Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Mitos Kepulauan Bangka Belitung Belinyu
Ketiris dan Kelayang #DaftarSB19
- 11 Februari 2019

 

        

              KETIRIS

                DAN

            KELAYANG

                  (CERITA RAKYAT DARI BELINYU)

 

 

 

 

                                                             OLEH:

                                                     SASTRA SASMITA

 

 

 

       

 

 

      

       Alkisah  di utara Pulau  Bangka hiduplah kakak beradik yang telah ditinggal oleh kedua orangtuanya. Sang kakak bernama Kelayang, berusia sekitar dua belas tahun. Wataknya serius tidak banyak bicara. Sedangkan sang adik bernama Ketiris, berusia sekitar sembilan tahun. Renyak (supel) orangnya, periang dan sedikit jahil.

       Kelayang sangat menyayangi adiknya. Ia selalu teringat pesan kedua orangtuanya untuk menjaga Ketiris segenap raga. Meski adiknya terkadang nakal, Kelayang tak pernah marah dan selalu mengalah.

       Kelayang dan Ketiris bukan anak sembarangan. Walau masih anak-anak, mereka sudah dibekali ilmu silat dari sang Bak (ayah). Masing-masing mereka diwariskan senjata keris bernama Sekenyeng Lalet. Keris itu amat ampuh. Jika Sekenyeng Lalet mengenai musuh, walau hanya keluar darah sebesar tubuh binatang lalat, maka musuh itu pasti meregang nyawa. Namun begitu Kelayang dan Ketiris tidak pernah sombong dan memamerkan kesaktian mereka. Keduanya tetap berlaku normal seperti tingkah anak-anak biasanya.

       Â"Lihat Kakak, apa yang ku bawa ini!Â" teriak Ketiris sambil berlari membawa sesuatu. Nafasnya sudah terengah.

       Â"Apa itu, Adikku?Â" tanya Kelayang tersenyum.

       Â"Burung perbak, Kak. Kena ia repas (perangkap) yang kupasang pagi tadi,Â" kata Ketiris bangga.

       Â"Hebat kau, Dik. Sudah masukkan perbak itu ke sangkar. Sekarang kau ikut aku ke sungai memeriksa bubu yang kita pasang kemarin sore. Siapa tahu sudah ada ikan yang masuk ke dalamnya,Â" ajak Kelayang.

       Â"Ayo Kak, siapa tahu kita dapat ikan gabus atau ikan kelik (lele) hitam. Dimasak lempah kuning enak rasanya.Â"

       Â"Ah kau, dipikiranmu hanya makanan terus.. heeÂ"

       Mereka tertawa riang menuju sungai.

       Kelayang dan Ketiris tinggal di sebuah perkampungan sekitar Pantai Menulang. Tempat itu begitu indah dan asri. Bila dilihat dari kejauhan, air laut Pantai Menulang yang jernih ditimpa cahaya matahari laksana hamparan permadani biru kahyangan. Pohon sapu-sapu dan nyiur seakan saling merayu bersama tanaman lainnya di daratan yang subur. Dengan segala kelimpahan itu, para penduduk kampung hidup tenang. Sehari-hari mereka bekerja sebagai petani dan nelayan.

       Namun akhir-akhir ini ketenangan penduduk kampung Pantai Menulang terusik. Keadaan mencekam dan serba ketakutan. Sebab datang gerombolan lanon (bajak laut) dari Pulau Lingga berperahu besar ke tempat mereka. Para lanon itu menculik anak-anak dan perempuan muda, lalu dibawa ke Pulau Lingga untuk dijadikan budak dan dijual ke saudagar-saudagar kaya.

       Sampai suatu hari ketika Kelayang dan Ketiris sedang asyik mencari lokan (sejenis kerang) bersama ibu-ibu muda di sekitar Pantai Menulang. Tiba-tiba datang sembilan perahu  berisi gerombolan lanon.

       Â"Tangkap mereka!Â" teriak Panglima Lanon kepada anak buahnya.

       Para lanon dengan beringas mengejar dan menangkap ibu-ibu muda yang lari kocar-kacir sambil berteriak meminta pertolongan.. Tapi tidak dengan Kelayang dan Ketiris. Mereka bertahan ditempat.

      Â"Ayo, mau kemana kalian..haha,Â" kata salah satu lanon sambil menyeringai. Wajahnya bengis sungguh tak sedap dipandang. Dikiranya kedua anak dihadapannya itu akan ketakutan.

       Ketika lanon itu hendak menangkap Kelayang dan Ketiris, tanpa diduga kedua anak itu  menangkis dan melancarkan pukulan. Tubuh si lanon pun terpelanting.

       Kawanan lanon yang lain menjadi terperangah melihat hal tersebut. Mereka tidak menyangka jika teman mereka yang bertubuh besar bisa ditaklukkan dengan mudah oleh dua anak kecil. Mereka pun menyadari kalau Kelayang dan Ketiris bukan anak sembarangan. Para lanon berhenti mengejar ibu-ibu muda, lalu balik mengerumuni dan mengeroyok Kelayang dan Ketiris.

       Terjadi pertarungan sengit. Dengan ilmu silat yang mereka miliki, Kelayang dan Ketiris pun melakukan perlawanan. Jurus demi jurus mereka lancarkan hingga banyak gerombolan lanon yang jatuh bergelimpangan.

       Dasar bengal, timbul ide nakal di pikiran Ketiris ketika ia tinggal berhadapan langsung dengan Panglima Lanon. Saat Kelayang sedang bertarung melawan beberapa lanon yang tersisa, Ketiris pura-pura mengalah dan jatuh tak sadarkan diri dihantam pukulan. Tubuhnya dibawa Panglima Lanon ke atas perahu.

       Saat selesai bertarung, Kelayang baru menyadari tidak melihat adiknya. Namun terlambat, perahu yang membawa Ketiris dan Panglima Lanon yang melarikan diri telah berada di tengah laut.

       Kelayang pun panik. Ia lalu menangis sejadi-jadinya oleh rasa bersalah tidak mampu menjaga adiknya.

                                                                       ****************

       Sesungguhnya Ketiris pura-pura pingsan hingga dibawa pemimpin lanon oleh karena suatu maksud. Ketiris bosan dengan kehidupannya yang biasa saja di Pantai Menulang. Ia penasaran ingin melihat negeri orang. Disamping tujuan utama adalah mencari sarang lanon yang sering membuat resah kampungnya.

       Perahu yang membawa Ketiris tiba di Pulau Lingga. Pulau itu berada di kawasan perairan Kepulauan Riau yang ramai penduduknya. Sesampai di sana, Panglima Lanon membawa Ketiris ke rumah seorang saudagar kaya untuk dijual.

       Â"Apa yang kau bawa kali ini, Cik?Â" tanya Saudagar.

      Â"Perjalanan rombonganku kali ini sial, Tuan. Aku tidak membawa barang berharga apapun kecuali anak ini,Â" jawab Panglima Lanon sambil menunjuk Ketiris.

       Saudagar melirik Ketiris. Anak itu tampak menarik hatinya. Berwajah tampan dan bertubuh kokoh. Dilihat raut mukanya Ketiris juga memiliki kecerdasan yang diharapkan berguna nanti untuknya.

       Â"Baiklah, aku beli,Â" kata Saudagar lalu melempar sekantung uang logam.

       Panglima Lanon tampak puas kemudian langsung pulang.

       Â"Siapakah namamu, bujang?Â" tanya Saudagar.

       Â"Ketiris, Tuan,Â" jawab Ketiris sambil menggaruk-garukkan rambut kepalanya yang gatal karena belum mandi.

       Â"Baiklah, Ketiris. Mulai hari ini kau jadi budakku dan bekerja di rumah ini. Istirahatlah dulu,Â" titah Saudagar.

       Â"Baik, Tuanku,Â" turut Ketiris lalu mengikuti seorang perempuan tua ke belakang.

                                                             *****************

       Keesokan paginya Ketiris terbangun dari tidurnya begitu mendengar ayam jantan berkokok. Tapi tunggu dulu, ada yang ganjil rasanya. Ketiris memasang telinganya dengan tajam. Terdengar lagi kokok ayam yang aneh itu. Ya, itu bukan suara ayam sebenarnya, tapi suara manusia yang meniru kokok ayam jantan.

       Â"Haha,Â" tawa Ketiris merasa lucu. Â"Sungguh aneh negeri ini. Tak ada seekor ayam kah di tempat ini  sampai-sampai manusia yang berkokok.Â"

      Kembali terdengar Â"kokokÂ" ayam palsu.

       Kali ini muncul niat jahil Ketiris. Tanpa sungkan ia pun ikut meniru suara itu dan mulai berkokok nyaring. Bila terdengar Â"kokokÂ", ia turut balas Â"berkokokÂ".

       Seketika seisi rumah Saudagar heboh. Saudagar buru-buru keluar dari kamarnya dan menemui Ketiris bersama seluruh pembantu.

       Â"Hai jang, apa yang kau lakukan? Tidak sadarkah engkau?Â" tanya Saudagar gusar.

       Ketiris tampak kebingungan.

       Â"Maaf Tuanku, apa salah hamba?Â" Ia balik bertanya. Â"Hamba hanya bermain-main mengikuti suara orang yang meniru kokok ayam jantan.Â"

       Saudagar menatap tajam Ketiris.

       Â"Kau sudah melanggar salah satu pantangan di negeri ini,Â" bilang lelaki setengah baya itu. Â"Suara kokok itu bukan untuk bersenda gurau. Itu hanya boleh dilakukan para panglima lanon untuk membangunkan anak buahnya.Â"

       Benar saja, kekhawatiran Saudagar terbukti. Tidak lama kemudian datang Pemimpin Lanon yang kemarin membawa Ketiris bersama para pasukannya.

       Â"Hoyy, siapa yang tadi sudah berlaku kurang ajar?!?Â' teriak Panglima Lanon dari luar rumah.

       Ketiris dengan berani langsung keluar.

       Â"Aku!Â" jawabnya lantang.

       Mata Panglima Lanon membelalak. Seketika wajahnya memerah pertanda marah.

       Â"Kau..!!!Â" pekiknya. Panglima Lanon hendak mendekati Ketiris, tapi dihadang oleh Saudagar.

       Â"Maafkan budak saya, Cik,Â" tahan Saudagar. Â"Dia masih anak-anak, tak mengerti apa yang diperbuatnya tadi.Â"

       Panglima Lanon menggeram sambil bertolak pinggang.

       Â"Anak itu sudah melanggar pantangan adat di negeri ini. Ia membalas suara kokok-ku, berarti ia menantang dan itu harus diselesaikan dengan pertarungan,Â" kata Panglima Lanon.

       Â"Benar, tapi anak ini masih kecil,Â" kata Saudagar. Tampak ia berpikir sebentar. Â"Bagaimana kalau pertarungan diganti dengan adu sabung ayam? Kalau Pakcik menang silahkan bawa anak ini dan terserah apa yang mau Pakcik perbuat terhadapnya. Tapi kalau Pakcik kalah, silahkan Pakcik pergi dan jangan ganggu lagi anak ini!Â"

      Panglima Lanon setuju.

      Saat matahari mulai terang mereka berkumpul di lapangan sambil membawa ayam jago masing-masing. Saudagar memilihkan Ketiris seekor ayam jantan yang paling bagus. Dalam aturan diperbolehkan menyisipkan sebilah pisau kecil yang diikatkan pada kaki ayam.

       Â"Ketiris, silahkan kau pilih pisau mana yang mau kau gunakan dalam wadah itu,Â" tunjuk Saudagar pada sebuah bekas tempurung kelapa yang berisikan aneka pisau kecil nan tajam.

       Ketiris menggeleng. Â"Hamba tidak mau, Tuan. Aku punya pisau sendiri,Â" tolaknya sambil mengeluarkan sebilah pisau kecil yang sudah berkarat dari dalam sakunya.

       Â"Apa?!?Â" Mata Saudagar terbelalak. Â"Benar-benar saja kau ini,Ketiris. Kau mau membuat aku merugi rupanya,Â" katanya jengkel.

       Namun Ketiris tetap bergeming pada pendiriannya. Ia lalu membawa ayam jagonya ke tengah arena.

       Dan mulailah adu sabung ayam itu. Kedua ayam milik Ketiris dan Panglima Lanon saling menyerang. Para penonton yang menyaksikan pun tampak riuh menyemangati.

       Â"Haha, ayamku bukan sembarang jago, ayamku terbaik dari Malaka,Â" kata Panglima Lanon dengan jumawa.

       Sepertinya ucapan Panglima Lanon itu benar adanya. Ayam miliknya begitu mendominasi pertandingan. Sedangkan ayam milik Ketiris selalu diserang dan tertekan. Semua yang menonton pun mafhum akan hasil akhir. Apalagi isi perut ayam jago Ketiris sudah terburai keluar.

      Tetapi Ketiris tenang-tenang saja. Tak sedikitpun raut cemas terlihat di wajahnya. Ayam jagonya sudah sempoyongan tapi tetap kuat bertahan.

       Hingga terjadilah keanehan. Entah dapat kekuatan dari mana, ayam jago Ketiris mulai balik melakukan perlawanan. Tiba-tiba ayam jago Ketiris langsung menerjang mengenai mata lawannya yang lengah. Tak lama berselang, ayam milik Panglima Lanon jatuh mengelepar dan mati.

       Semua yang menyaksikan terperangah seakan tak percaya. Lalu riuh sambil bertepuk tangan.

       Panglima Lanon tak terima. Ia hendak memukul Ketiris, tapi keburu dihalangi Saudagar.

       Â"Ingat janjimu, Cik!Â" tahan Saudagar.

       Panglima Lanon dan pasukannya pun pulang menahan malu.

                                                                    *******************

       Sejak saat itu Panglima Lanon menjadi dendam kepada Ketiris. Apalagi kabar kekalahannya dari seorang anak kecil yang membuatnya malu sudah tersebar kemana-mana. Timbullah niat jahat Panglima Lanon untuk mencelakai Ketiris.

       Lain hari datang lagi Panglima Lanon dan anak buahnya  ke rumah Saudagar untuk mencari gara-gara. Saudagar pun pucat pasi, sebab ia tahu tabiat gerombolan itu.

       Â"Mau apa lagi kau, Cik?Â" tanya Saudagar. Â"Sudahkah habis perkara kita setelah adu sabung ayam kemarin.Â"

       Â"Bagimu sudah habis, tapi tidak bagiku,Â" jawab Panglima Lanon menyeringai. Â"Anak itu sudah menjatuhkan harga diriku. Sekarang cepat panggil dia!Â"

      Belum sempat Saudagar beranjak, Ketiris sudah keluar sendiri tanpa sedikit pun tersirat rasa takut di wajahnya.

       Â"Kalian mau menangkapku? Silahkan!Â" tantang Ketiris dengan berani.

       Mendengar itu makin murkalah Panglima Lanon. Tanpa diperintah lagi, gerombolan lanon langsung hendak menangkap anak tersebut. Namun dengan ilmu silat yang diwariskan oleh Bak-nya, Ketiris dengan lincah mengelak dan melakukan perlawanan. Dalam waktu tak berapa lama, tubuh para lanon pun jatuh bergelimpangan.

       Saudagar menganga terheran-heran. Seperti kejadian saat adu sabung ayam lalu, kali ini kembali ia dibuat tak percaya oleh ulah anak yang belum lama dibelinya. Makin yakinlah ia kalau Ketiris bukan anak sembarangan.

       Panglima Lanon makin panas dibutakan oleh kemarahan. Dengan kalap ia menyerang Ketiris dan hendak menghabisi nyawa anak tersebut. Oleh karena terdesak, terpaksa Ketiris mengeluarkan Keris Sekanyeng Lalet miliknya dan mengenai tubuh Panglima Lanon. Walhasil hanya dalam hitungan menit, tubuh lelaki kasar itu ambruk ke tanah dan meninggal.

       Oleh karena kejadian ini, seketika gegerlah Pulau Lingga. Nama Ketiris menjadi pembicaraan dimana-mana. Panglima-panglima lanon dari kelompok lain yang penasaran datang silih berganti ke rumah Saudagar untuk membuktikan kebenaran berita. Mereka menantang Ketiris bertarung, namun semuanya bernasib sama. Takluk.

       Saudagar menjadi sayang kepada Ketiris dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Ketika Ketiris berusia remaja, dinikahkanlah ia dengan salah satu putri Saudagar yang cantik  dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Selain meneruskan usaha ayah mertuanya, Ketiris juga diangkat menjadi pemimpin besar oleh para lanon.

                                                                    ***********************

       Kembali kisah ke Pulau Bangka. Sejak kepergian adiknya, berhari-hari Kelayang murung menahan kesedihan. Sudah tak terhitung usaha yang ia lakukan untuk mencari Ketiris, tapi hasilnya nihil.

       Setiap kali ada perahu yang datang dari laut, Kelayang selalu bertanya kepada pemiliknya, Â"Apakah Amang melihat adikku?Â"

       Dan jawaban yang didapat pun selalu sama. Tidak ada.

      Hingga akhirnya berjalan waktu, Kelayang pun pasrah akan nasib adiknya. Makin hari Kelayang makin pendiam. Ia suka menyendiri di kebun dan jarang bergaul dengan penduduk kampung.

       Sementara itu kampung Pantai Menulang kian sepi saja. Untuk menghindari tangkapan para lanon yang makin merajarela, banyak penduduk yang pindah ke tempat-tempat terpencil yang jauh dari laut. Mereka berladang di kaki-kaki bukit dan hutan yang banyak ditumbuhi pohon pelawan.

       Namun keadaan bukan berarti aman. Gerombolan lanon tetap saja mengejar kemana-mana ke segala arah. Bahkan dengan melihat dan menciumi, mohon maaf, kotoran manusia pun para lanon dapat mencari jejak dan menemukan penduduk kampung.

       Bila musim kemarau tiba, itulah saatnya penduduk kampung memanen dan menumbuk padi hasil ladang mereka yang berupa beras merah. Namun kembali mereka khawatir. Suara alu dan lesung yang saling beradu dapat menimbulkan suara nyaring yang terdengar sampai kejauhan. Mereka khawatir keberadaan mereka diketahui oleh para lanon.

       Maka timbullah ide. Para penduduk kampung mencari lubuk-lubuk sungai dan rawa-rawa yang sudah mengering namun masih ada lumpurnya. Disitu mereka membuat cekungan dan meletakkan lesung ke dalam lubuk tersebut dengan maksud meredam suara tumbukan.

       Namun terkadang tetap saja para lanon yang berindera tajam mampu mendengar suara tumbukan dan berhasil menemukan. Penduduk kampung yang kalang kabut pun terpaksa lari meninggalkan lesung dan hasil panen mereka.

       Dan kembali penduduk kampung membawa keluarganya berpindah tempat.

                                                                   ************************

       Enam belas tahun berlalu sejak Ketiris meninggalkan Pantai Menulang.

       Pada suatu malam Ketiris duduk melamun sambil memandang laut di teras depan rumahnya. Tiba-tiba ia merindukan kampung halamannya. Ia terkenang akan kakaknya. Apa kabar Kelayang sekarang? Timbul rasa bersalah pada diri Ketiris mengingat bagaimana ia pergi hingga sampai ke Pulau Lingga. Juga sesal karena tak pernah sekalipun memberi kabar.

       Datang istri Ketiris sambil membawa secangkir kopi hangat.

       Â"Apa yang tengah kau pikirkan, Kanda?Â" tanya perempuan cantik itu.

       Ketiris menghela nafas panjang. Ia pun menceritakan isi hatinya dan mengutarakan niat untuk pulang ke kampung halamannya.

       Â"Besok aku berangkat,Â" tukas Ketiris.

       Istri Ketiris terdiam sejenak lalu mengiyakan. Ia paham betul tabiat suaminya. Bila sudah berbulat tekad maka tak ada yang bisa menghalangi.

       Keesokan harinya Ketiris dan empat puluh anak buahnya berangkat menuju Pulau Bangka. Langit tampak cerah, laut pun tenang. Setelah menempuh seharian, tibalah rombongan Ketiris di Pantai Menulang.

       Namun kampung halaman yang ditemui di hadapan Ketiris hanyalah keadaan sepi. Tak ada seorang manusia pun yang terlihat. Banyak rumah kosong yang sepertinya sudah lama ditinggal penghuninya.

       Â"Kemana gerangan para penduduk kampung?Â" pikir Ketiris. Namun kemudian ia mengerti, ini pasti gara-gara lanon.

       Ketiris mengajak anak buahnya menyusuri daratan. Beberapa lama kemudian dari kejauhan mereka melihat asap dari sebuah pondok kebun. Mereka pun bergegas kesana. Tapi keadaan juga sama, sepi tiada penghuni.

       Melihat tanaman tebu yang banyak tumbuh di kebun itu, para anak buah Ketiris menjadi haus dan ingin memakannya. Ketiris yang mulanya membiarkan tiba-tiba mencegah niat anak buahnya begitu matanya memandang ke arah pintu pondok kebun.

       Â"Jangan!!!Â" teriak Ketiris menahan.

       Â"Kenapa memangnya, Tuanku?Â" tanya salah satu awak terheran.

       Â"Pemilk kebun ini bukan orang orang sembarangan. Tebu-tebu itu sudah dikasih racun. Dia sudah mengetahui kedatangan kita,Â" jawab Ketiris.

       Ya, di atas pintu pondok kebun itu terdapat dua buah tombak yang menyilang. Dan Ketiris langsung yakin bahwa tempat ini adalah kediaman orang yang dicarinya.

       Â"Melihat asap ini, pemilik kebun ini belum lari jauh. Mari kita kejar!Â" perintah Ketiris.

       Mereka bergegas menyusuri jalan setapak melewati kebun, pepohonan dan semak belukar. Hingga akhirnya tibalah mereka di persimpangan jalan dan melihat sosok lelaki.

       Â"Berhenti!!!Â" teriak Ketiris kepada lelaki itu.

       Lelaki itu berhenti lalu berbalik. Melihat rombongan Ketiris, mata lelaki itu tampak memerah menahan amarah.

       Â"Aku tidak pernah mengganggu kalian, para lanon. Tapi kalian telah mengusik ketenanganku,Â" geram lelaki itu. Â"Sekarang terimalah kemarahanku!Â"

       Â"Tunggu..!!Â"

       Belum selesai Ketiris berbicara, lelaki yang sudah terlanjur murka itu langsung melempar tombak ke arah Ketiris yang ia anggap sebagai pemimpin lanon. Tapi tidak mengenai sasaran karena Ketiris dengan lincah mengelak.

       Kembali lelaki itu mengambil tombak dari balik punggungnya dan melempar. Namun sekali lagi luput. Sepertinya ilmu silat yang dimiliki Ketiris makin hebat dan matang. Ringan tubuhnya luwes menghindari senjata lawan. Ada sekitar empat puluh tombak dilempar, namun semuanya gagal.

       Lelaki kampung itu makin geram dan kehabisan kesabaran. Pada akhirnya ia mengeluarkan senjata pamungkas dari balik bajunya dan diacungkan ke udara.

       Â"Wahai Bak-ku, ini pusaka pemberianmu Keris Sekanyeng Lalet. Aku Kelayang tak akan mundur setapak pun dalam melawan lanon yang kejam ini!Â" teriak lelaki itu.

        Mendengar itu seketika raut muka Ketiris berubah. Tanpa sadar menetes air matanya. Tak salah lagi, lelaki dihadapannya itu memang saudara kandung yang dirindukannya.

       Buru-buru Ketiris mengeluarkan keris miliknya. Bersikap sama seperti lelaki tadi. Â"Wahai Bak-ku, ini pusaka pemberianmu Keris Sekanyeng Lalet. Aku Ketiris juga tak akan mundur setapak pun!Â" pekiknya.

       Lelaki kampung yang ternyata Kelayang itu langsung terpengarah. Tangannya gemetaran hingga keris dalam genggamannya terlepas.

       Â"KauÂ...??Â"

       Â"Ya Kak Kelayang, aku Ketiris adikmuÂ...Â"

       Kedua lelaki itu lalu saling berpelukan melepas rindu setelah sekian lama mereka tak bersua. Suasana begitu mengharukan sampai-sampai anak buah Ketiris juga ikut menangis.

       “Aku menyangka kalian ini gerombolan lanon. Kenapa kau tadi tidak melawanku?Â" tanya Kelayang penasaran.

       Ketiris tersenyum. Â"Karena aku melihat tombak yang menyilang di pondok kebun tadi. Aku sudah yakin kalau pemiliknya adalah saudaraku,Â" jawabnya.

       Setelah puas bercengkerama, Ketiris lalu menceritakan kisah pengalamannya di Pulau Lingga hingga ia diangkat menjadi pemimpin besar disana.

       Ketiris lalu menyuruh anak buahnya kembali ke perahu.

       Â"Pulanglah kalian ke Pulau Lingga. Katakan kepada istriku bahwa aku tidak kembali lagi ke sana. Aku ingin menetap disini,Â" pesan Ketiris.

       Seluruh awak mengangguk dan membungkuk hormat. Kemudian mereka pergi.

       Sejak saat itu Ketiris dan Kelayang berkumpul kembali. Bersama mereka mendirikan perkampungan Bait di pesisir Pantai Menulang.

       Adapun peristiwa penduduk kampung yang menumbuk padi secara diam-diam dengan meletakkan lesung di lubuk supaya tidak ketahuan oleh para lanon, menjadi asal mula pemberian nama Dusun Lubuk Lesung yang terletak di Desa Gunung Pelawan, Kecamatan Belinyu.

                                                                                                                   Belinyu, 8 Oktober 2017

 

 

Credits:

Dinas Kearsipan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Sastra Sasmita, S.Pd

 

#DAFTARSB19

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Tradisi MAKA
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Nusa Tenggara Barat

MAKA merupakan salah satu tradisi sakral dalam budaya Bima. Tradisi ini berupa ikrar kesetiaan kepada raja/sultan atau pemimpin, sebagai wujud bahwa ia bersumpah akan melindungi, mengharumkan dan menjaga kehormatan Dou Labo Dana Mbojo (bangsa dan tanah air). Gerakan utamanya adalah mengacungkan keris yang terhunus ke udara sambil mengucapkan sumpah kesetiaan. Berikut adalah teks inti sumpah prajurit Bima: "Tas Rumae… Wadu si ma tapa, wadu di mambi’a. Sura wa’ura londo parenta Sara." "Yang mulia tuanku...Jika batu yang menghadang, batu yang akan pecah, jika perintah pemerintah (atasan) telah dikeluarkan (diturunkan)." Tradisi MAKA dalam Budaya Bima dilakukan dalam dua momen: Saat seorang anak laki-laki selesai menjalani upacara Compo Sampari (ritual upacara kedewasaan anak laki-laki Bima), sebagai simbol bahwa ia siap membela tanah air di berbagai bidang yang digelutinya. Seharusnya dilakukan sendiri oleh si anak, namun tingkat kedewasaan anak zaman dulu dan...

avatar
Aji_permana
Gambar Entri
Wisma Muhammadiyah Ngloji
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Wisma Muhammadiyah Ngloji adalah sebuah bangunan milik organisasi Muhammadiyah yang terletak di Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisma ini menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah di kawasan barat Sleman. Keberadaannya mencerminkan peran aktif Muhammadiyah dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan dakwah dan pendidikan berbasis lokal.

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
SMP Negeri 1 Berbah
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

SMP Negeri 1 Berbah terletak di Tanjung Tirto, Kelurahan Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Gedung ini awalnya merupakan rumah dinas Administratuur Pabrik Gula Tanjung Tirto yang dibangun pada tahun 1923. Selama pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan sebagai rumah dinas mandor tebu. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat kosong dan dikuasai oleh pasukan TNI pada Serangan Umum 1 Maret 1949, tanpa ada yang menempatinya hingga tahun 1951. Sejak tahun 1951, bangunan ini digunakan untuk kegiatan sekolah, dimulai sebagai Sekolah Teknik Negeri Kalasan (STNK) dari tahun 1951 hingga 1952, kemudian berfungsi sebagai STN Kalasan dari tahun 1952 hingga 1969, sebelum akhirnya menjadi SMP Negeri 1 Berbah hingga sekarang. Bangunan SMP N I Berbah menghadap ke arah selatan dan terdiri dari dua bagian utama. Bagian depan bangunan asli, yang sekarang dijadikan kantor, memiliki denah segi enam, sementara bagian belakangnya berbentuk persegi panjang dengan atap limasan. Bangunan asli dib...

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
Pabrik Gula Randugunting
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Pabrik Gula Randugunting menyisakan jejak kejayaan berupa klinik kesehatan. Eks klinik Pabrik Gula Randugunting ini bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya di Kabupaten Sleman melalui SK Bupati Nomor Nomor 79.21/Kep.KDH/A/2021 tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap XXI. Berlokasi di Jalan Tamanmartani-Manisrenggo, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, pabrik ini didirikan oleh K. A. Erven Klaring pada tahun 1870. Pabrik Gula Randugunting berawal dari perkebunan tanaman nila (indigo), namun, pada akhir abad ke-19, harga indigo jatuh karena kalah dengan pewarna kain sintesis. Hal ini menyebabkan perkebunan Randugunting beralih menjadi perkebunan tebu dan menjadi pabrik gula. Tahun 1900, Koloniale Bank mengambil alih aset pabrik dari pemilik sebelumnya yang gagal membayar hutang kepada Koloniale Bank. Abad ke-20, kemunculan klinik atau rumah sakit di lingkungan pabrik gula menjadi fenomena baru dalam sejarah perkembangan rumah sakit...

avatar
Bernadetta Alice Caroline
Gambar Entri
Kompleks Panti Asih Pakem
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Kompleks Panti Asih Pakem yang terletak di Padukuhan Panggeran, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, merupakan kompleks bangunan bersejarah yang dulunya berfungsi sebagai sanatorium. Sanatorium adalah fasilitas kesehatan khusus untuk mengkarantina penderita penyakit paru-paru. Saat ini, kompleks ini dalam kondisi utuh namun kurang terawat dan terkesan terbengkalai. Beberapa bagian bangunan mulai berlumut, meskipun terdapat penambahan teras di bagian depan. Kompleks Panti Asih terdiri dari beberapa komponen bangunan, antara lain: Bangunan Administrasi Paviliun A Paviliun B Paviliun C Ruang Isolasi Bekas rumah dinas dokter Binatu dan dapur Gereja

avatar
Bernadetta Alice Caroline