Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Bengkulu Bengkulu
KISAH ULAR RAKSASA N’DAUNG
- 18 Juli 2018
Dahulu, di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu, hiduplah seorang janda tua dengan tiga anak gadisnya. Dari ketiga anak gadis tersebut, si Bungsulah yang paling rajin membantu ibu mereka bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Ia juga yang harus memasak sepulang dari ladang. 
Sementara itu, kedua kakaknya hanya bermalas-malasan di rumah. Mereka tidak pernah membantu ibu mereka bekerja di ladang. Suatu hari, sang Ibu sakit keras, tidak mau makan dan minum. Melihat kondisi ibunya yang parah itu, cepat-cepatlah si Bungsu memanggil tabib desa. Sang Tabib pun segera memeriksa keadaan perempuan tua itu.
 

  • “Maaf, anak-anakku! Sakit yang diderita ibu kalian sudah sangat parah,” ungkap tabib itu. 
  • “Apakah Ibu kami masih dapat disembuhkan, Tuan Tabib?” tanya si Bungsu dengan cemas. 
  • “Iya, Bungsu. Ibu kalian masih bisa sembuh bila diberi obat khusus,” jawab tabib itu. 
  • “Obat khusus apakah itu, Tuan Tabib?” tanya lagi si Bungsu,
  • “ Barangkali kami dapat mendapatkannya.” 
  • “Ibu kalian hanya bisa disembuhkan dengan ramuan beberapa daun hutan yang dimasak dengan bara gaib,” jelas tabib itu, 
  • “Tapi maaf, saya tidak dapat membantu kalian untuk mendapatkan bara gaib itu.” 
  • “Kenapa, Tuan Tabib?” tanya si Sulung. 
  • “Ketahuilah, bara gaib itu hanya terdapat di gua yang berada di puncak gunung. Namun, gua itu dijaga oleh seekor ular raksasa yang menyeramkan bernama Ular raksasa N’Daung. Ular itu amat ganas dan buas. Ia akan memangsa setiap orang yang mendekati gua itu,” jelas sang Tabib. Mendengar keterangan tabib itu, kedua kakak si Bungsu menjadi ketakutan. 
  • “Iih…, sungguh mengerikan! Aku tidak mau naik ke puncak gunung itu,” kata si Sulung. 
  • “Aku pun tidak berani ke sana. Aku tidak mau mati muda!” sahut kakak si Bungsu yang kedua. 

 
Berbeda dengan kedua kakaknya, si Bungsu justru bertekad ingin ke puncak gunung itu, walaupun ada rasa takut dalam dirinya. Ia akan melakukan itu demi mendapatkan bara api gaib agar ibunya dapat segera sembuh. 
 

“Baiklah, Kakak-kakakku. Jika kalian tidak mau ikut, biarlah saya sendiri yang pergi,” kata si Bungsu. 

 
Setelah memohon restu kepada sang Ibunda tercinta yang sedang terbaring lemas, si Bungsu pun berangkat dengan menyusuri jalan setapak. Jalan menuju ke puncak gunung itu cukup terjal dan berbatu. Meskipun demikian, si Bungsu tetap semangat dan tak kenal lelah. 
 
Setiba di puncak gunung, terlihat oleh si Bungsu sebuah gua yang hampir tertutupi oleh rimbunan dedaunan. Hati hadis itu mulai diselimuti rasa takut karena suasana di sekitarnya sepi mencekam. Namun, karena teringat kepada ibunya yang terbaring lemah, ia pun memberanikan diri untuk mendekati mulut gua itu. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari dalam gua itu. 
 

“Hai, suara apa itu? Apakah suara Ular raksasa N’Daung?” gumam si Bungsu seraya mundur selangkah. 

 
Benar perkiraan si Bungsu. Selang beberapa saat kemudian, Ular raksasa N’Daung itu tiba-tiba muncul di mulut gua. 
 

”Hai, gadis cantik! Siapa kamu dan mau apa kamu kemari?” tanya Ular Raksasa N’Daung.

 
Alangkah terkejutnya si Bungsu karena ular raksasa itu ternyata dapat berbicara layaknya manusia. 
 

  • “Ma… maaf, Tuan Ular Raksasa N’Daung kalau kedatangan saya mengganggu ketenangan Tuan!.” jawab si Bungsu dengan gugup, 
  • “Saya si Bungsu hendak mencari bara gaib untuk mengobati ibu saya yang sedang sakit keras.” Ular Raksasa N’Daung menggeliatkan ekornya lalu berkata kepada si Bungsu. 
  • “Aku akan memberikanmu bara gaib itu, tapi dengan syarat kamu harus menikah denganku,” ujar Ular Raksasa N’Daung. 

 
Mendengar pernyataan Ular Raksasa N’Daung itu, si Bungsu menjadi bingung. Dalam hatinya berkata bahwa dirinya tidak mungkin menikah dengan seekor ular. Namun, demi kesembuhan sang Ibunda tercinta, maka ia akhirnya menyanggupi persyaratan tersebut. 
 

“Baiklah, Tuan Ular Raksasa N’Daung. Saya bersedia menikah dengan Tuan setelah ibu saya sehat kembali,” kata si Bungsu. 

 
Ular Raksasa N’Daung segera masuk ke dalam gua dengan perasaan gembira. Tak lama kemudian, ia pun kembali dengan membawa sebutir bara gaib. 
 

  • “Bawalah bara gaib ini! Semoga penyakit ibumu cepat sembuh,” ujar Ular Raksasa N’Daung seraya menyerahkan bara gaib itu kepada si Bungsu. 
  • “Terima kasih, Tuan Ular Raksasa N’Daung,” ucap si Bungsu seraya berpamitan. 

 
Si Bungsu segera membawa pulang bara gaib itu. Setiba di rumah, ia pun disambut oleh sang Tabib dan kedua kakaknya dengan perasaan heran bercampur gembira. 
 

“Hai, Bungsu! Bagaimana caranya kamu bisa selamat dari Ular Raksasa N’Daung itu?” tanya sang Tabib heran. 

 
Si Bungsu pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya di puncak gunung hingga ia mendapatkan bara gaib itu. Kedua kakaknya yang mendengar cerita itu bukannya prihatin kepada si Bungsu melainkan menyindirnya. 
 

  • “Ah, masa manusia menikah dengan ular?” celetuk si Sulung. 
  • “Sudahlah! Mestinya kalian berterima kasih kepada adikmu yang telah mempertaruhkan dirinya demi memperoleh bara gaib ini,” ujar sang Tabib. 

 
Setelah itu, sang Tabib segera memasak ramuan daun hutan yang telah disiapkan dengan bara gaib. Alhasil, janda tua itu sehat kembali setelah meminum ramuan tersebut. Ia merasa amat bahagia begitu mengetahui bahwa dirinya sembuh berkat pengorbanan si Bungsu.
 

  • “Terima kasih, Bungsu! Engkau memang anak yang pandai berbakti kepada orang tua. Engkau telah mengorbankan segalanya demi kesembuhan Ibu,” puji sang Ibu.
  • “Sudahlah, Bu. Tidak usahlah memuji seperti itu. Yang penting sekarang Ibu sudah kembali sehat,” kata si Bungsu merendahkan diri. 

 
Keesokan harinya, si Bungsu pun berpamitan kepada ibu dan kedua kakaknya untuk kembali ke puncak gunung. Suasana haru pun menyelimuti hati keluarga kecil itu. 
 

  • “Maafkan aku, Bu. Aku harus kembali ke puncak gunung untuk menepati janji pada Ular Raksasa N’Daung. Mohon doa restunya, ya Bu!” pinta si Bungsu. 
  • “Iya, Anakku. Ibu merestui. Tapi, Ibu berharap semoga Ular Raksasa N’Daung itu berubah pikiran,” harap sang Ibu sambil meneteskan air mata. 
  • “Iya, Bu. Bungsu pun berharap begitu. Tapi, kalau tidak, barangkali itu memang sudah menjadi nasib Bungsu harus menikah dengan ular,” kata si Bungsu. 

 
Akhirnya, si Bungsu kembali ke puncak gunung untuk menemui Ular Raksasa N’Daung dan tinggal di gua itu. 
 
Pada malam harinya, si Bungsu dikejutkan oleh sebuah peristiwa ajaib. Ia menyaksikan Ular Raksasa N’Daung berubah wujud menjadi seorang kesatria yang tampan dan gagah perkasa. 
 

  • “Hai, bagaimana hal ini bisa terjadi?” tanya si Bungsu dengan heran, 
  • “Siapa sebenarnya Kanda?” 
  • “Maaf, Dinda. Kanda adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan di negeri ini. Nama saya Pangeran Abdul Rahman Almsjah,” ungkap Ular Raksasa N’Daung yang telah berubah wujud seorang pangeran itu. 

 
Pangeran itu kemudian menceritakan bahwa dirinya disihir menjadi seekor ular oleh pamannya karena menginginkan kedudukannya sebagai calon raja. Ia juga berjanji baru akan menikahi si Bungsu setelah sihir itu sirna dari tubuhnya. 
 

  • “Kelak jika sihir ini telah hilang pada diri Kanda, barulah Kanda akan menikahimu,” kata sang Pangeran, 
  • “Kamu tetaplah tinggal bersamaku di gua ini hingga sihir itu hilang.” 
  • “Baik, Kanda,” kata si Bungsu. 

 
Sementara itu, ibu dan kakak-kakak si Bungsu penasaran ingin mengetahui keadaan si Bungsu. Mereka pun kemudian naik ke puncak gunung dan tiba di sana saat hari sudah gelap. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat suami si Bungsu seorang lelaki tampan dan perkasa. Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa suami si Bungsu adalah seorang pangeran. 
 
Mengetahui hal tersebut, maka timbullah perasaan iri hati pada diri kedua kakak si Bungsu. Mereka pun berniat jahat untuk menfitnah adiknya itu dengan cara membakar kulit Ular Raksasa N’Daung. Dengan begitu, pangeran itu akan murka kepada si Bungsu dan mengusirnya.
 
Saat si Bungsu dan pangeran itu terlelap, kedua kakak si Bungsu segera menjalankan niat jahat mereka. Keduanya diam-diam mencuri kulit Ular Raksasa N’Daung lalu membakarnya. Setelah itu, abu bekas pembakaran itu mereka letakkan di samping si Bungsu lalu kembali tidur. 
 
Ketika hari menjelang pagi, Pangeran Abdul Rahman Alamsjah pun bangun hendak mengenakan kulit ularnya. Alangkah senangnya hati pangeran itu saat melihat kulit ularnya terbakar. Ia pun segera membangunkan si Bungsu. 
 

  • “Dinda, ayo cepat bangun!” seru sang Pangeran. 
  • “Apa yang terjadi, Kanda?” tanya si Bungsu dengan panik. 
  • “Lihatlah, ada orang yang telah membakar kulit ularku,” jawab pangeran itu, 
  • “Apakah Dinda yang melakukannya?” 
  • “Bukan, Kanda,” jawab si Bungsu. 
  • “Ya, syukurlah kalau begitu. Berarti Kanda benar-benar terbebas dari sihir itu,” kata Pangeran Alamsjah dengan gembira, 
  • “Jika ada orang yang membakar kulit ularku secara sukarela, maka sihir yang melekat pada diri Kanda akan sirna,” ungkap Pangeran. 

 
Si Bungsu pun segera menyampaikan berita gembira itu kepada ibu dan kedua kakaknya. Mendengar kabar tersebut, kedua kakaknya merasa amat menyesal dan mengakui bahwa merekalah yang melakukan pembakaran kulit ular itu. Akhirnya, Ular Raksasa N’Daung yang kini telah kembali menjadi pangeran bermaksud memboyong si Bungsu dan keluarganya. Namun, kedua kakaknya menolak ikut serta karena merasa malu dengan perbuatan mereka. Setiba di istana, Pangeran Abdul Rahman Alamsjah segera mengusir pamannya dari istana. Setelah dinobatkan menjadi raja, ia pun menikahi si Bungsu dengan pesta yang amat meriah. Mereka pun hidup berbahagia. 
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/09/kisah-ular-raksasa-ndaung.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum