda-benda dan hewan-hewan langka sebanyak 120 buah. Beberapa di antaranya adalah seekor burung nuri yang dapat berbicara, beruk yang pandai bermain kecapi, dan kain cindai yang tak basah oleh air.

Segera Anggun Nan Tongga pergi menuju ke pulau Binuang Sati dengan ditemani pembantu setianya Bujang Salamat. Ia berlayar menggunakan kapal bernama Dandang Panjang dengan nahkoda bernama Cik Ameh. Setelah berlayar beberapa lama akhirnya tibalah mereka di pulau Binuang Sati.

Mengetahui kedatangan Anggun Nan Tongga yang ingin menyelamatkan mamak-mamaknya, raja pulau Binuang Sati mengirimkan utusannya menemui Anggun untuk meminta Anggun segera meninggalkan pulau tersebut. Permintaan itu jelas ditolak mentah-mentah oleh Anggun. Maka terjadilah pertempuran sengit. Setelah sekian lama bertempur, Bujang Salamat berhasil membunuh Panglima Bajau. Maka takluklah penguasa pulau Binuang Sati.

Nan Tongga segera mencari mamak-mamaknya. Bertemulah ia dengan salah satu mamaknya, Nagkodoh Rajo, yang dikurung di dalam kandang babi. Nangkodoh menceritakan bahwa kedua mamak Tongga lainnya berhasil meloloskan diri saat terjadi pertempuran di laut melawan anak buah Panglima Bajau. Nangkodoh Rajo juga mengatakan bahwa burung nuri yang pandai berbicara yang dicari oleh Nan Tongga, ada di kota Kuala Kota Tanau.

Mendengar penjelasan Nangkodoh Rajo, Nan Tongga segera mengutus salah satu anak buahnya, Malin Cik Ameh pulang ke Pariaman, untuk menyampaikan pesan bahwa Nangkodoh Rajo sudah dibebaskan. Sementara Nan Tongga sendiri bersama Bujang Salamat, melanjutkan perjalanan menuju Kuala Kota Tanau.

Setibanya di Pariaman, Malin Cik Ameh segera menuju rumah Mande Suto Suri untuk menampaikan pesan Nan Tongga. Namun, saat melihat kecantikan Gondan Gondoriah, tunangan Nan Tongga, ia berubah pikiran. Malin Cik Ameh malah berbohong dengan mengatakan bahwa Nan Tongga ditawan oleh Panglima Bajau dan bahwa Nan Tongga berpesan agar Malin Cik Ameh diangkat menjadi pemimpin di kampung Dalam, Pariaman. Maka jadilah Malin Cik Ameh diangkat menjadi pemimpin di kampung Dalam, Pariaman. Tidak lama kemudian, Malin Cik Ameh mengirim utusan untuk meminang Gondan Gondoriah. Tapi pinangan tersebut ditolak oleh Gondan dengan alasan masih berduka atas ditawannya Nan Tongga.

Sementara itu Anggun Nan Tongga telah tiba di Kuala Kota Tanau, Ia berhasil menemukan mamaknya yang lain. Pamannya tersebut telah menjadi raja di Kota Tanau. Disitu pula Nan tongga melihat seekor burung Nuri yang mampu berbicara. Burung nuri ajaib tersebut ternyata milik putri mamaknya yang bernama Putri Andami Sutan. Nan Tongga mencoba meminta burung nuri tersebut kepada putri Adami Sutan, dan putri Adami Sutan bersedia memberikannya dengan syarat Nan Tongga mau menikahinya. Nan Tongga pun akhirnya menikah dengan Putri Adami Sutan.

Tidak disangka burung nuri ajaib yang sudah menjadi milik Nan Tongga terlepas dari sangkarnya dan terbang ke Pariaman. Si burung Nuri menemui Gondan Gondoriah dan menyampaikan bahwa Nan Tongga telah menikah dengan putri Andami Sutan. Hati Gondan Gondoriah hancur berkeping-keping mendengar kabar tersebut. Ia merasa telah dikhianati Nan Tongga. Sejak saat itu, Gondan Gondariah tidak mau lagi bertemu dengan Anggun Nan Tongga.

Setelah menikah dengan putri Adami Sutan, Nan Tongga merasa gelisah. Ia merasa rindu dengan kampung halaman dan tunangannya Gondan Godoriah. Tidak dapat menahan rasa rindunya, Nan Tongga segera pulang ke kampung halamannya Pariaman, dan meninggalkan istrinya Adami Sutan yang tengah hamil.

Kabar kepulangan Nan Tongga di Pariaman tersebar dengan cepat. Gondan Gondoriah yang mendengar kabar tersebut segera melarikan diri ke Gunung Ledang. Ia sudah tidak sudi bertemu dengan Nan Tongga yang telah menyakiti hatinya. Nan Tongga segera mengejar Gondan Gondoriah dan membujuknya agar segera pulang ke Pariaman. Nan Tongga berjanji akan menikahi Gondan. Akhirnya Gondan hatinya luluh dan bersedia kembali ke Pariaman.

Setibanya di Pariaman, Nan Tongga, Gondan Gondoriah dan Bujang Selamat menemui Tuanku Haji Mudo untuk meminta restu pernikahan mereka. Namun Tuanku Haji Mudi mengatakan bahwa mereka berdua tidak bisa menikah karena masih saudara sepersusuan. Sewaktu bayi, Nan tongga pernah menyusu kepada ibu Gondan Gondariah. Tuanku Haji Mudo mengatakan bahwa mereka berdua hanya bisa berjodoh di akhirat.

Sementara itu di Pariaman, Mande Suto Suri dan orang tua Gondan Gondoriah merasa cemas karena anak mereka belum pulang juga. Akhirnya diutuslah orang untuk mencari keduanya. Setelah mencari kesana kemari tidak ketemu juga akhirnya sang utusan bertemu dengan Bujang Selamat. Bujang mengatakan bahwa Nan Tongga, Gondan Gondoriah dan Tuanku Haji Mudo telah naik ke langit kerena Nan Tongga dan Gondan tidak bisa berjodoh di bumi tapi hanya bisa berjodoh di akhirat.

Sumber: Anggun Nan Tongga

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Call center pinjamflexi
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.

avatar
Pinjamflexi08
Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker